Antara
Marxisme dan Fundamentalisme Islam
Iran merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak
kebudayaan tertua di dunia. Kebudayaan-kebudayaan Iran tidak lepas dari
gabungan bangsa-bangsa yang bernama Persia. Bangsa yang membangun Persia
tercatat mampu bersinggungan dengan kebudayaan Yunani seperti di masa Darius
dan Xerxes. Hingga kini, Iran akhirnya menjadi salah satu kekuatan yang paling
di takuti oleh Amerika Serikat akibat adanya nuklir yang ternyata sebenarnya
hanya dibangun untuk kebutuhan listrik saja. Kedekatan Iran dengan blok timur
juga menjadi salah satu faktor mengapa Iran sungguh ditakuti oleh Inggris dan
Amerika Serikat sejak dulu. Sejak naiknya Shah Reza Pahlevi pada 1925.
Selain itu, kedekatan hubungan antara Iran dengan blok
timur juga tidak pernah selalu berjalan mulus, kita mengetahui bahwa Iran dan
Rusia pernah terlibat dalam krisis wilayah ladang minyak di Azerbaijan.
Hubungan Iran dengan Inggris juga tidak pernah baik, hubungan tersebut di
perparah dengan pengambilalihan ladang minyak oleh Perusahaan minyak
Anglo-Persia di Iran Barat Daya. Mungkin hubungan dengan Jerman lah pada masa
perang dunia II yang bisa dikatakan lebih baik dikarenakan adanya tekanan dari
Hitler untuk mengontrol perdagangan luar negeri Iran.
Kekuasaan Dinasti Pahlevi di bawah pimpinan Shah Reza
sebenarnya pernah goyah ketika tentara Imperialis Inggris hadir di Iran. Para
Nasionalis Iran di bawah pimpinan Mossadeq menuntut diakhirinya kontrol Inggris
atas industri minyak. Pada tahun 1951, majelis sepakat untuk menasionalisasi
semua perusahaan minyak di Iran, namun Perdana Menteri tidak menyetujuinya.
Perdana Menteri tersebut di pecat untuk kemudian digantikan oleh Mossadeq. Para
Imperialis barat seperti Amerika menyadari hal ini, kemudian CIA pada 16
Agustus 1953 melancarkan kudeta terhadap Mossadeq. Selanjutnya, akhirnya
kekuasaan Shah kembali pada 19 Agustus.
Kenaikan harga minyak di tahun 1965 membuat Iran
mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat. Menurut buku Dr. Zayar yang bertitel “Revolusi Iran : Sejarah dan Hari Ke Depannya”,
penghasilan atau pendapatan itu mencapai $522 juta dolar dan di tahun 1969
bahkan sempat menyentuh $938 juta dollar. Sembilan puluh perusahaan raksasa
asing langsung menanamkan modalnya di Iran pada tahun 1969. Pada tahun 1974,
setelah harga minyak terus melonjak naik, pendapatan Iran bahkan akhirnya
menyentuh $22 milyar dollar. Pertumbuhan pesat ini berkat naiknya harga minyak
dari $1.79 dollar per barrel di tahun 1971 hingga $11.65 dollar per barrel pada
Desember 1973.
Catatan pertumbuhan ekonomi tersebut membuat
berjuta-juta warga Iran melakukan urbanisasi untuk menghidupkan seluruh
industri manufaktur serta industri pengolahan minyak baku di berbagai daerah.
Catatan dari buku Dr. Zayar tersebut mengungkapkan bahwa setiap tahunnya hingga
tahun 1974 terjadi perpindahan 380.000 jiwa penduduk dari desa ke kota. Hal ini
menimbulkan dampak yang tidak sehat pada sektor agrikultur. Dampak tersebut
menciptakan efek domino hingga membuat tingkat produksi menurun. Hanya dalam
dua tahun, uang sewa di Teheran mencapai 300%. Bisa di tebak, inflasi akhirnya
terjadi di Iran dalam waktu singkat memukul telak kaum buruh, petani, dan
borjuis kecil.
Dampak luar biasa ini akibat dari adanya kapitalisasi
di Iran. Dengan tumbuhnya perekonomian akibat dari melonjaknya harga minyak
telah menciptakan suatu kelas pekerja raksasa sehingga menjadi suatu massa yang
siap menghancurkan kapan pun ketika pemerintah sudah tak lagi menjadi progressif.
Iran pada tahun 1965 berubah menjadi suatu negara Kapitalis yang pesat dan
akhirnya menemui jalan krisis over produksinya pada akhir dekade 1970an. Seperti
yang pernah dikatakan Marx pada Manifestonya :
“Syarat terpokok untuk hidupnya, dan berkuasanya kelas
borjuis, adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk
kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan
di antara kaum buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak
sengaja adalah borjuasi, menggantikan terpencilnya kaum buruh, yang disebabkan
oleh persaingan, dengan tergabungnya mereka secara revolusioner, yang diperoleh
karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari
bawah kaki borjuasi landasan itu sendiri yang di atasnya borjuasi menghasilkan
dan memiliki hasil-hasil. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuasi
ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan
borjuasi dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tidak dapat dielakkan
lagi.”
Hal inilah yang kemudian
akhirnya terjadi di Iran sebagai suatu negara yang Kapitalisme nya berkembang
sangat cepat sehingga menciptakan dan mentransformasikan para petani di
desa-desa menjadi suatu kelas pekerja raksasa dengan data-data yang telah kita
sebutkan tadi. Urbanisasi menjadi bentuk transformasi masyarakat tersebut.
Revolusi yang dilancarkan selama tahun 1979 mentransformasikan Iran yang
tadinya dari Dinasti Shah yang Kapitalistik menjadi Republik Islam yang
fundamentalis.
Revolusi Iran di mulai dari
tahun 1977, yaitu tahun ketika para demonstran turun ke jalan menyerukan soal
krisis ekonomi yang terjadi tiba-tiba. Krisis ekonomi ini bisa dipahami sebagai
krisis over produksi yang memang seharusnya terjadi ketika Kapitalisme sudah
mencapai tahap yang tinggi. Namun, yang terjadi ialah ketika demonstrasi kelas
pekerja terjadi untuk pertama kalinya, kaum fundamentalis Islam mengambil alih
emosi massa untuk selanjutnya menciptakan revolusi di bulan Februari 1979. Yang
menjadi tidak kalah pentingnya ialah bahwa adanya keterlibatan Partai Tudeh
(Partai Komunis Iran) sebagai partai Stalinis yang juga berhasil mengarahkan
massa menuju kesadaran revolusioner. Lenin mengatakan bahwa kesadaran
revolusioner itu muncul ketika Kapitalisme telah menghancurkan pengharapan kaum
pekerja, hal ini sejalan dengan pernyataan Marx di Manifesto bahwa Kapitalisme
telah menciptakan kelas pekerja raksasa yang siap membawa Kapitalisme ke lubang
kuburnya yang telah mereka gali akibat krisis over produksi.
Pada 1 Januari 1979, Partai
Tudeh mendeklarasikan dukungan mereka terhadap Ayatullah Khomeini sebagai
pemimpin dari Partai Islam Republik yang fundamentalis. Para pemimpin partai
Tudeh menyatakan bahwa revolusi yang anti imperialis ini memang seharusnya di
dukung karena bersifat progressif, revolusi ini juga di dukung kelas pekerja
yang kecewa akibat inflasi yang terjadi di ladang-ladang minyak Iran. Partai
Tudeh juga menyatakan bahwa Khomeini yang bersifat anti barat memang seharusnya
di dukung. Menurut mereka, rakyat Iran seharusnya tidak semerta-merta membangun
Sosialisme semata, namun harus mendukung kekuatan anti imperialis terlebih
dahulu. Watak Stalinisme inilah yang akhirnya menuntun Partai Tudeh dan anasir
kiri terpenting lainnya seperti front Organisasi Rakyat Iran Fedaeen mendukung
Khomeini. Setidaknya inilah yang diterangkan dalam buku “History of Communist Movement In Iran” sebagai salah satu referensi
bagus dalam pergerakan kaum revolusioner di Iran.
Kronologi revolusi mungkin
dimulai tepatnya pada Juni 1977 hingga Februari 1979. Pergerekan pertama kali
di dominasi oleh kelas pekerja rendahan, lumpenproletar, dan borjuis rendahan
(atau yang biasa disebut bazaaris.
Baru pada pertengahan 1978 lah, kaum buruh terampil menyerukan demonstrasi
besar-besaran yang bertahan hingga Februari 1979. Masuknya kaum buruh terampil
memainkan peranan penting dalam revolusi sehingga gelombang besar pemogokan
terjadi di seluruh kota-kota di Iran. Namun, revolusi bukanlah digerakkan oleh
suatu partai buruh yang progressif, revolusi yang terjadi dalam menggulingkan
Shah Iran ini akhirnya di pimpin oleh para mullah
yang notabene merupakan kaum Islam Fundamentalis.
Hal ini telah digambarkan
oleh Ted Grant dalam bukunya Russion From
Revolution To Counter Revolution pada halaman 55-56 menyebutkan bahwa :
"Memang benar, kaum proletar
memiliki kekuatan luar biasa. Tidak ada roda yang akan berputar, tidak akan ada
hola lampu yang akan menyala, tanpa seijinnya. Tetapi tanpa organisasi,
kekuatan ini tinggal berupa potensi semata. Dengan cara yang sama, turbin uap
adalah kekuatan yang kolosal, tetapi tanpa kotak piston, hanya akan
berhamburan di udara tanpa ada gunanya. Agar hal itu bisa tercapai, kekuatan
kelas pekerja harus berubah dari semata hanya potensi menjadi sebuah realitas,
mereka harus diorganisir dan dikonsentrasikan pada satu titik. Hal ini bisa
dilakukan melalui sebuah partai politik dengan kepemimpinan yang berani dan
berpandangan ke depan serta sebuah program yang benar."
Kesalahan ini lah yang
menuntun kaum buruh Iran kepada kehancurannya, tidak adanya kepemimpinan partai
akhirnya membuat kekuatan fundamentalis mengambil alih dan mendirikan Republik
Islam pada 1 April 1979 dengan Ayatullah Khomeini sebagai pemimpin agung
revolusionernya. Kita bisa menyimpulkan bahwa kekuatan revolusi Iran
dipengaruhi oleh berbagai pemikiran Ali Syari’ati yang merupakan seorang
pemikir Eksistensialis yang revolusioner, namun pemikir sesungguhnya adalah
Karl Marx dan Friederick Engels melalui berbagai praktik langsung yang menuntun
pada kemenangan sementara. Setelah kaum fundamentalis Islam mengambil alih
pemerintahan, maka yang terjadi adalah eksekusi ribuan buruh terampil dan
kekuatan-kekuatan kiri yang revolusioner sehingga tidak ada lagi yang
mengganggu birokrasi yang spiritualis ini hingga kini.
Pustaka
Dr.Zayar. The Iranian Revolution : History and
Relevation.
Karl Marx & Friederick
Engels. The Communist Manifesto.
Tulsiram. History of Communist Movement In Iran.
V.I. Lenin. Collected Works, Vol. 34.
V.I. Lenin. The State and Revolution.
Alan Woods. The First Shots of the Iranian Revolution.
Ted Grant. Russian: From Revolution to
Counter-Revolution.
http://www.militanindonesia.org/internasional/timur-tengah/8014-revolusi-iran.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar