Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

6 Desember 2014

WAJAH MAHASISWA UNPAD ANGKATAN 2014



“TANGGAPAN SEORANG MARXIS ATAS WAJAH MAHASISWA SEKARANG”


Mahasiswa adalah sebuah elemen masyarakat yang mempunyai tugas layaknya seorang kritikus atau pemerhati. Mahasiswa menjadi sebuah garis depan rakyat, menjadi panutan rakyat karena mereka memang berotak intelektual dan mempunyai opini yang menjadi dasar mereka untuk bergerak. Tentunya opini-opini tersebut di dasari pada suatu pemikiran yang telah dikaji sebelumnya. Dalam artian mereka mempunyai pemikiran yang kritis solutif. Mahasiswa adalah sebuah elemen bangsa yang unik. Mereka diberikan kebebasan berpendapat, kebebasan mengembangkan ilmunya sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing, kebebasan untuk bergerak, dan kebebasan untuk berkreasi. Mahasiswa menjadi faktor penentu sebuah revolusi di tahun 1965 ataupun di tahun 1998. Atau seperti perkataan Plekhanov, seorang Marxis berkebangsaan Belgia yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah sebuah elemen revolusioner yang bisa menentukan kemana perginya masa depan rakyat.
Karena jelas fungsi mahasiswa di mata rakyat Indonesia, maka kita beralih ke pergerakan yang terjadi di UNPAD. Kita berbicara soal universitas yang telah membawa harum nama bangsa hingga ke dunia internasional karena prestasi pergerakan dan kretatifitas mahasiswanya dari awal pembentukannya. Suatu universitas yang di dominasi oleh orang-orang kiri pada masa jayanya. Beberapa tokoh pergerakan nasional yang berpaham Marxis pun pernah bercokol di UNPAD, sebut saja Iwa Koesoemantri, Semaun, hingga Mochtar Kusumaatmaja, yang terakhir adalah Muradi.
Mereka menorehkan prestasi yang luar biasa dalam kancah perkembangan NKRI hingga ke mata internasional. Mereka adalah tokoh pergerakan yang menjadi pionir para mahasiswa pergerakan dari UNPAD. Pada tahun 1998, UNPAD pun menjadi motor pergerakan reformasi Bandung dengan KAUnya yang melegenda. Organisasi mahasiswa tersebut mampu menjadi penggerak Aliansi Mahasiswa Bandung untuk mengimbangi pergerakan mahasiswa di Jakarta, sebut saja FAMRED, FORKOT, dan KAMI. Semuanya adalah organisasi mahasiswa yang telah menorehkan tinta emas pergerakan mahasiswa nasional.
Kalau kita bandingkan dengan mahasiswa sekarang ? Saya mengambil batasan sampel untuk mahasiswa di lingkungan UNPAD, berhubung saya juga angkatan 2014, maka saya akan berbicara mengenai mahasiswa UNPAD angkatan 2014 pada umumnya.
Hemat kata, menurut penelitian saya tentang mahasiswa UNPAD angkatan 2014, tahun ini mungkin merupakan transformasi dari fungsi mahasiswa yang dulu ke fungsi mahasiswa yang lebih modern. Arti modern disini adalah bahwa mahasiswa UNPAD angkatan 2014 pada umumnya mengalami westernisasi dan modernisasi secara perlahan. Saya katakan perlahan karena hal ini bahkan telah berlangsung semenjak mahasiswa di paksa kembali ke kampusnya pasca peristiwa 1997/1998.
Mereka akhirnya kembali menjalani fungsi studinya seperti biasa tanpa adanya reaksi yang berarti ketika di paksa untuk menghadapi tantangan globalisasi politik atau ekonomi yang krusial dan fluktuatif. Hal ini lumrah terjadi ketika banyak praktek cuci otak yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk mahasiswa itu sendiri untuk hanya diam dan mengikuti segala apa yang ada, biarkan yang bergerak hanya segelintir minoritas yang sadar akan kebenaran.
Saya pernah menjabarkan dalam suatu forum diskusi bahwa fungsi mahasiswa itu secara garis besar terdiri dari 3, yaitu : mengembangkan ilmu, berpikir kritis solutif, dan bertindak akademis intelektual. Saya akan menjabarkan apa itu fungsi-fungsi mahasiswa tersebut.
1.      Mengembangkan ilmu adalah salah satu ruh dari mahasiswa, karena mahasiswa adalah kaum civitas academika yang harusnya menjadi motor penggerak ilmu pengetahuan. Saya berpendapat bahwa harusnya seorang mahasiswa itu di tuntut untuk mengembangkan ilmu, bukan di tuntut untuk tunduk kepada ilmu yang sudah ada, dalam artian, inilah yang membedakan mahasiswa dengan siswa atau pelajar yang masih tunduk kepada ilmu itu sendiri. Kemampuan seorang mahasiswa yang pertama adalah terletak pada pengembangan ilmunya, hal ini berarti mahasiswa di minta untuk bertindak argumentatif dan terus beropini. Fungsi ini harus terus di pupuk karena kita mengetahui bahwa seorang dosen ketika mengajar di kelas hanya memberikan 10% teori yang bersifat umum atau secara garis besar. Bagaimana dengan yang 90%nya lagi ? Hal ini lah yang menuntut mahasiswa untuk mengisi yang 90% lagi, dengan cara mengembangkan teori dasar tersebut sesuai dengan argumentasi dan opini mahasiswa masing-masing dengan batasan-batasan ilmu pengetahuan yang logik. Jika seorang mahasiswa tidak berfungsi demikian, maka bisa dikatakan bahwa mahasiswa tersebut masih terjebak dalam ruh pelajar atau siswa.
2.      Berpikir kritis dan solutif adalah salah satu hal pokok dan paling urgent dimiliki oleh setiap mahasiswa. Jika pada fungsi pertama kita mengetahui bahwa mahasiswa di tuntut untuk mengembangkan ilmu, maka ilmu yang kita kembangkan patutnya mendapat kritisi dari sesama kalangan mahasiswa atau dosen. Selain itu, kritis yang kita dapatkan haruslah mempunyai solusi agar pengembangan yang kita lakukan bisa bersifat sempurna. Inilah salah satu fungsi sosialistiknya mahasiswa. Selain digunakan untuk sesama mahasiswa atau dosen. Fungsi kritis solutif ini juga merupakan tuntutan kepada mahasiswa agar selalu memerhatikan segala situasi dan kondisi bangsa dan negaranya. Hal inilah yang masih di pelihara oleh segelintir mahasiswa yang sadar akan kebenaran. Kehebatan seorang mahasiswa terletak pada kajian kritisnya dan pemikiran solutifnya sehingga hal ini lah yang membedakan mahasiswa dengan masyarakat awam yang masih memegang asas spontanitas. Mengapa saya katakan asas spontanitas ? karena masyarakat awam bertindak, reaksioner, tetapi tanpa ada pemikiran yang kritis solutif terlebih dahulu.
3.      Bertindak akademis intelektual merupakan fungsi pokok terakhir mahasiswa. Ini juga yang membedakan mahasiswa dengan masyarakat awam, mengapa ? Karena setiap tindakan yang menjadi tanduk mahasiswa merupakan tindakan seorang intelektual, artinya tidak seperti tindakan masyarakat pada umumnya yang perlu asas spontanitas. Setiap kajian yang mahasiswa lakukan hendaknya di wujudkan dengan tindakan yang sifatnya akademis seperti demonstrasi jalan damai atau mendebatkan sesuatu dengan kepala dingin. Kalau menilik dari contoh tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tindakan akademis intelektual merupakan tindakan yang menggunakan akal, keilmiahan, dan masih dalam jalur keilmuan dengan menghilangkan dominasi afektif dalam setiap perwujudannya. Itu artinya mahasiswa harus berhati-hati dalam setiap memilih tindakan yang benar, hal ini perlu saya tekankan. Setiap mahasiswa harus bertindak, hendaknya kajian menjadi suatu dasar utama dari setiap tindakan yang mahasiswa ambil.
Jika kita lihat 3 fungsi tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bagaimana keadaan mahasiswa UNPAD angkatan 2014. Sebagai mahasiswa, mereka akhirnya tunduk kepada sistem yang ada, mereka tidak bisa menciptakan suatu kondisi dimana mereka bisa bebas berargumentatif dengan dasar yang kuat tentunya. Selain itu, mahasiswa tersebut termakan arus Kapitalisme yang sekarang menjadi Universalisme Kapital. Akibatnya, sifat individualitas terpelihara di setiap jiwa mereka masing-masing.
Kalau sudah begini, maka kita sebagai seorang mahasiswa yang sadar akan menjadi kaum minoritas yang di musuhi. Apa sikap kita menghadapi hal yang seperti itu ? Cukup wajar, karena mahasiswa tersebut sedang terpengaruh arus hipnotisme yang merebak akibat pintarnya otak licik Kapitalisme. Tugas kita adalah meluruskan apa yang terjadi, memelihara apa yang benar, dan melakukan sosialisasi. Sosialisasi disini memang agak berdekatan dengan arti kata indoktrinasi yang menjadi kunci utama dalam hal persuatif. Tetapi patut digaris bawahi, sosialisi dimaksudkan bukan untuk menjaring massa, tetapi hanya untuk menyadarkan apa yang salah dan meluruskan hal yang dianggap tidak benar.
Pandangan G.I. Plekhanov, seorang Marxis Belgia tentang mahasiswa yang revolusioner perlu di tanamkan dalam diri setiap mahasiswa. Karena jelas tugas pokok mahasiswa adalah sebagai motor penggerak bangsa. Revolusioner memang harus, tetapi tidak harus terus di jalur kekerasan. Sebagai mahasiswa, layaknya kita mengkaji setiap hal yang ada sebelum kita bertindak di luar batas. Jika kita salah dalam mengkaji sesuatu, maka jatuhlah citra mahasiswa di mata masyarakat.
Mahasiswa UNPAD angkatan 2014 jelas jauh dari persepsi masyarakat dalam arti fungsi mahasiswa itu sendiri, bahkan masyarakat sendiri sebenarnya tidak memahami apa arti dari mahasiswa itu sendiri. Jelas kita harus berpikir matang ketika kita berpendapat tentang sesuatu.
Dasar atau kajian merupakan kunci utama seorang mahasiswa dalam menjalankan ketiga fungsi tersebut. Ini yang perlu di tekankan kepada setiap jiwa mahasiswa yang sudah lupa akan jati dirinya. Kita gerus Kapitalisme dari dalam, dari memupuknya rasa Sosialisme dalam diri kita. Itu lah tugas seorang mahasiswa yang revolusioner, bukan hanya duduk di café menikmati makanan Negara liberalis dan hangout yang tidak ada gunanya.
                                                                                     (Mahasiswa Menurut Alvie)
                                                                                     Alvie, 6 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar