Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

23 Desember 2015

KRITIK KRITIS

KRITIK FRONTAL

Persoalan kritik menjadi biang dari beberapa peristiwa besar. Misalnya ialah kritik Marx terhadap Kapitalisme, kritik Reagen terhadap Stalin, atau bahkan kritik mahasiswa terhadap pemerintah. Beberapa dari kritik yg kritis bahkan mampu menjadi arah penentu masa depan dari pertentangan manusia. Inilah mengapa kritik Marx menjadi pegangan bagi kaum Komunis sedunia, kritik Syafi'i terhadap Syi'ah Rafidah juga menjadi sumber fiqh yg absah. Lain lagi dengan persoalan kritik Ibn Rusyd terhadap Al Ghazali. Tetapi inti dari semuanya bermuara pada satu kesimpulan yg cukup Darwinis, yaitu "siapa yg kuat bertahan, ia yg memegang kendali". Inilah mengapa kebenaran yg pada mulanya terasing juga akan bermuara pada kemenangan.

Tetapi persoalan dari catatan ini bukanlah kausalitas kritik, namun sifat dari kritik itu sendiri. Jika boleh mengambil dari perspektif yg empiris, kritik yg frontal selalu menang pada akhirnya jika ia di dukung dengan analisa yg baik, namun nasib buruk dapat menimpa kepada yg empunya kritik ketika ia masih saja terasing dalam hal mempertahankan pendapatnya. Tan Malaka adalah seorang pengkritik sejati dan ia tetap terasing hingga mati, tetapi ajarannya hidup hingga kini. Persoalannya, kritik Tan Malaka adalah salah satu contoh bagaimana penyampaian kritik frontal itu. Efek kritik frontal sangat jelas membunuh si pengkritik. Tetapi ada kasus lain ketika Marx yg mempunyai posisi yg sama dengan Tan Malaka akhirnya selamat dari terjangan pihak kontra. Hal itu dikarenakan ia mengambil zona aman, yaitu Liga Buruh Internasional. Bukan hanya itu, alat pertahanan kritik Marx ialah bahwa pada mulanya ia sudah merupakan orang mampu mempengaruhi secara propaganda melalui beberapa orang seperti Moses Hess. Kehadiran Engels menjadi faktor penentu keberhasilan kritik Marx juga.

Contoh diatas menyiratkan satu hal, kritik frontal sangat membunuh si pengkritik ketika ia sebelumnya tidak mempunyai pengaruh. Adapun yg empunya pengaruh, ia belum tentu bisa menjaga konsistensi pemikiran dari orang" yg mengikuti dirinya. Tan Malaka mempunyai Persatuan Perjuangan tepat 2 tahun sebelum ia mati, namun konsistensi akibat kuatnya pengaruh kontra akhirnya memudar. Jika sudsh begini masalahnya, maka kita perlu mengambil perspektif kontra.

Kita patut apresiasi karya Lenin "Komunisme Sayap Kiri : Suatu Penyakit Kekanak-kanakan". Dalam karya tersebut kita mendapati suatu pelajaran secara tersirat, yaitu bahwa yg terpenting ketika kita belum mempunyai pengaruh, kita harus menciptakan pengaruh dari pihak kontra dengan memanipulasi dirinya menjadi pihak kontra. Ini bukanlah taktik spionase, melainkan taktik faksi. Artinya, kita membentuk faksi dalam pihak kontra yg bisa membawa kita menciptakan massa yg mendukung kritik kita pada selanjutnya. Itulah mengapa kritik yg frontal (sesuai dengan terminologinya) dipakai pada saat kita beragitasi, bukan dalam propaganda.

Sedangkan - dalam propaganda - kita menjalankan suatu bentuk kritik yg mempunyai inti yg sangat halus. Semua sifat kritik kita tingkatkan sesuai lompatan dialektika nantinya. Kuantitatif akan berubah menjadi kualitatif ketika kondisi material telah mendukung. Orang yg bijak ialah bukanlah orang yg menyampaikan kritik karena ia merasa lebih tahu, tetapi karena ia merasa bahwa sesuatu yg kita kritik "perlu kita analisa bersama".

Tentunya hal ini juga pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW setelah ia mendapatkan wahyu. Ia melaksanakan dakwah secara diam-diam, disinilah ia berperan sebagai propagandais. Lalu ia melakukan dakwah secara terang-terangan setelah cukup mendapatkan pengaruh, disinilah pada akhirnya ia menjalankan kritik yg cukup frontal. Sedangkan pengaruh yg telah ia dapatkan pada akhirnya menjadi pembela utama dari kritik beliau. Inilah bentuk kritik yg paling sempurna yg pernah dijalankan oleh manusia.

Kesimpulannya, kritik frontal adalah biang dari suatu peristiwa sejarah. Jika kita menganalisa hal tersebut secara MDH, maka kita dapati bahwa suatu peristiwa sejarah terjadi karena pertentangan antar kelas. Dan pertentangan itu terjadi karena adanya kritik yg kritis dan frontal. Semoga kita bijak menggunakan bahasa yg tepat dalam mengkritik seseorang. Dan yg terakhir tidak afdhal kalau kita tidak mengutip salah satu asas dari sains bahwa :

"suatu ilmu dikatakan berhasil ketika ia telah mengalami penyangkalan teoritis dengan analisa model yg mendalam " (asas kritik dalam ilmu pengetahuan)


Alvie, 8 Agustus 2015

SAREKAT ISLAM SEMARANG DIBAWAH KEPEMIMPINAN SEMAUN

SAREKAT ISLAM SEMARANG DIBAWAH KEPEMIMPINAN SEMAUN


SEMAUN DAN SEDIKIT MENGENAI SAREKAT ISLAM

Semaun, nama tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu pendiri aliran Komunisme pribumi di Indonesia. Karena dari tangannya lah, Komunisme di Indonesia berkembang begitu pesat hingga keruntuhannya di tahun 1965. Semaun bersama Darsono, pertama kali memimpin Sarekat Islam seksi Semarang tahun 1917. Berkat kepiawaiannya, Sarekat Islam Semarang menjadi organisasi revolusioner pertama yang beranggotakan pribumi di Indonesia disamping ISDV.

Tetapi Semaun tidaklah sendiri, Sneevliet adalah orang yang pertama kali menyebarkan paham Komunisme di Indonesia bersama para bekas anggota SDAP dari Belanda. Selain, itu terdapat Adolf Baars yang merupakan seorang jurnalis yang pandai bahasa Jawa dan Indonesia. Pada 1917, Baars menjadi pionir dalam terbitnya koran sosialis pertama berbahasa Indonesia yang bertajuk Soeara Merdika. Maret 1918, Baars juga menerbitkan Soeara Ra’jat yang kelak menjadi jurnal teori PKI[1].

Semaun adalah seorang putra pegawai kereta api rendahan yang lahir di Surabaya. Ia menjadi murid Cokroaminoto di Surabaya dan bahkan menjadi salah seorang anggota awal Sarekat Islam yang bergabung pada 1914 (pada saat itu ia baru berusia 15 tahun) dan segera menjadi Sekretaris Cabang SI Surabaya. Ia menjadi salah satu agitator buruh pertama di Indonesia. Pada 1915, atas ajakan Sneevliet, ia bergabung dengan ISDV dan segera menjadi wakil ketua cabang Surabaya. Pada 1916, ia menjadi juru bicara ISDV pada kongres SI pertama. Ia menganjurkan agar SI membentuk aliansi dengan ISDV, namun pimpinan sidang memotong pembicaraan Semaun setelah ia berpidato hanya lima menit[2].

Segera setelah kongres tersebut, Semaun pindah dari Surabaya ke Semarang karena adanya pemindahan pekerjaan. 6 Mei 1917, ia menjadi Ketua SI cabang Semarang menggantikan Muhammad Jusuf. Soe Hok Gie dan Ruth Mcvey agaknya berbeda pandangan soal umur Semaun pada kala itu. Soe Hok Gie berpendapat bahwa umur Semaun pada saat menjadi ketua SI cabang Semarang adalah sembilan belas tahun[3], sedangkan menurut keterangan Ruth Mcvey, pada 1916, Semaun baru berumur 17 tahun[4]. Keduanya mendapatkan sumber yang sama yaitu sumber wawancara lisan dengan Semaun. Namun, kita – sebagai seorang sejarawan – pada akhirnya harus mengambil sintesis dari kedua pandangan tersebut dengan merujuk pada banyaknya sumber yang diambil oleh Ruth Mcvey selain sumber wawancara lisan, maka kita lebih setuju dengan pendapat Ruth Mcvey dalam hal ini.

Sedangkan, Sarekat Islam adalah sebuah organisasi massa yang pada mulanya merupakan sarekat dagang yang dibentuk pada akhir 1911 oleh Samanhudi dengan nama Sarekat Dagang Islam (selanjutnya disingkat SDI) di Surakarta. Tujuan awal dari SDI adalah untuk melindungi pengusaha batik Jawa dari persaingan pedagang Cina yang meningkat. Namun pada 1912, HOS Cokroaminoto mengambil alih organisasi dan merombak SDI dengan membuang kata “Dagang” sehingga menjadi Sarekat Islam. SI pada awalnya bertujuan meningkatkan taraf hidup dan perekonomian Indonesia secara umum. Pusat kegiatan SI pun pindah ke Surabaya dam pada awal 1913, SI memperoleh banyak pendukung dari seluruh Jawa[5].

Dari kelas pedagang perkotaan, SI mulai menyebarkan pengaruhnya secara cepat pada kaum yang lebih miskin di perkotaan dan kemudian juga mendapat pengaruh luas pula dari daerah pedalaman. Cokroaminoto sendiri pada akhirnya dianggap sebagai sosok Ratu Adil yang diramalkan secara tradisional sebagai pemimpin yang dibutuhkan rakyat. Ekspansi tersebut pada akhirnya memunculkan kekhawatiran dari pemerintah sehingga pemerintah – dibawah perintah Gubernur Jenderal Idenburg – menerapkan kebijakan bahwa para pemimpin SI tidak diizinkan membangun organisasi terpusat yang menunjukkan tanggungjawab keorganisasian dan finansial. SI lokal tetap boleh melakukan kegiatan otonom dan pimpinan pusat hanya berfungsi sebagai penghubung hingga nanti mereka dapat membuktikan mampu memegang tanggungjawab dan kontrol seluruh organisasi[6]. Selanjutnya, kebijakan Idenburg tersebut akan menuntun SI Semarang menjadi lebih radikal lagi karena kebijakan tersebut membuat ISDV dengan mudahnya berafiliasi dengan SI Semarang dibawah kepemimpinan Semaun.

PENGARUH SOSIALISME PERTAMA DALAM SI SEMARANG

Indische Sociaal Democratische Vereniging (atau ISDV) adalah organisasi sosialis pertama yang banyak menanamkan pengaruh Sosialisme ke tubuh SI Semarang, terutama melalui tangan Semaun dan Darsono. ISDV didirikan di Semarang pada Mei 1914 atas prakarsa Sneevliet, P. Bergsma, H.W. Dekker, dan J.A. Brandsteder. Sneevliet kemudian memberikan pengaruh yang sangat besar bagi Semaun sehingga sebelum ia pindah ke Semarang, Semaun menjadi sangat radikal pemikirannya, terlebih lagi ia adalah seorang anggota VSTP (Vereniging van Spoor en Tram Personeel). VSTP sendiri merupakan salah satu organisasi buruh pertama yang didirikan pada 1908 di Semarang. Selain VSTP, SS-Bond merupakan organisasi buruh paling pertama yang berdiri pada 1905 dan dipimpin oleh para pegawai berkebangsaan Belanda[7].

Semaun yang menggantikan kepemimpinan Muhammad Jusuf pada akhirnya mengubah wajah SI Semarang menjadi lebih bersifat proletariat. Pada mulanya SI Semarang diisi oleh kaum pedagang dan pegawai rendahan. Semenjak Semaun memimpin SI Semarang, transformasi keanggotaan mulai terjadi dengan masuknya unsur buruh dan tani ke dalam organisasi tersebut. Tendensi SI Semarang yang tadinya moderat akhirnya berubah cenderung menjadi sosialistik. Menurut Soe Hok Gie, terdapat empat faktor yang mengakibatkan SI Semarang menjadi revolusioner dan mendapat masa yang sangat banyak (tentunya selain faktor naiknya Semaun menjadi ketua SI Semarang) yaitu persoalan kemiskinan yang dialami masyarakat desa, pembakaran rumah-rumah rakyat akibat wabah pes yang menyebar di perkotaan, penolakan terhadap Indie Weerbaar[8] serta Volksraad[9], dan pengadilan Sneevliet[10].

Keempat faktor tersebut pada akhirnya membuat SI Semarang mempunyai anggota sebanyak – kurang lebih – 20.000 orang pada 1917. Kepemimpinan Semaun juga pada akhirnya membawa SI Semarang menjadi organisasi yang revolusioner. SI Semarang – dengan kepemimpinan Semaun – keras mengkritik Indie Weerbaar. Selain itu, mereka juga mengkritik CSI karena para pemimpinnya mendukung Indie Weerbaar dengan mengirim Abdul Muis sebagai delegasi untuk dukungan tersebut. Mereka juga berani mengkritik Volksraad sebagai badan yang diciptakan Pemerintah untuk menekan pergerakan massa. Di sisi lain, SI Semarang mengorganisir sarekat buruh VSTP dan juga mengusahakan dibentuknya vaksentral[11] namun gagal.

Kecenderungan revolusioner tersebut serta kedekatan SI Semarang dengan kelas buruh dan tani cukup untuk membuktikan bahwa unsur Sosialisme Revolusioner telah merasuki tubuh SI Semarang. Kedekatannya dengan ISDV juga banyak mempengaruhi SI Semarang sehingga tidak heran kalau SI Semarang pada selanjutnya menjadi aktor intelektual dibalik banyaknya pemogokan buruh bersama SI Surakarta dan SI Yogyakarta. Bahkan dalam usaha propagandanya, Semaun berhasil menguasai pers Sinar Hindia yang kemudian berganti nama menjadi Sinar Djawa dan bahkan menjadi pemimpin redaksi pers tersebut. Redaktur pers tersebut diisi oleh Muhammad Jusuf, Alimin (SI Batavia), Kadarisman, Aloei, dan Notowijoyo[12].

Tidak hanya SI Semarang, unsur Sosialisme juga mempengaruhi beberapa tokoh SI lainnya di berbagai cabang seperti Alimin dan Musso dari Batavia, Marco Kartodikromo dan Haji Misbach dari Surakarta serta beberapa tokoh lainnya dari berbagai kota. Bahkan Sarekat Islam secara keseluruhan mulai cenderung bergerak ke kiri sejak kongres CSI 1917. Usul Semaun dengan menolak Kapitalisme Asing sebagai salah satu asas SI diterima karena adanya kekecewaan SI itu sendiri terhadap pemerintah dalam mengurus indie weerbaar dan juga tidak diterimanya berbagai usul dalam volksraad.

AKSI-AKSI SAREKAT ISLAM SEMARANG 1917 – 1920

Catatan-catatan mengenai aksi yang dilakukan Sarekat Islam Semarang sebagian besar terangkum dalam skripsi Soe Hok Gie yang berjudul Dibawah Lentera Merah. Namun, ada baiknya kita mengulas apa saja yang dilakukan Sarekat Islam Semarang selama periode kepemimpinan Semaun. Ruth Mcvey juga mengulas secara lengkap tentang bagaimana Sarekat Islam secara keseluruhan melakukan aksi selama periode 1917 hingga tahun 1920. Kita hanya membatasi hanya dalam masa periode tersebut karena diluar dari periode tersebut, Sarekat Islam Semarang telah beralih fungsi menjadi ruang bagi pergerakan rakyat yang diorganisir oleh Perserikatan Komunis Hindia yang dipimpin oleh Semaun pula pada masa awalnya.

Kongres Nasional Sarekat Islam kedua yang dilaksanakan pada 20-27 Oktober 1917 di Batavia dihadiri oleh utusan dari seluruh cabang Sarekat Islam di Indonesia. Kongres tersebut begitu penting karena menjadi awal dari condongnya Sarekat Islam ke kiri. Semaun dan kawan-kawannya yang mewakili SI Semarang mengajukan bahwa SI harus melawan Indie Weerbaar namun dapat penentangan dari Abdul Muis. Muis juga menolak soal konsep Semaun yang mau bekerjasama dengan ISDV yang dituduhnya sebagai orang Belanda yang munafik. Namun, konsep mengenai Kapitalisme pada akhirnya diterima sebagai salah satu asas dasar SI dengan perkataan memerangi Kapitalisme yang jahat[13]. Tendensi yang condong ke kiri ini bahkan diakui oleh Abdul Muis dalam korannya Kaoem Moeda yang terbit pada 29 Oktober 1917. Abdul Muis menyebutkan bahwa “Sarekat Islam sekarang sudah bernada sosialis”.

Setelah kongres tersebut, Semaun dan kawan-kawannya mulai mengorganisir buruh agar lebih militan. Pemogokan-pemogokan pun dilancarkan sebagai salah satu aksi kaum buruh untuk melawan penindasan borjuasi pada kala itu. Aksi pertama yaitu Sarekat Islam melakukan pemogokan untuk menuntut kepada sebuah perusahaan mebel setelah mereka memecat 15 buruh. Tuntutan tersebut ialah diantaranya pengurangan jam kerja dari 8,5 jam menjadi 8 jam, gaji buruh dibayar penuh selama mogok, dan setiap yang dipecat wajib diberi pesangon sebanyak upah 3 bulan[14]. Dalam waktu lima hari, pemogokan tersebut membawa dampak yang luar biasa, majikan pada akhirnya menerima tuntutan SI dan pemogokan pun berhenti.

Tidak hanya itu, SI Semarang juga melakukan perjuangan melawan tuan-tuan tanah yang memeras penduduk desa di tanah-tanah partikelir[15]. Perjuangan untuk menasionalisasi tanah bisa dikatakan berhasil namun karena adanya aksi sepihak dari kaum tani membuat perjuangan tersebut bisa dikatakan gagal[16]. Aksi nasionalisasi tanah tersebut menjadi catatan hitam bagi SI Semarang sehingga semenjak itu, SI Semarang tidak lagi melakukan usaha-usaha konkret untuk itu.

SI Semarang juga secara aktif menentang Indie Weerbaar serta Volksraad melalui tulisan-tulisan yang dimuat dalam koran harian mereka yaitu Sinar Djawa. Bahkan, SI Semarang bersama ISDV aktif mengkritik Abdul Muis yang dianggapnya sebagai “Boedak Setan Oeang”. SI Semarang atas nama 20.000 anggotanya meminta agar Abdul Muis dipecat dari posisinya sebagai wakil presiden CSI.

Perjuangan SI Semarang dalam membela kaum buruh sebagian besar mengalami keberhasilan. Tetapi sebagian dari perjuangan tersebut juga ada yang mengalami kegagalan. Contoh kegagalan tersebut ialah saat SI Semarang menangani kasus pemogokan yang terjadi disebuah perusahan percetakan yang bernama Niuwe Courant. Dari April hingga bulan Juni 1918, pemogokan berlangsung dan memakan dana banyak, majikan berhasil bertahan dengan tidak memenuhi tuntutan dari SI sehingga pemogokan tersebut dianggap sebagai kekalahan moril bagi SI itu sendiri[17].

Perjuangan-perjuangan tersebut pada akhirnya membuat setiap sidang-sidang CSI selalu menghasilkan keputusan revolusioner karena didukung oleh sebagian besar cabang SI lokal. Tokoh SI Semarang menyadari hal tersebut sehingga secara intensif, SI Semarang mengadakan kursus-kursus kader untuk kemudian disebarluaskan ke kota-kota lainnya. Kursus-kursus tersebut menghasilkan sesuatu yang positif sehingga terlihat bahwa semakin banyaknya SI lokal yang mendukung ide-ide Sosialisme Revolusioner.

September 1918, Sarekat Islam kembali mengadakan sidang yang dihadiri oleh para pengurus sentral serta komisaris daerah. Tujuan sidang tersebut adalah membahas memburuknya situasi politik serta harga-harga yang mulai membumbung tinggi. Tidak hanya permasalahan tersebut, SI juga membahas soal tekanan pemerintah kepada tokoh-tokoh pergerakan yang semakin berat. Sidang tersebut dihadiri oleh 10 orang yaitu Cokroaminoto, Semaun, Sukirno, Sosrokardono, anggota yang tidak dapat datang diantaranya: Abdul Muis, Hasan Djajadiningrat, Muhammad Jusuf, M. H. Nizam Zoeny, Moh. Arif, Wignjadisastra, dan Brotosoehardjo. Selain itu terdapat wakil Medan yang tidak sempat diundang serta K.H. Ahmad Dahlan tak memberi kabar[18]. Sidang tersebut menjadi begitu penting mengingat bahwa hasil dari sidang tersebut ialah persoalan Tionghoa yang tidak lagi dipersoalkan, penentangan terhadap Kapitalisme “yang berdosa”, penolakan terhadap Indie Weerbaar, dan penilaian terhadap sikap pemerintah yang dinilai lebih mementingkan tebu daripada rakyat. Selain keputusan-keputusan tersebut, hal yang paling mengejutkan adalah ditunjuknya Sneevliet sebagai wakil SI di Belanda.

Sarekat Islam kembali mengadakan kongresnya kembali pada Oktober 1919 di Surabaya. Selama kongres tersebut, ISDV membagikan sebuah pamflet yang berisi seruan kepada perjuangan kelas. Dalam pamflet tersebut, ISDV menyatakan bahwa tugas SI adalah membangun organisasi agar proletariat Hindia dapat membebaskan dirinya sendiri[19]. Kongres tersebut merupakan salah satu kongres terpenting karena terlihat adanya pergeseran dasar prinsip Sarekat Islam dari religius menuju ke sosialis sekuler. Pergeseran tersebut terlihat ketika para pemimpin SI membuat sebuah federasi buruh pertama di Indonesia pada 25 Desember 1919. Federasi tersebut beranggotakan 22 serikat buruh (kebanyakan dari serikat tersebut dipengaruhi oleh SI Semarang) dan 72.000 anggota buruh yang dipimpin oleh Suryopranoto[20]. Federasi tersebut bernama Persatuan Pergerakan Kaum Buruh atau PPKB.

Selain pergerakan Sarekat Islam yang lebih bercirikan sosialis sekuler sejak SI Semarang turut campur tangan dalam setiap pergerakannya, ada kejadian menarik dari pihak ISDV. Sejak dibentuknya Komintern pada 1919 di Rusia, maka label sosial demokrat sering diidentikkan dengan Internasionale II. Dengan cepat, berbagai organisasi komunis di berbagai negara merubah namanya menjadi Partai Komunis tak terkecuali dengan Indonesia. Pada 23 Mei 1920, atas saran Alimin dan penguatan saran dari Semaun, ISDV merubah namanya menjadi Perserikatan Komunis Hindia. Semaun terpilih menjadi ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, dan Dekker menjadi bendahara. Nama Perserikatan Komunis Hindia kemudian berubah menjadi Partai Komunis Indonesia.

Partai Komunis Indonesia menjadi partai komunis pertama yang berdiri di Asia di luar perbatasan Rusia. Kelak, partai tersebut menjadi partai komunis terbesar ketiga setelah Partai Kun Chan Tang dari Cina dan Partai Komunis Uni Soviet. Pergerakan PKI selanjutnya mempengaruhi pergerakan Sarekat Islam dan menjadi pemicu pertama pertentangan antara Sarekat Islam yang dipengaruhi cabang Semarang dengan Sarekat Islam yang tidak dipengaruhi cabang Semarang. Sejak berdirinya PKI, Sarekat Islam cabang Semarang mengorganisir cabang SI lokal yang mempunyai paham sosialis untuk selanjutnya memisahkan diri dari SI. Dengan demikian periode kepemimpinan Semaun di SI Semarang berakhir sejak 1920.




[1] Ruth Mcvey. op.cit. Hal. 26.
[2] Ibid hal. 29.
[3] Soe Hok Gie. op.cit. Hal. 6.
[4] Ruth Mcvey. op.cit. Hal. 32.
[5] Ibid hal. 12, untuk keterangan lengkap mengenai SI, lihat Robert Van Niel, The Emergence of The Modern Indonesian Elite hal. 89 – 95.
[6] Ibid hal. 18 – 19. Untuk keterangan lebih lengkap mengenai kebijakan Idenburg, lihat Bescheieden Betreffende de Vereniging ‘Sarekat Islam’, (Pemerintahan Hindia Belanda, 1913) hal. 60 – 77.
[7] Dipa Nusantara Aidit. Sejarah Gerakan Buruh Indonesia. (Jakarta: Yayasan Pembaruan, ___). hal. 37.
[8] Indie Weerbaar merupakan suatu kebijakan Pemerintahan Hindia Belanda yang menuntut agar rakyat pribumi dipersenjatai dengan maksud membendung musuh-musuh dari luar, terutama Jepang, lihat Soe Hok Gie, op.cit. hal. 11.
[9] Volksraad merupakan sebuah dewan bentukan Pemerintahan Hindia Belanda yang bertujuan untuk menampung aspirasi rakyat (namun pada kenyataannya tidak berguna) yang anggotanya berasal dari kalangan orang Eropa dan pribumi.
[10] Pada Februari 1917, Sneevliet menulis artikel Zeegepral tentang kemenangan revolusi Februari Rusia dalam surat kabar De Indier. Karena artikel tersebut, Sneevliet diadili pada November 1917. Pengadilan tersebut dikenal sebagai Persdelict Sneevliet. lihat Sinar Djawa penerbitan 21 Oktober sampai 7 Desember 1917.
[11] Vaksentral merupakan suatu bentuk federasi sarekat buruh pusat yang berusaha dibentuk oleh Semaun sebagai bentuk persatuan seluruh sarekat buruh di Jawa, namun usaha tersebut gagal karena yang mengirimkan wakil hanya VSTP. lihat Aidit, op.cit. hal. 40.
[12] Soe Hok Gie. op.cit. hal. 18.
[13] Ibid hal. 28.
[14] Ibid hal. 29 – 30.
[15] Menurut J. Heemstra (1940), tanah partikelir merupakan komplek tanah luas – baik itu pertanian maupun perumahan – yang diserahkan kompeni Pemerintah Inggris maupun Belanda kepada pihak swasta dengan hak khusus. Tanah tersebut dipindahtangankan dengan cara hadiah, penjualan, atau cara lain sehingga pihak swasta mempunyai hak milik penuh atas tanah tersebut.
[16] Ibid hal. 30.
[17] Ibid hal. 33 – 34.
[18] Oetoesan Hindia, 23 Desember 1918.
[19] Ruth Mcvey. op.cit. hal. 74.
[20] Ibid hal. 75.

PENDAHULUAN ATAS TULISAN MENGENAI SAREKAT ISLAM SEMARANG

MENGENAI DISTORSI SEJARAH

Menapaki jejak suatu peristiwa sejarah lokal sangat menantang bagi para sejarawan. Karena pada dasarnya, peristiwa sejarah lokal mempunyai lokalitas sumber yang cukup terbatas sehingga para sejarawan harus kuat merangkai interpretasi untuk mencapai kesimpulan penulisan yang tepat. Tantangan para sejarawan lainnya terletak pada kebenaran hasil penulisan tersebut. Pantas saja jika pernyataan sejarawan mempunyai kuasa lebih Tuhan karena bisa merubah peristiwa masa lampau di rasa sangat tepat untuk diungkapkan mengingat berbagai peristiwa sejarah disampaikan hanya dari sudut para sejarawan saja.

Louis Gottschalk berpendapat bahwa fakta-fakta sejarah bahkan tidak mempunyai kenyataan yang objektif karena hanya terdapat dalam pikiran para sejarawan saja. Untuk memiliki kenyataan objektif, ia harus mempunyai eksistensi yang merdeka di luar pikiran manusia. Namun, rasanya tidak mungkin karena pada dasarnya fakta sejarah yang diteliti kemudian mendapat interpretasi dari para sejarawan itu sendiri[1]. Dengan perkataan lain, hampir semua peristiwa sejarah yang diteliti tidak mempunyai kenyataan objektif sama sekali.

Dari pernyataan tersebut, kita pantas menyebut para sejarawan mempunyai kuasa melebihi Tuhan karena ia dapat merubah kenyataan masa lalu. Kenyataan subjektif yang diciptakan para sejarawan telah membuktikan bahwa pernyataan tersebut benar adanya. Namun, para sejarawan selslu dikuasai oleh subjektifitas dari kelas yang berkuasa. Maka dari itu, tepat rasanya jika kita menambahkan bahwa sejarah pada dasarnya hanyalah milik para pemenang. Dengan demikian, dosa para sejarawan bisa dikatakan akan melampaui dosa para pendeta sekalipun yang berkhotbah salah soal kebenaran surga dan neraka.

Permasalahan kita dalam menulis sejarah tidaklah hanya sampai disana. Terutama untuk sejarah lokal, bagi sumber primer lisan sekalipun, mereka menceritakan apa yang telah dialaminya dalam peristiwa masa lampau tersebut. Namun, Aesop tepat mengamanatkan dalam ceritanya, jika manusia memang telah mengalami dan melakukan perbuatan tersebut, ia harus membuktikannya juga tanpa perlu saksi sejarah lainnya. Tetapi para saksi dan pelaku sejarah tidak mungkin mengikuti perkataan hic Rhodus, hic salta![2].

Tetapi terlepas dari kesulitan-kesulitan tersebut, para sejarawan hanya bisa pasrah dalam keadaan yang demikian. Maksudnya, para sejarawan hanya meneliti semampu mereka dengan menggunakan keterbatasan sumber sejarah yang ada. Leopold Von Ranke menyebutkan bahwa sejarah harus ditulis dengan apa adanya. Ranke jauh menyebutkan bahwa penyelidikan sejarah harus dipisahkan dari interpretasi filsafat[3]. Tetapi, bagi para Marxian yang menulis sejarah dan juga para Historian tidak sepakat dengan pernyataan tersebut, sebagai gantinya mereka menyebutkan bahwa sejarah harus ditulis dengan menggunakan interpretasi filsafat. Penggunaan interpretasi tersebut berguna karena pada dasarnya peristiwa sejarah tersebut harus menghasilkan nilai-nilai yang memberikan keterangan dan pedoman bagi kehidupan di masa sekarang[4].

Terlepas dari semua permasalahan diatas, pada akhirnya penulis berkesimpulan bahwa peristiwa sejarah yang ditulis haruslah mematuhi hukum objektifitas fakta-fakta sejarah yang ada dan para sejarawan berhak menginterpretasi dalam menilai kedalaman fakta tersebut dengan bermaksud menggali nilai-nilai dalam peristiwa sejarah tersebut. Disinilah pada akhirnya penelitian sejarah berguna untuk memberikan pelajaran bagi masa mendatang bahwa tidak seharusnya sejarah menjadi sebuah peristiwa yang berulang seakan-akan semua kenyataan dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah dunia terjadi, seakan-akan dua kali. Hegel lupa menambahkan bahwa perulangan pertama kita sebut sebagai tragedi dan yang kedua ialah lelucon[5].

Tetapi mari kita masuk ke dalam inti dari dibuatnya tulisan ini, yaitu apa yang menjadi masalah utamanya. Tulisan ini mengambil suatu kronologi suatu peristiwa sejarah lokal yaitu Sarekat Islam Semarang dalam periode kepemimpinan Semaun. Peristiwa tersebut bisa kita katakan menarik karena ada beberapa hal yang menjadikan peristiwa tersebut unik. Era kepemimpinan Semaun adalah era dimana Sarekat Islam Semarang pada akhirnya bertransformasi secara ideologis. Pada awalnya Sarekat Islam Semarang dipimpin oleh kalangan borjuis kecil, tetapi sejak 6 Mei 1917, organisasi lokal tersebut dipimpin oleh kalangan proletariat dibawah kepemimpinan Semaun[6]. Kejadian tersebut menjadi sangat menarik karena mulai dari sinilah pada akhirnya kaum Sosialisme Revolusioner – secara legal formalitas – mendapatkan hatinya dikalangan kaum pribumi. Mengapa demikian?

Walaupun organisasi Sosialisme pertama di Indonesia ialah ISDV, namun ISDV dibentuk oleh Sneevliet yang merupakan bekas anggota SDP (cikal bakal Partai Komunis Belanda). Pada pertemuan awalnya, ISDV diragukan sifat ke-Indonesia-annya karena sebagian besar dari 60 anggota yang hadir pada masa itu merupakan orang Belanda yang merupakan bekas anggota SDAP[7]. Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan suatu hal yang krusial dalam periode kesejarahan bahwa Komunisme pribumi pada awalnya muncul dalam tubuh Sarekat Islam Semarang, sedangkan ISDV bukanlah beranggotakan komunis pribumi pada awalnya, melainkan beranggotakan para sosialis Belanda. ISDV merupakan organisasi Sosialis Indonesia yang pertama, namun bukan organisasi komunis pribumi pertama.

Menariknya pembahasan tersebut akhirnya menuntun penulis untuk menulis mengenai hal itu dengan keterbatasan sumber dan waktu yang ada sehingga penulis berharap keterbatasan tersebut bisa dimaklumi oleh para pembaca sekalian. Selanjutnya, kita – sebagai seorang sejarawan sama-sama mengharapkan bahwa studi mengenai Komunisme harusnya diperdalam oleh para akademisi Indonesia untuk menghilangkan stigma yang terjadi dalam masyarakat karena awamnya pengetahuan mengenai Komunisme itu sendiri.

Sepanjang yang kita ketahui, masyarakat Indonesia membenci Komunisme karena alasan utama yaitu bapak pendirinya merupakan seorang Atheis. Muhammad Al Fayyadl – seorang santri NU – bahkan menyebutkan bahwa tidak seharusnya seorang Marxis menjadi Atheis karena pada dasarnya Marxisme bukanlah suatu hal yang dogmatis[8]. Dalam fakta kenyataannya, Sarekat Islam Semarang telah membuktikan bahwa untuk menjadi seorang komunis tidak perlu pula menjadi seorang Atheis. Titik persinggungan agama dengan Komunisme juga bisa kita lihat dalam perjuangan Haji Misbach di Surakarta hingga kematiannya di Digul. Maka dari itu, kita mengharapkan studi tentang Komunisme harus diperbanyak sehingga stigma tersebut menghilang. Studi tersebut juga pada akhirnya berguna untuk mendekatkan ilmu Komunisme sebagai ilmu perjuangan kelas tertindas dengan kelas tertindas itu sendiri untuk menyadarkan mereka bahwa kita semua sedang dalam penindasan secara ideologis – melalui hegemoni borjuasi – lalu penindasan ekonomi (penekanan upah minimum atau dalam kasus akademik kita melihat penerapan uang kuliah tunggal dan penerapan PTNBH) serta penindasan fisik.

Selanjutnya, melalui risalah yang banyak kekurangan ini, penulis berharap bahwa studi mengenai hal tersebut tidak hanya menjadi alasan untuk mengejar nilai akademik semata, namun juga menjadi studi komprehensif agar masyarakat dapat mengerti bahwa generalisasi terhadap sesuatu pada akhirnya melahirkan kesimpulan yang fatal mengenai sesuatu tersebut sehingga tindakan yang merealisasikan kesimpulan tersebut juga berujung pada tindakan fatal pula. Hal ini dapat kita lihat dalam kejadian pembantaian beratus ribu hingga berjuta-juta rakyat tahun 1965-1966 akibat adanya tuduhan subversif dari militer Angkatan Darat terhadap PKI.


[1] Louis Gottschalk. Mengerti Sejarah. (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2008). Hal. 34.
[2] Disini mawar, disinilah berdansa! – ungkapan yang diambil dari salah satu dongeng Aesop yang menceritakan seorang pejalan yang bergaya angkuh mengklaim mempunyai saksi untuk membuktikan bahwa dirinya telah pernah melakukan sebuah lompatan yang menakjubkan di Rhodes, yang untuk itu ia menerima jawaban: “Buat apa menyebutkan saksi-saksi apabila kisah itu benar? Di sini Rhodes, melompatlah disni!”.
[3] Ibid hal. 189.
[4] Ibid hal. 190.
[5] Karl Marx. Brumaire XVIII Louis Bonaparte. (Bandung: Hasta Mitra, 2007). Hal. 1.
[6] Soe Hok Gie. Dibawah Lentera Merah. (Yogyakarta: Yayasan Benteng, 1999). Hal. 6
[7] Ruth Mcvey. Kemunculan Komunisme Indonesia. (Depok: Komunitas Bambu, 2010). Hal. 22.
[8] Muhammad Al Fayyadl dalam artikel Marxisme dan Atheisme yang diterbitkan dalam jurnal LKIP Indoprogress tahun 2013.

MENJAWAB KRITIK ATAS TAN MALAKA SOAL REVISIONISME MDH

ANALISA MATERIALISME DIALEKTIKA DAN HISTORIS VERSI TAN MALAKA


Alan Woods dan Ted Grants, seorang revolusioner yg berasal dari International Marxism Tendency (yg merupakan kelanjutan dari Internationale IV) telah mengarang buku yg menjelaskan bagaimana MDH berlaku dalam alam semesta dan kehidupannya - Reason on Revolt. Kedua orang tersebut telah berhasil merangkum seluruh ilmu pengetahuan dan menganalisanya teori-teori tersebut dengan analisa MDH. Alhasil, banyak kesimpulan-kesimpulan yg briliant yg bisa kita ambil dari buku tersebut, yaitu kebenaran Darwinisme, Dialektika tanpa akhir yg berlaku terhadap alam semesta, Dialektika dalam geologi, dan hancurnya nilai mistisme dalam kehidupan. Tak segan-segan, kedua orang tersebut bahkan menuduh Stephen Hawking sebagai seorang idealis tanggungan. Tetapi sebelum mereka berdua membuat buku tersebut, Tan Malaka pada awal kemerdekaan Indonesia telah membuktikan kebenaran MDH melalui analisanya yg berjudul MADILOG.

MADILOG, banyak orang yg menyatakan bahwa risalah tersebut merupakan pemikiran Tan Malaka yg orisinil. Bahkan, tidak sedikit yg menyatakan bahwa risalah tersebut adalah MDH ala Indonesia atau lebih kejamnya lagi menyebut risalah tersebut sebagai kumpulan pemikiran yg revisionis. Agaknya terlalu berlebihan jika kita menyebut Tan Malaka sebagai seorang revisionis. Pasalnya, Tan Malaka adalah seorang yg amat mengagumi analisa Lenin dan Revolusi Oktober, terlebih lagi, ia amat membenci Stalin namun tidak mau disebut Trotskyis. Alhasil, ia dibenci partai komunis serta blok imperialis. Inilah yg membuatnya dituduh sebagai revisionis kesepian. Suatu kesalahan pula bagi partai murba yg membakukan ajarannya sebagai murbaisme. Mungkin hal itu dikarenakan Tan Malaka mempunyai pandangan sendiri dalam penempatan kelas pekerja sebagai garda depan rakyat. Tetapi sebelum kita mengulik lebih jauh soal pemikiran Tan Malaka, kita perlu mengulik madilog sebagai dasar dari seluruh pemikiran Tan Malaka.

Memangnya apa isi dari madilog tersebut ?

Sama halnya dengan Reason on Revolt yg merupakan analisa MDH terhadap segala jenis pengetahuan mengenai alam semesta, madilog pun demikian. Namun perbedaan susunan penulisan menjadikan madilog sangat menarik untuk diulik. Madilog di awali dengan penjelasan mengenai Logika Mistika dan di akhiri dengan Logika Ilmiah. Sedangkan mengenai Materialisme Dialektika menjadi bagian isi yg banyak di bahas dalam pertengahan isi buku. Tan Malaka mencoba memberikan gambaran mengenai kesalahan berpikir jika kita memakai Logika Mistika. Maksud dari Logika Mistika menurut Tan Malaka merupakan cara berpikir dengan melibatkan sarana spiritual sebagai basis utamanya sehingga seperti apa yg ditulis Tan Malaka, bahwa tidak mungkin penciptaan alam semesta hanya sekedar ucapan "pada mulanya ialah firman" atau "maka berfirmanlah maha dewa Ra". Seperti yg di ungkapkan Alan Woods, bahwa apa yg bermula tidak mungkin tercipta hanya melalui ucapan-ucapan firman Yg Maha Kuasa. Semua membutuhkan proses-proses lompatan kuantitatif menjadi kualitatif. Inilah mengapa cara berpikir dengan Logika Mistika merupakan cara berpikir orang yg malas berpikir dengan menggantungkan kesimpulan selalu pada firman Tuhan yg menurut kaum agamawan memang benar.

Setelah memberikan penjelasan mengenai Logika Mistika, Tan Malaka memberikan gambaran mengenai pertempuran filsafat antara Idealisme dengan Materialisme yg pada akhirnya dimenangkan oleh Materialisme dengan tampilnya para filsuf Materialis Mekanis di akhir abad kegelapan. Marx sendiri muncul sebagai pemikir puncak Materialisme yg menggunakan Dialektika dalam menjelaskan pandangan mengenai dunia dan masyarakatnya. Tan Malaka mencoba memberikan pendekatan ilmiah mengenai Materialisme dengan munculnya teori-teori yg sanggup membuka kebobrokan cara berpikir Logika Mistika. Tidak hanya itu, ia sanggup menjelaskan analisa pemikiran para ilmuwan dengan jalan MDH.

Dialektika menjadi isi madilog selanjutnya. Tan Malaka memberikan analisa panjang mengenai sejarah Dialektika dari Socrates hingga Marx. Ia menjelaskan bahwa Dialektika yg dipadu dengan Materialisme menjadi suatu filsafat analisa yg sempurna. Tak tanggung-tanggung, ia memberikan berbagai contoh yg membuktikan kebenaran analisa Materialisme Dialektika. Kunci Dialektika menurutnya terletak pada susunan thesis-antithesis-sintesis. Sistem Dialektika yg sederhana tersebut dikembangkan oleh Hegel untuk menjelaskan bagaimana manusia mengalami perkembangan dari sejak zaman dahulu hingga kini. Namun, Tan Malaka mengakui bahwa Dialektika Hegel mempunyai kekurangan, sehingga tampilnya Marx memberikan kesempurnaan terhadap Dialektika. 3 hukum Dialektika dipertegas oleh Friederick Engels sebagai cara berpikir untuk menjelaskan hal ihwal keduniaan. Tan Malaka menyetujui hal tersebut dengan memberikan apresiasi besarnya terhadap teori evolusi Darwin sebagai teori yg sanggup memberikan pandangan Materialisme Historis dalam perjalanan perkembangan makhluk hidup. Tan Malaka juga menuliskan bahwa sejatinya perkembangan manusia terjadi karena adanya peran "kerja" dalam memproduksi setiap kebutuhannya. Inilah mengapa Tan Malaka mengakui kebenaran Darwinisme karena ia sesuai dengan Materialisme Dialektika.

Pasal selanjutnya, Tan Malaka menjabarkan mengenai peran "Logika" dalam cara berpikir karena menurutnya, Dialektika saja tidak cukup untuk memberikan pandangan mengenai keduniaan. Ini bukanlah pemikiran revisionis, namun merupakan suatu pemikiran rasional. Engels sendiri berkata dalam risalahnya, Ludwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman bahwa Logika Formal menjadi kunci keberhasilan cara berpikir Dialektika. Namun tidak semerta-merta bahwa Logika Formal menjadi cara berpikir pula. Dalam buku "Logika Marx" karya Ernst Mendel dijelaskan bahwa Logika Formal bukanlah metode berpikir yg tepat, namun ia menjadi penerang dari proses Dialektika yg ada. Inilah yg coba dijelaskan oleh Tan Malaka. Tan Malaka memulainya dengan pengertian Logika hingga tunduknya Logika di bawah Dialektika. Sebuah kesalahan fakltal jika menyebut Tan Malaka sebagai revisionis, padahal ia belum memahami struktur penulisan Madilog. Tan Malaka sendiri mengakui kelemahan logika dan keunggulan Dialektika sebagai cara berpikir.

Risalah Madilog diakhiri dengan analisa terhadap seluruh gerakan alam semesta. Tan Malaka menyuguhkan perbandingan analisa yg menggunakan Materialisme Dialektika dengan Logika formal. Tan Malaka memperlihatkan bahwa logika formal sangat lemah untuk dijadikan pisau analisa, namun bisa digunakan untuk menyokong analisa Dialektika. Sebelum Tan Malaka, Karl Kautsky, Lenin, dan Plekhanov telah mengakui hal tersebut. Logika formal sangatlah lemah namun ia bisa menyokong analisa dialektika.

Lalu dimana letak Materialisme Historis dalam madilog ?

Engels menyebutkan bahwa Materialisme Historis merupakan analisa sejarah manusia dengan menggunakan Materialisme Dialektika. Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Lenin, Plekhanov dan tentunya Alan Woods dalam Reason on Revoltnya. Dengan merujuk kepada pengertian diatas, kita bisa menebak dimana Tan Malaka menempatkan Materialisme Historis dalam madilog. Tentunya bab mengenai Dialektika cukup membuktikan bahwa manusia berkembang menurut perkembangan corak produksinya. Tan Malaka memang tidak mwnegaskan hal tersebut, namun cukup untuk memberikan bukti bahwa Materialisme Historis memang dibahas dalam madilog. Kita bisa menemukan Materialisme Historis dalam risalahnya yg lain, yg berjudul "Pandangan Hidup". Dalam risalah tersebut, Tan Malaka cukup lugas memberikan penjelasan mengenai bagaimana manusia berkembang berdasarkan corak produksinya.

Sebelum menentukan apakah Tan Malaka itu seorang revisionis atau bukan, ada baiknya perlu untuk membaca karya asli Marx dan Engels dalam risalah-risalah "Kata Pengantar pada Sumbangan Kritik Terhadap Ekonomi Politik", "Kata Pengantar edisi pertama Das Kapital", "Ludwig Feuerbach dan Akhir dari Filsafat Klasik Jerman", "Anti Duhring", "Peranan Kerja dalam Masa Peralihan dari Kera Menjadi Manusia", "Grundise", "Manifesto Partai Komunis", "Ideologi Jerman", dan "Manuskrip Paris". Selain itu, ada baiknya kita juga memahami karya Lenin yg berjudul "Materialisme dan Empiriokritisme" sehingga kita paham betul mengenai dasar-dasar dari Materialisme Dialektika dan Historis. Kebanyakan ahli Marxis yg menyebut Tan Malaka sebagai revisionis ialah karena dendam politik mereka terhadap Tan Malaka seperti para stalinis PKI. Yg terbuka pikirannya ialah para pendukung Persatuan Perjuangan seperti Iwa Kusumasumantri dan Chaerul Saleh. Sedangkan murbaisme merupakan suatu hiperbola dari para fans fanatik beliau. Sama halnya dengan membakukan ajaran Leninisme yg dilakukan oleh Stalin sebagai bentuk Marxisme ala Rusia, Murbaisme menjadi bentuk Marxisme yg dibakukan sebagai pesaing ketat dari Marhaenisme dalam merebut hegemoni kelas pekerja. Padahal, hal demikian lah yg menjadikan Marxisme banyak terpecah. Apakah hal tersebut dapat dikategorikan sebagai Revisionis ? John Myleunix dalam bukunya "Mana Tradisi Marxis yg Sejati" telah membuka kemunafikan para revisionis bahwa Marxisme sejati bukanlah Marxisme ala Stalin, PKI, Soekarno, Mao, Ho Cinh Min, Castro, ataupun Tito. Marxisme sejati ialah yg sepemikiran dengan Lenin, Rossa, Trotsky, ataupun Plekhanov di masa muda. Inilah mengapa penting untuk membaca keseluruhan dari sebuah teori sebelum mengkritiknya.



Alvie, 12 Agustus 2015

14 Desember 2015

SOAL DAMPAK MEA DI DESA-DESA

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
DAN
KAPITALISME DI DESA



Masyarakat Ekonomi ASEAN (selanjutnya disingkat MEA) merupakan wacana pembentukan pasar tunggal di Asia Tenggara yang akan diberlakukan pada akhir 2015 mendatang[1]. Pasar tunggal yang dimaksud ialah terbukanya batas-batasnegara dalam sektor ekonomi di seluruh Asia Tenggara. Pembentukan MEA berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam KTT ASEAN pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing ASEAN agar bisa menyaingi Tiongkok dan India dalam menarik investasi asing[2]. Sebelumnya di wilayah ASEAN sendiri telah disepakati terbentuknya ASEAN Free Trade Area (AFTA) sejak pertemuan tingkat ke-5 KTT ASEAN di Singapura pada 1992 dalam jangka waktu 15 tahun[3]. MEA sendiri sudah merupakan kelanjutan dari AFTA tersebut. Sedangkan, Indonesia sendiri merupakan salah satu inisiator pembentukan MEA yaitu dalam Deklarasi ASEAN Concord II di Bali pada 7 Oktober 2003 dimana para petinggi ASEAN mendeklarasikan bahwa pembentukan MEA pada 2015 sebagai upaya untuk mempererat integrasi ASEAN[4].

MEA membuka arus perdagangan komoditi antar negara-negara ASEAN termasuk pasar tenaga kerja dan buruh. Staf khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing[5].Maka tidak heran, jika nantinya kita akan mengalami persaingan ketat dalam mencari pekerjaan karena MEA dalam wajah Kapitalisme telah membuka kran persaingan yang menyebabkan sesama kelas pekerja dari berbagai negara berbeda saling berebut pekerjaan. Tidak terkecuali Indonesia yang menjadi sumber investasi yang paling dicari oleh kapitalis asing. MEA sendiri adalah suatu keniscayaan sebagai bentuk dari globalisasi Kapitalisme. Karl Marx menyebutkan bahwa :

“Kebutuhan untuk terus memperluas pasar untuk produk-produknya mendorong kaum borjuasi menyebar keseluruh permukaan bumi. Ia harus bersarang di mana-mana, bertempat di mana-mana, mengadakan hubungan-hubungan di mana-mana.”[6]

Letak Ekonomi Pedesaan Dalam MEA

Pada 2011 sebanyak 60 warga negara asing (WNA) asal China yang bekerja secara ilegal di Proyek Pembangunan PLTU Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi meskipun akhirnya dideportasi ke negara asalnya. Berita ini cukup menggemparkan masyarakat Sukabumi saat itu, terlebih pekerja asing yang bekerja pada proyek tersebut ternyata didominasi pekerja kasar seperti tukang angkut, gali dan pekerjaan kasar lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan oleh masyarakat setempat di sekitar proyek Pembangunan PLTU[7]. Ternyata daerah di luar ibukota sudah mengalami dominasi buruh imigran sebagai akibat dari terbentuknya MEA sejak 2011. Tidak perlu menunggu waktu lama, mereka yang bekerja ilegal akan mendapatkan legalitas ketika MEA sudah berlaku. Inilah salah satu dampak MEA yang terjadi di daerah-daerah yang notabene merupakan daerah pedesaan.

Ekonomi pedesaan sudah pasti terkena dampak yang cukup signifikan akibat MEA tersebut. Salah satu dampaknya ialah pengangguran pemuda-pemuda desa karena masuknya buruh imigran sebagai antithese dari buruh dalam negeri. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa globalisasi Kapitalisme telah menciptakan persaingan yang ketat antar tenaga kerja di ASEAN. Ted Sprague dengan mantap menyatakan bahwa buruh akan berlomba-lomba menjual kemampuan kerjanya untuk upah seperti halnya seorang tukang cendol menjajakan es cendolnya. Selain itu, munculnya buruh tersebut tidak lain dan tidak bukan berasal dari pemuda-pemuda desa yang sudah frustasi akibat sistem pertanian kalah saing dalam globalisasi Kapitalisme. Proletarisasi – begitulah istilah tersebut didengungkan untuk menggambarkan bagaimana para pemuda desa bertransformasi menjadi buruh dan menjajakan kemampuan kerjanya hanya untuk sekedar sesuap nasi.

Ted Sprague mengatakan bahwa :

“Petani gurem dan nelayan kecil di seluruh Asia Tenggara juga dirugikan dengan cara yang kurang lebih serupa, dimana mereka didorong untuk saling berkompetisi: siapa yang bisa bekerja lebih keras untuk menghasilkan lebih banyak dengan harga yang lebih murah. Dalam kata lain, siapa yang bisa menjual keringat mereka lebih murah untuk memenuhi nafsu pasar internasional. MEA juga akan memaksa petani kecil bersaing dengan perusahaan-perusahaan agrobisnis raksasa.”[8]

Suatu persaingan tidak seimbang yang dihadirkan MEA dalam kancah ekonomi pedesaan, terutama pedesaan di Indonesia. Persaingan tidak seimbang tersebutlah yang menjadi alasan mengapa terjadi proletarisasi di desa-desa nantinya. Inilah yang disebut dengan Kapitalisme yang berkembang subur di pedesaan akibat globalisasi yang bernama MEA. Globalisasi Kapitalisme “MEA” nantinya akan membuat keseluruhan pemuda yang frustasi akibat persaingan di desa beralih menjadi buruh dan penganggur. Hal ini sangat wajar, mengingat persaingan antar buruh juga akan menciptakan banyak pengangguran di kota-kota.

Masa Depan Pedesaan

Desa merupakan representasi dari masa Feodalisme yang tersisa. Disini, dalam perspektif Materialisme Historis kita dapat melihat bagaimana kelas petani dan kelas tuan tanah bertarung untuk memperebutkan alat produksi yang mendukung pertanian. Kelas petani akan menjadi budak kelas tuan tanah, begitulah yang terjadi di desa-desa. Karl Marx menyebutkan bahwa :

Sejarah manusia dari dulu hingga kini tidak lain merupakan sejarah pertentangan antar kelas”[9]

Lalu bagaimana desa dalam masa Kapitalisme?

Ketika Kapitalisme sudah mencapai puncak internasionalnya (dalam hal ini Kapitalisme mengglobal karena untuk menghindari krisis overproduksi di satu negeri), maka desa yang bersifat Feodalistik bertransformasi menjadi desa yang bersifat Kapitalistik. Kelas petani tidak lagi ditindas oleh kelas tuan tanah, melainkan oleh kelas kapitalis yang banyak bergerak dibidang perusahaan Agrobisnis. Petani yang sudah frustasi akibat kalah saing akhirnya terjebak dalam arus proletarisasi dan menjadi buruh di perusahaan Agrobisnis tersebut. Akhirnya yang terjadi ialah bahwa petani yang tadinya mengelola tanah sendiri akan menjadi buruh tani yang rela menjual kemampuan kerjanya untuk menciptakan nilai lebih bagi para kaum modal.  Nilai lebih tersebut (yang jumlahnya bisa saja ratusan juta Rupiah) akhirnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Sedangkan, kelas buruh tani yang bekerja susah payah hanya mendapatkan upah yang tidak setara dengan besarnya kemampuan kerja yang mereka habiskan untuk menciptakan surplus selama 8 hingga 12 jam bagi para borjuasi pedesaan. Begitulah jika MEA akhirnya direalisasikan pada akhir 2015 nanti.


[1]http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec
[2] G.T. Suroso. Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Perekonomian Indonesia. 2015. Jakarta: BPPK Kemenkeu Indonesia.
[3] www.tarif.depkeu.go.id
[4] Nationalgeographic.co.id
[5]http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec
[6]Kutipan pernyataan Karl Marx dalam artikel Ted Sprague. Masyarakat Ekonomi ‘Kapitalis’ ASEAN: Integrasi Untuk Siapa?. 2015. Jakarta: Militan Indonesia
[7]Dokumen Pemerintahan Kabupaten Ciamis. Tantangan Desa Menuju MEA 2015. www.ciamiskab.go.id
[8] Ted Sprague. Masyarakat Ekonomi ‘Kapitalis’ ASEAN: Integrasi Untuk Siapa?. 2015. Jakarta: Militan Indonesia
[9]Karl Marx dan Friederick Engels.Manifesto Partai Komunis. 2015. Yogyakarta: Resist Book.