“TANGGAPAN
SEORANG MARXIS ATAS WAJAH MAHASISWA SEKARANG”
Mahasiswa adalah sebuah elemen
masyarakat yang mempunyai tugas layaknya seorang kritikus atau pemerhati.
Mahasiswa menjadi sebuah garis depan rakyat, menjadi panutan rakyat karena
mereka memang berotak intelektual dan mempunyai opini yang menjadi dasar mereka
untuk bergerak. Tentunya opini-opini tersebut di dasari pada suatu pemikiran
yang telah dikaji sebelumnya. Dalam artian mereka mempunyai pemikiran yang
kritis solutif. Mahasiswa adalah sebuah elemen bangsa yang unik. Mereka
diberikan kebebasan berpendapat, kebebasan mengembangkan ilmunya sesuai dengan
bidang keilmuannya masing-masing, kebebasan untuk bergerak, dan kebebasan untuk
berkreasi. Mahasiswa menjadi faktor penentu sebuah revolusi di tahun 1965
ataupun di tahun 1998. Atau seperti perkataan Plekhanov, seorang Marxis
berkebangsaan Belgia yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah sebuah elemen
revolusioner yang bisa menentukan kemana perginya masa depan rakyat.
Karena jelas fungsi mahasiswa di mata
rakyat Indonesia, maka kita beralih ke pergerakan yang terjadi di UNPAD. Kita
berbicara soal universitas yang telah membawa harum nama bangsa hingga ke dunia
internasional karena prestasi pergerakan dan kretatifitas mahasiswanya dari
awal pembentukannya. Suatu universitas yang di dominasi oleh orang-orang kiri
pada masa jayanya. Beberapa tokoh pergerakan nasional yang berpaham Marxis pun
pernah bercokol di UNPAD, sebut saja Iwa Koesoemantri, Semaun, hingga Mochtar
Kusumaatmaja, yang terakhir adalah Muradi.
Mereka menorehkan prestasi yang luar
biasa dalam kancah perkembangan NKRI hingga ke mata internasional. Mereka
adalah tokoh pergerakan yang menjadi pionir para mahasiswa pergerakan dari
UNPAD. Pada tahun 1998, UNPAD pun menjadi motor pergerakan reformasi Bandung
dengan KAUnya yang melegenda. Organisasi mahasiswa tersebut mampu menjadi
penggerak Aliansi Mahasiswa Bandung untuk mengimbangi pergerakan mahasiswa di
Jakarta, sebut saja FAMRED, FORKOT, dan KAMI. Semuanya adalah organisasi
mahasiswa yang telah menorehkan tinta emas pergerakan mahasiswa nasional.
Kalau kita bandingkan dengan mahasiswa
sekarang ? Saya mengambil batasan sampel untuk mahasiswa di lingkungan UNPAD,
berhubung saya juga angkatan 2014, maka saya akan berbicara mengenai mahasiswa
UNPAD angkatan 2014 pada umumnya.
Hemat kata, menurut penelitian saya
tentang mahasiswa UNPAD angkatan 2014, tahun ini mungkin merupakan transformasi
dari fungsi mahasiswa yang dulu ke fungsi mahasiswa yang lebih modern. Arti
modern disini adalah bahwa mahasiswa UNPAD angkatan 2014 pada umumnya mengalami
westernisasi dan modernisasi secara perlahan. Saya katakan perlahan karena hal
ini bahkan telah berlangsung semenjak mahasiswa di paksa kembali ke kampusnya
pasca peristiwa 1997/1998.
Mereka akhirnya kembali menjalani fungsi
studinya seperti biasa tanpa adanya reaksi yang berarti ketika di paksa untuk
menghadapi tantangan globalisasi politik atau ekonomi yang krusial dan fluktuatif.
Hal ini lumrah terjadi ketika banyak praktek cuci otak yang dilakukan oleh
berbagai pihak, termasuk mahasiswa itu sendiri untuk hanya diam dan mengikuti
segala apa yang ada, biarkan yang bergerak hanya segelintir minoritas yang
sadar akan kebenaran.
Saya pernah menjabarkan dalam suatu
forum diskusi bahwa fungsi mahasiswa itu secara garis besar terdiri dari 3,
yaitu : mengembangkan ilmu, berpikir kritis solutif, dan bertindak akademis
intelektual. Saya akan menjabarkan apa itu fungsi-fungsi mahasiswa tersebut.
1.
Mengembangkan
ilmu adalah salah satu ruh dari mahasiswa, karena mahasiswa adalah kaum civitas
academika yang harusnya menjadi motor penggerak ilmu pengetahuan. Saya
berpendapat bahwa harusnya seorang mahasiswa itu di tuntut untuk mengembangkan
ilmu, bukan di tuntut untuk tunduk kepada ilmu yang sudah ada, dalam artian,
inilah yang membedakan mahasiswa dengan siswa atau pelajar yang masih tunduk
kepada ilmu itu sendiri. Kemampuan seorang mahasiswa yang pertama adalah
terletak pada pengembangan ilmunya, hal ini berarti mahasiswa di minta untuk
bertindak argumentatif dan terus beropini. Fungsi ini harus terus di pupuk
karena kita mengetahui bahwa seorang dosen ketika mengajar di kelas hanya
memberikan 10% teori yang bersifat umum atau secara garis besar. Bagaimana
dengan yang 90%nya lagi ? Hal ini lah yang menuntut mahasiswa untuk mengisi
yang 90% lagi, dengan cara mengembangkan teori dasar tersebut sesuai dengan
argumentasi dan opini mahasiswa masing-masing dengan batasan-batasan ilmu
pengetahuan yang logik. Jika seorang mahasiswa tidak berfungsi demikian, maka
bisa dikatakan bahwa mahasiswa tersebut masih terjebak dalam ruh pelajar atau
siswa.
2.
Berpikir
kritis dan solutif adalah salah satu hal pokok dan paling urgent dimiliki oleh setiap mahasiswa. Jika pada fungsi pertama
kita mengetahui bahwa mahasiswa di tuntut untuk mengembangkan ilmu, maka ilmu
yang kita kembangkan patutnya mendapat kritisi dari sesama kalangan mahasiswa
atau dosen. Selain itu, kritis yang kita dapatkan haruslah mempunyai solusi
agar pengembangan yang kita lakukan bisa bersifat sempurna. Inilah salah satu
fungsi sosialistiknya mahasiswa. Selain digunakan untuk sesama mahasiswa atau
dosen. Fungsi kritis solutif ini juga merupakan tuntutan kepada mahasiswa agar
selalu memerhatikan segala situasi dan kondisi bangsa dan negaranya. Hal inilah
yang masih di pelihara oleh segelintir mahasiswa yang sadar akan kebenaran.
Kehebatan seorang mahasiswa terletak pada kajian kritisnya dan pemikiran
solutifnya sehingga hal ini lah yang membedakan mahasiswa dengan masyarakat
awam yang masih memegang asas spontanitas. Mengapa saya katakan asas
spontanitas ? karena masyarakat awam bertindak, reaksioner, tetapi tanpa ada
pemikiran yang kritis solutif terlebih dahulu.
3.
Bertindak
akademis intelektual merupakan fungsi pokok terakhir mahasiswa. Ini juga yang
membedakan mahasiswa dengan masyarakat awam, mengapa ? Karena setiap tindakan
yang menjadi tanduk mahasiswa merupakan tindakan seorang intelektual, artinya
tidak seperti tindakan masyarakat pada umumnya yang perlu asas spontanitas.
Setiap kajian yang mahasiswa lakukan hendaknya di wujudkan dengan tindakan yang
sifatnya akademis seperti demonstrasi jalan damai atau mendebatkan sesuatu
dengan kepala dingin. Kalau menilik dari contoh tersebut, kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa tindakan akademis intelektual merupakan tindakan yang
menggunakan akal, keilmiahan, dan masih dalam jalur keilmuan dengan
menghilangkan dominasi afektif dalam setiap perwujudannya. Itu artinya
mahasiswa harus berhati-hati dalam setiap memilih tindakan yang benar, hal ini
perlu saya tekankan. Setiap mahasiswa harus bertindak, hendaknya kajian menjadi
suatu dasar utama dari setiap tindakan yang mahasiswa ambil.
Jika kita lihat 3
fungsi tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bagaimana keadaan mahasiswa UNPAD
angkatan 2014. Sebagai mahasiswa, mereka akhirnya tunduk kepada sistem yang
ada, mereka tidak bisa menciptakan suatu kondisi dimana mereka bisa bebas
berargumentatif dengan dasar yang kuat tentunya. Selain itu, mahasiswa tersebut
termakan arus Kapitalisme yang sekarang menjadi Universalisme Kapital.
Akibatnya, sifat individualitas terpelihara di setiap jiwa mereka
masing-masing.
Kalau sudah begini,
maka kita sebagai seorang mahasiswa yang sadar akan menjadi kaum minoritas yang
di musuhi. Apa sikap kita menghadapi hal yang seperti itu ? Cukup wajar, karena
mahasiswa tersebut sedang terpengaruh arus hipnotisme yang merebak akibat
pintarnya otak licik Kapitalisme. Tugas kita adalah meluruskan apa yang
terjadi, memelihara apa yang benar, dan melakukan sosialisasi. Sosialisasi
disini memang agak berdekatan dengan arti kata indoktrinasi yang menjadi kunci
utama dalam hal persuatif. Tetapi patut digaris bawahi, sosialisi dimaksudkan
bukan untuk menjaring massa, tetapi hanya untuk menyadarkan apa yang salah dan
meluruskan hal yang dianggap tidak benar.
Pandangan G.I.
Plekhanov, seorang Marxis Belgia tentang mahasiswa yang revolusioner perlu di
tanamkan dalam diri setiap mahasiswa. Karena jelas tugas pokok mahasiswa adalah
sebagai motor penggerak bangsa. Revolusioner memang harus, tetapi tidak harus
terus di jalur kekerasan. Sebagai mahasiswa, layaknya kita mengkaji setiap hal
yang ada sebelum kita bertindak di luar batas. Jika kita salah dalam mengkaji
sesuatu, maka jatuhlah citra mahasiswa di mata masyarakat.
Mahasiswa UNPAD
angkatan 2014 jelas jauh dari persepsi masyarakat dalam arti fungsi mahasiswa
itu sendiri, bahkan masyarakat sendiri sebenarnya tidak memahami apa arti dari
mahasiswa itu sendiri. Jelas kita harus berpikir matang ketika kita berpendapat
tentang sesuatu.
Dasar atau kajian
merupakan kunci utama seorang mahasiswa dalam menjalankan ketiga fungsi
tersebut. Ini yang perlu di tekankan kepada setiap jiwa mahasiswa yang sudah
lupa akan jati dirinya. Kita gerus Kapitalisme dari dalam, dari memupuknya rasa
Sosialisme dalam diri kita. Itu lah tugas seorang mahasiswa yang revolusioner,
bukan hanya duduk di café menikmati makanan Negara liberalis dan hangout yang
tidak ada gunanya.
(Mahasiswa
Menurut Alvie)
Alvie, 6 Desember 2014
Alvie, 6 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar