BLACK DEATH, RENNAISSANCE, DAN FILSAFAT
“Ketidakpuasan Manusia Dengan Agama”
Abad
kegelapan (abad 5 – 15 M) merupakan sebuah zaman dimana manusia patuh pada
hukum dogmatis agama. Selain itu, catatan yang di tinggalkan pada masa ini
sangat sedikit sekali, bahkan hanya sedikit orang yang mau menulis pada masa
ini karena adanya penguasaan agama terhadap ilmu pengetahuan yang menyebabkan
semua aspek kehidupan termasuk penulisan harus patuh terhadap hukum agama atau
gereja.
Pada masa
abad kegelapan, agama menguasai semua sektor kehidupan hingga tak ada satupun
kegiatan manusia yang tidak melalui perizinan agama, bahkan pengangkatan
seorang raja saja harus melalui kepausan di Vatikan. Pada masa ini, Feodalisme
mulai merebak di Eropa, ketika kekuasaan raja dan agama sangat absolut. Semua
yang berbau irrasionalitas selalu di legalkan, berbeda dengan ilmu pengetahuan
yang dikekang hingga datangnya suatu masa yang disebut dengan Renaissance dan
Aufklarung.
Pada masa
abad kegelapan, terdapat suatu peristiwa yang paling dahsyat menimpa dunia,
terutama Eropa yaitu Black Death.
Peristiwa Black Death adalah peristiwa wabah pandemi hitam yang menyerang Eropa
melalui 3 penyebaran yaitu Pes, Pneumonia, dan Septicemic. Wabah ini
diperkirakan memakan korban jiwa 75 juta hingga 200 juta manusia. Terjadi
penurunan populasi manusia yang sangat signifikan di Eropa, Timur Tengah, dan
Asia Timur. Bahkan di beberapa daerah seperti Italia, kehilangan 80%
populasinya.
Pada masa
itu, para dokter tidak bisa berbuat apa – apa dan para biarawan yang secara
nyata merupakan wakil daripada gereja juga hanya diam, para ahli agama menyebut
wabah ini dengan Amarah Tuhan
sehingga manusia hanya bisa pasrah dan akhirnya tewas satu per satu. Kematian
terbesar diperkirakan terjadi pada abad 14.
Black Death dan Sikap Masyarakat Terhadap Agama
Wabah Black
Death membawa pengaruh besar terhadap masyarakat, terutama dalam sikap
sosialnya terhadap agama dan pemerintahan. Hal ini membangkitkan semangat para
ilmuwan untuk bangkit dari era keterpurukan akibat pengaruh agama dan
pemerintahan yang kuat. Rene Descartes (1596 – 1650) dianggap sebagai salah
satu pemikir pertama yang menentang gereja secara halus dengan teori
keraguannya. Rasionalitas dalam pemikirannya sedikit demi sedikit mengikis
doktrin agama yang bersifat irrasional. Pemikirannya membawa pengaruh kepada
orang dan sikapnya terhadap Black Death, orang mulai percaya bahwa Black Death
bukanlah sebuah Amarah Tuhan, tetapi lebih kepada kegiatan masyarakat perkotaan
yang jauh dari prinsip kesehatan, seperti sistem sanitasi yang buruk dan
perilaku masyarakat yang tidak sehat.
Selain Rene
Descartes, juga muncul beberapa filsuf dan ilmuwan lainnya yang mengilhami
pergerakan Renaissance dan Aufklarung seperti Copernicus dan Galileo Galilei
yang keduanya secara nyata di tentang oleh gereja.
Bukti
Empirisme ilmu pengetahuan yang dibawa oleh mereka semakin membuka mata
masyarakat pada saat itu. Masyarakat mulai percaya bahwa segala yang terjadi
adalah melalui pengalaman, pengamatan, dan keilmiahan. Dengan begitu, semua
peristiwa selalu ada sebab dan akibatnya yang bersifat rasional. Hal inilah
yang mendasari masyarakat untuk menelusuri pengobatan Black Death yang menjadi
wabah terus menerus hingga Edward Jenner menemukan vaksin cacar yang dianggap
sebagai salah satu penemuan terpenting dalam bidang kesehatan.
Selain itu,
bukti – bukti rasionalitas yang dibawa oleh para ilmuwan dan filsuf pada masa
itu membuat kekuasaan absolut gereja mulai berkurang, banyak masyarakat yang
mulai meninggalkan gereja dan menjadi seorang Humanis ataupun Atheis. Tetapi
beberapa orang mulai berpikir untuk mereformasi doktrin gereja yang kelewatan
seperti Martin Luther dan John Calvin dengan reformasi Protestannya.
Orang yang
dianggap mengurangi kekuasaan politik Vatikan pada saat itu absolut ialah
Niccolo Machiavelli (1469 – 1527), seorang politikus yang berasal dari
Florence, Italia. Pemikirannya yang disebut Machiavellisme mempengaruhi situasi
politik pada masa itu di Italia Utara, bukunya yang terkenal yaitu Il Principe atau dalam balam Bahasa
Inggris bernama The Prince
mengantarkan para pemikir ke tingkat yang paling tinggi lagi. Menurut dia,
politik harus dicapai dengan cara apapun. Beberapa pemikirannya membuat
kekuasaan doktrin gereja terhadap politik di Eropa semakin berkurang intensitasnya.
Banyak orang sadar akan pengaruh gereja yang sudah tidak lagi efektif
diterapkan dalam aspek kehidupan manusia.
Semua
ilmuwan di atas banyak di salahkan oleh pihak gereja sebagai tukang bid’ah
membuat mereka di buru dan dibunuh. Ajarannya banyak di tentang dan dibakar
begitu saja. Tetapi hal itu tidak menyurutkan para pemikir lain untuk bertindak
mengembangkan ilmu pengetahuan.
Kembali
lagi ke Black Death, ketika para gerejawan dan agamawan menyerukan kepada para
pengikutnya untuk menyembuhkan penyakit tersebut dengan do’a, rupanya banyak
yang berdo’a malah terus tewas bergelimpangan. Faktor ini juga yang akhirnya
menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap agama. Berbagai pihak menyadari
bahwa penyebab dan metode penyakit tersebut harus dicari dengan aspek keilmuan
dan keilmiahan bukan dengan do’a.
Para
ilmuwan kedokteran membuktikan bahwa penyebab penyakit itu adalah bakteri yang
bernama Yersinia Pestis yang
ditularkan melalui tikus dan lalat. Penemuan bakteri tersebut di dasari pada
penemuan mikroskop oleh Hans Janssen dan Zacharias Janssen, mikroskop tersebut
disempurnakan oleh Galileo Galilei. Mikroskop yang dibuat oleh Galileo Galilei
bernama Mikroskop Optik.
Setelah
penemuan penyakit tersebut, masyarakat benar – benar mencapai ke tingkat Humanisme.
Humanisme adalah pergerakan filsafat yang berkembang di era Aufklarung.
Pelopornya adalah beberapa ilmuwan dan para pemikir terkenal seperti Voltaire,
Erasmus, dan beberapa filsuf klasik Jerman.
Humanisme, Aufklarung, dan Ketidakpuasan Masyarakat Terhadap
Agama
Humanisme
sebenarnya telah berkembang sejak masa Socrates dan Plato. Jika kita berkaca
pada filsuf Yunani dan Romawi Kuno, maka Humanisme merupakan istilah umum untuk
sebuah filsafat yang menyatakan kesempurnaan manusia. Humanisme menjadi sebuah
filsafat etika yang bebas dari pemikiran keagamaan dan dekat dengan pemikiran
Idealis serta Epistomologi.
Dalam
filsafat Humanisme menyebutkan bahwa manusia mempunyai kesempurnaan jiwa dan
akal sehingga tiada satupun hal yang tidak bisa dijawab manusia. Walaupun
begitu, terdapat filsafat Humanisme Religi yang berpendapat bahwa martabat dan
keluhuran manusia ditetapkan oleh agama, tetapi filsafat ini tidak berkembang.
Humanis garis keras yang sekular lah yang berkembang. Dalam filsafat Humanisme
Sekular menyatakan bahwa martabat, keluhuran serta kemungkinan hal yang
diciptakan oleh manusia bebas dari ketentuan apapun dan tidak dibatasi oleh
kebudayaan dan keagamaan.
Humanisme
telah membawa masyarakat hingga ke tingkat yang menghilangkan kepercayaan terhadap
gereja. Humanisme berkembang pesat pada zaman Aufklarung atau biasa disebut
dengan zaman pencerahan. Pada masa ini, semua filsuf bersandar pada Humanisme
dan semua Humanis bersandar pada filsafat dan pengetahuan Yunani dan Romawi
Kuno. Semua orang berpikir berdasarkan pemikiran Socrates, Phytagoras, Plato,
hingga Thales. Hingga pada masa ini disebut dengan masa kebangkitan filsafat
Romawi dan Yunani Kuno, dan penurunan intensitas filsafat keagamaan.
Pemikiran
mereka lebih kepada Idealisme dan Materialisme daripada ke Theologi ataupun
Mistisme sehingga masyarakat pada masa ini hanya bersandar pada realitas dan
rasionalitas suatu kejadian, daripada harus bersandar pada keagamaan yang tidak
masuk akal. Pada masa ini, gereja benar – benar jatuh dan masyarakat diliputi
oleh masa pencerahan dan keagungan manusia yang bisa di produksi terus menerus
dengan artian bahwa ilmu pengetahuan benar – benar berkembang luas di berbagai
bidang.
Jika
berkaca pada wabah Black Death yang terjadi pada abad kegelapan, maka masyarakat
pada masa ini hanya percaya pada empirisme dan keilmiahan ilmu pengetahuan
dibanding percaya dengan do’a – do’a dan takhayul kitab suci kegerejaan yang
telah membuat manusia tewas bergelimpangan lewat penyakit. Hingga saat ini,
penyakit Black Death telah diketahui penyebabnya dan para ilmuwan masih
berusaha mengurangi intensitas penyakit tersebut dengan penemuan vaksin –
vaksin yang mendukung kesehatan seperti yang telah ditemukan oleh Alexander
Fleming, Louis Pasteur, dan Edward Jenner.
Humanisme
telah membawa manusia ke tahap yang lebih agung lagi, sehingga tidak heran
masyarakat dan ilmu pengetahuan benar – benar menjadi hal yang tidak dapat
dipisahkan. Puncaknya pada Revolusi Perancis yang terjadi pada tahun 1789 –
1799. Ketika kekuasaan agama dan raja di tumbangkan oleh para kaum pengusaha
dan para budak. Revolusi Perancis adalah penanda bahwa kekuasaan agama tidak
bisa lagi dimasukkan pada politik sehingga politik dan agama berlainan
tempatnya.
Setelah
Revolusi Perancis, ilmu pengetahuan dan filsafat mulai menjalar hingga ke
berbagai aspek kehidupan, penemuan vaksin – vaksin penyakit, penyebab penyakit
dan pengobatan – pengobatan yang di temukan oleh para ilmuwan juga mengurangi
intensitas Black Death secara keseluruhan. Sehingga wabah Black Death benar –
benar musnah pada abad 19 ketika wabah – wabah kecil antar kota di Eropa tidak
lagi terdengar.
Semua
adalah berkat keterbukaan para ilmuwan yang bersedia mati digantung oleh gereja
sebagai akibat penyebaran ilmu pengetahuan yang dianggap bid’ah oleh agama.
Maka seluruh jenis – jenis penyakit Black Death telah hilang dan masa
Aufklarung dan masa setelahnya telah membawa tingkat pengetahuan manusia lebih
tinggi lagi. Pada masa itu, Filsafat Materialisme dan Idealisme dianggap
sebagai filsafat yang paling berpengaruh bagi kehidupan masyarakat.
Pengaruh Filsafat Yunani dan Romawi Kuno di Masa
Aufklarung dan Kaitannya dengan Black Death
Filsafat
Yunani dan Romawi Kuno dianggap mempunyai andil yang cukup besar untuk
mengakhiri masa Abad Kegelapan di Eropa. Kedua jenis filsafat tersebut
berkembang pada masa Renaissance dengan tokoh – tokohnya yaitu Rene Descartes,
Machiavelli, Voltaire, Montesqiue, hingga ke para tokoh seperti Kant, David
Hume, Spinoza, dan Nietzche.
Beberapa
tokoh filsuf Yunani Kuno seperti Thales, Cicero, Phytagoras, Socrates, dan
Plato memiliki pemikiran yang jenisnya hampir sama yaitu Idealisme dan
Humanisme. Pemikiran mereka berpusat pada jiwa dan akal manusia sebagai
intensitas tertinggi dari alam semesta sehingga Tuhan adalah representasi dari
akal manusia itu sendiri.
Berbeda
dengan Idealisme, Aristoteles, Anaxigoras, Xenophanes, Demokritus, dan Zeno
merupakan tokoh filsuf Yunani Kuno yang memiliki persamaan yaitu menyatakan
bahwa materi dan anasir – anasir merupakan wujud tertinggi alam semesta, bahkan
jiwa adalah representasi dari materi – materi tersebut sehingga Tuhan adalah
wujud dari kesempurnaan materi.
Kedua
filsafat ini dikatakan sangat berpengaruh bagi perkembangan agama, ekonomi, dan
sosial masyarakat pada akhir abad kegelapan. Terutama muncul karena adanya
ketidakpuasan masyarakat terhadap doktrin agama yang akhirnya runtuh karena
adanya Black Death.
Orang –
orang mulai membuka kembali filsafat – filsafat kuno tersebut sehingga orang
mulai menjadi Idealis dan Materialis, daripada menjadi Agamais. Masyarakat
percaya bahwa kedua bentuk ilmu pengetahuan filsafat tersebut lebih menjamin
kehidupan masyarakat daripada agama. Runtuhnya doktrin agama sebagai akibat
dari Black Death dan bangkitnya ilmu pengetahuan sebagai akibat dari penemuan –
penemuan krusial yang mengubah arah jalannya masyarakat sebagai titik transisi
dari pemikiran manusia terhadap alam semesta dan segala peristiwanya.
Filsafat
Romawi dan Yunani Kuno membuka jalan ke arah berkembangnya filsafat dan ilmu
pengetahuan setelahnya sehingga tak heran pada masa ini banyak bermunculan para
ilmuwan dan filsuf yang mempengaruhi jalannya aktivitas sosial kemasyarakatan.
Selanjutnya keagamaan hanya menjadi suatu otoritas lemah yang tidak berpengaruh
apa – apa terhadap pemikiran manusia. Orang mulai mencari obat ke took obat,
bukan meminta do’a lagi kepada para pastor ataupun pendeta yang tiada gunanya
sama sekali. Orang mulai berpikiran rasionil dalam menyikapi setiap peristiwa.
Hal ini sebagai akibat dari pengaruh bangkitnya kembali filsafat dan
pengetahuan Yunani dan Romawi Kuno.
Black Death
yang menjadi salah satu peristiwa pandemi paling mematikan dalam sejarah
manusia menjadi suatu pelajaran tersendiri bagi manusia. Manusia mulai berpikir
bahwa setiap peristiwa harus ada sebab akibatnya yang rasionil, untuk mencari
sebab dan akibat tersebut maka manusia mengembangkan teori – teori yang empiris
melalui pengamatan dan hipotesa yang sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan,
bukan sesuai dengan keagamaan.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Setelah
masa Black Death
Jika kita
membaca uraian di atas, maka kita akan lihat bahwa perkembangan ilmu
pengetahuan dan filsafat setelah ditemukannya penyebab dan akibat dari suatu
peristiwa seperti Black Death mencapai masa emasnya. Orang banyak berlomba
untuk menciptakan suatu unsur ilmu pengetahuan baru dengan pendekatan metode
ilmiah sehingga pada masa abad 17 hingga abad 19, ketika Humanisme berkembang,
maka manusia dengan segala keagungannya mulai mencari sesuatu hal yang baru dan
terus tanpa berhenti memperbaharui ilmu pengetahuan yang ada.
Revolusi
Industri Inggris (1750 – 1850) menjadi titik tolak perkembangan ilmu
pengetahuan modern. Mesin – mesin mekanik mulai bermunculan dan menciptakan
kelas – kelas antara kelas pekerja dan kelas pemilik modal. Akibat dari
revolusi tersebut, filsafat Materialis dan Idealis mulai mencari solusi atas
kejadian sosial masyarakat yang ada akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan
tersebut.
Sebut saja,
Spinoza, Nietszche, Hegel, hingga Marx merupakan segelintir orang yang mencari
solusi setiap masalah sosial ekonomi yang melanda masyarakat melalui metode
pendekatan filsafat, bukan keagamaan.
Untuk
memandang agama pun bukan dalam artian yang sempit lagi, jika kita harus
berefleksi pada Black Death dan abad kegelapan, maka kita sebagai manusia
bukanlah sebagai budak – budak dari keagamaan lagi, melainkan lebih kepada
memahami agama dengan pendekatan rasionil sehingga orang – orang tidak lagi
terdoktrin dengan agama dan menelan mentah – mentah ajaran agama tetapi orang –
orang akan melakukan penelitian lebih mendalam tentang ajaran keagamaan
tersebut.
Jika kita
melihat kebenaran terhadap ajaran agama tersebut, maka bukan tidak tabu untuk
mengikutinya, sebaliknya pendekatan irrasional hanya dilakukan jika itu sudah
berurusan dengan Tuhan, suatu bentuk kesempurnaan zat yang tidak dapat
dijangkau oleh akal manusia. Maka agama tidak lagi menjadi suatu doktrin bagi
kehidupan sosial masyarakat, tetapi lebih kepada doktrin pribadi yang diberikan
Tuhan terhadap hambanya. Bukan tidak mungkin Feodalitas dalam keagamaan akan
menghilang secara perlahan sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan
yang semakin pesat, tetapi bukan berarti ilmu pengetahuan dapat menghapus
keagamaan karena pendekatan Metafisika dan irrasional dianggap perlu untuk
mengkaji hal – hal yang di luar penalaran dan indrawi kemanusiaan
(Opini Tentang Black Death dan Perkembangan Pengetahuan Manusia)
(Alvie, 20 Desember 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar