DARWINISME & MARXISME
Dunia terperanjat ketika seorang ahli Biologi asal
Inggris menerbitkan The Origin of Species
sebagai hasil dari studi bandingnya ke Galapagos. Para ahli ilmu pengetahuan
menyebutkan bahwa inilah adalah suatu kemenangan telak dari ilmu pengetahuan
dan para agamawan mengatakan bahwa ini adalah kiamat bagi agama. Mengapa ?
Karena Darwin si pembuat buku menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari
sifatnya yang kuantitatif menjadi kualitatif. Dia berasumsi bahwa asal makhluk
hidup itu dari satu sel lalu menjadi banyak makhluk hidup dan akhirnya manusia
lah sebagai perkembangan paling mutakhir dari proses tersebut. Teori tersebut
dinamakan teori evolusi dan oleh para ahli menyebutkan bahwa teori itu
benar-benar terjadi. Darwin jelas menyatakan bahwa perkembangan kehidupan
makhluk hidup atau munculnya kehidupan itu tanpa campur tangan bentuk ghaib
apapun.
Teori tersebut menjadi sebuah kebenaran ketika
ditemukan banyak fosil-fosil makhluk hidup zaman dahulu yang menjadi bukti
adanya suatu lompatan kuantitatif ke lompatan kualitatif. Bukti-bukti tersebut
di perkuat dengan ditemukannya hominid di Afrika dan beberapa spesies kera
berjalan tegak lainnya. Beberapa spesies ini mempunyai perkembangan volume otak
hingga menuju kesempurnaan otak Homo
Sapiens. Bukti-bukti tersebut akhirnya menyatakan bahwa teori evolusi
Darwin adalah bentuk Materialisme Historis dalam ilmu alam. Bahkan Engels
menyatakan bahwa teori evolusi Darwin harusnya mendapatkan apresiasi dan patut
menjadi loncatan ilmu pengetahuan dunia, sama halnya seperti Newton yang telah
menyatakan hukum mekanika.
Sebelum Darwin, orang Yunani lah yang terlebih dahulu
bersasumsi bahwa manusia berasal dari ikan. Bukan itu saja, beberapa mitologi
di dunia seperti mitologi orang-orang pasifik juga menyatakan hal yang sama.
Namun, Darwin lah yang pertama kali membuat hipotesa ilmiah soal evolusi
sebenarnya. Bahwa menurutnya yang paling fundamental adalah segala bentuk
kehidupan di dunia awalnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Hal ini
sungguh bertentangan dengan kata-kata pertama dalam Injil yang menyebutkan
bahwa “Pada mulanya ialah firman Tuhan”.
Goethe menyatakan bahwa pada mulanya ialah kerja. Ini adalah suatu kemajuan
filsafat yang luar biasa. Agama yang telah menggelapkan Eropa pada masa
kegelapan akhirnya tercerahkan. Ketika Darwin, Descartes, dan Galileo sebagai
pejuang ilmu pengetahuan naik ke atas, maka seketika itu juga hilang lah
otoritas keagamaan.
Jika Marx berbicara lompatan dialektika dalam
perspektif Materialisme Historis, maka Darwin si ahli biologi berbicara
lompatan dialektika dalam perspektif Biologi. Tahap-tahap tersebut dilalui
dengan proses yang sangat panjang dan melalui tahapan seleksi alam. Perbedaan
mendasar antara Marx dan Darwin adalah bahwa Marx menempatkan manusia sebagai posisi
sentris dalam perkembangan sejarah, sedangkan Darwin menetapkan bahwa spesies
makhluk hiduplah yang dipengaruhi alam. Secara tidak langsung, Darwin
menyatakan bahwa alam lah yang mempengaruhi sejarah perkembangan makhluk hidup.
Hal inilah yang akhirnya membuat teori Marx dan Darwin agak bertentangan.
Namun, Marx dan terutama Engels sangat mengagumi Darwin dan memakai teorinya
untuk menjelaskan bagaimana peran kerja manusia dari masa ke masa. Hakikat dari
perkembangan manusia dari masa ke masa ialah kerja. Pekerjaan itulah yang
akhirnya membuat manusia mampu berevolusi dari nenek moyangnya, kera.
Mari kita analisis bagaimana pandangan Darwin itu
bertahan sehingga kita bisa mempercayainya sebagai suatu bentuk Materialisme
Historis dalam biologi. 3,5 Milyar tahun yang lalu adalah masa dimana sel
pertama muncul. Para ahli Darwinis melakukan percobaan-percobaan ilmiah tuk
membuktikan pernyataan bagaimana sel tersebut muncul akibat rantai dari reaksi
kimia. Oksigen, nitrogen, air, amonia, dan metana adalah unsur pertama
pembentuk asam amino sederhana yang menjadi dasar dari molekul kehidupan. Asam
amino tersebut bereaksi dengan rantai kimia lainnya dengan bantuan sinar
ultraviolet membentuk rantai protein yang rumit. Protein, seperti yang kita
ketahui adalah unsur yang berada dalam protoplasma sel yang menjadi unsur
penggerak kehidupan. Sedangkan rantai molekul yang lebih rumit seperti asam
nukleat yang menyimpan unsur genetika terbentuk lebih rumit lagi. Reaksi antara
protein dengan asam nukleat hanya bisa menghasilkan makhluk molekuler seperti
virus. Bagaimana dengan sel ?
Pernyataan dalam Reason In Revolt karya Alan Woods dan
Ted Grant dapat menjelaskan hal ini :
“Dengan bantuan
katalis berbagai molekul dapat berinteraksi dan berfusi satu sama lain untuk membentuk
apa yang disebut Kauffman sebagai "himpunan yang sanggup mengakatalisasi
diri sendiri" [autocatalytic set].
Dengan cara ini, keteraturan yang muncul dari kekacauan molekular akan
mewujudkan dirinya dalam sebuah sistem yang bertumbuh. Ini bukanlah kehidupan
seperti yang kita kenal saat ini. Ia tidak memiliki DNA, kode genetik, dan
membran sel. Tapi ia dapat menunjukkan beberapa ciri yang mirip dengan ciri
mahluk hidup. Contohnya, ia dapat bertumbuh. Ia akan memiliki sejenis
metabolisme - menyerap satu pasokan "pangan" yang terdiri dari
molekul-molekul asam amino dan lain-lain senyawa sederhana, menambahkan
senyawa-senyawa ini pada dirinya sendiri. Itu adalah satu bentuk reproduksi
yang primitif, yang memperbesar diri sendiri untuk menyebar ke daerah yang
lebih luas. Ide ini, yang merupakan satu contoh dari lompatan kualitatif, atau
"fase peralihan" dalam bahasa kompleksitas akan berarti bahwa
kehidupan tidaklah muncul sebagai sebuah peristiwa acak, tapi sebagai hasil
dari kecenderungan inheren di alam untuk semakin menaikkan tingkat
pengorganisasian.”
Virus, makhluk ini menjelaskan bagaimana teori evolusi
mencapai kemenangannya. Hal ini terlihat dengan hanya ada reaksi antara RNA
atau DNA dengan protein yang melingkupinya dengan berbagai jenis rantainya
membentuk suatu kehidupan yang hanya aktif bila ada inangnya saja. Cyanobacteria atau ganggang biru mungkin
merupakan suatu bentuk sel yang palin sederhana dan masih hidup hingga kini.
Ganggang biru ini menjelaskan bagaimana sebuah sel sederhana bertahan dalam
proses reaksi kimia yang parah pada masa Archean
hingga kini. Sel ganggang biru hanya terdiri dari kumpulan protein dan DNA yang
tergabung akibat ikatan kimia yang dibantu dalam sinar ultraviolet dan Karbon
Dioksida. Jika menuruti hukum kekekalan energi, maka kita mendapati Karbon
Dioksida yang diserap sel tersebut berubah menjadi oksigen dan karbon yang
menjadi unsur pertama tidaklah menghilang, melainkan menjadi pembentuk ikatan
antara protein dan energi. Ya, sel tersebut memerlukan energi untuk bergerak,
maka karbon tersebutlah yang dibakar oleh oksigen sehingga menjadi energi yang
menggerakkan suatu sel.
Rantai energi yang dihasilkan akibat reaksi kimia ini
akhirnya menjadi suatu sifat organik dari suatu sel sederhana, yaitu gerak.
Namun, materi hidup pada masa itu belum menemukan kesadaran dirinya diakibatkan
belum adanya corak produksi yang memungkinkan, maka gerak yang di lakukan atas
dasar mendekati molekul yang siap direaksikan dengan keadaan internal sel.
Misalnya, reaksi garam atau difusi ion antara ion Natrium dengan ion Chlor yang
berdifusi melalui membran sel. Lalu, ketika sel mencapai tingkat kesempurnaan
gerak akibat corak produksi yang memadai, maka sel berevolusi mengikuti
perkembangan keadaan bumi yang saat itu mendingin dan mendekati masa Proterozoikum. Masa yang dilalui sel
tersebut untuk berevolusi hingga 2 milyar tahun. Cukup logis untuk menjelaskan
bagaimana sebuah sel harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di
alam. Corak produksi yang terjadi akhirnya membantu penyesuaian sel tersebut,
maka terjadilah tahap seleksi alam.
Bagaimana dengan ledakan kambrium ? Suatu masa dimana
makhluk hidup berkembang hingga beratus-ratus filum hanya dengan waktu 5 juta
tahun saja ? Para Idealis memukul mundur para Darwinis dengan fakta yang
demikian uniknya ini. Namun, kita sebagai seorang Marxis adalah seorang
Materialis pula, ledakan kambrium bukanlah suatu ledakan penciptaan yang
terjadi secara mendadak atau menurunkan hewan dari langit, namun juga merupakan
proses evolusi. Keadaan pada masa sebelum Kambrium, yaitu masa awal Proterozoikum merupakan keadaan dimana
bumi mulai stabil, sel yang kita jelaskan tadi mulai menemukan penyesuaian
akibat keadaan alam tersebut. Makhluk hidup sederhana tumbuh dengan perlahan
hingga ke masa kambrium. Di masa kambrium, keadaan bumi menurut komposisi
materialnya adalah tempat yang sangat ideal untuk hidup, dimana pada masa itu
komposisi oksigen hingga 22% dan Nitrogen hingga 70%. Keadaan yang demikian
memicu reaksi kimia berlebihan sehingga menimbulkan mutasi. Apalagi Karbon yang
menjadi energi terus bersirkulasi juga bersama Fosfor. Keadaan yang demikian
cepatnya menimbulkan perubahan yang tidak biasa pada evolusi makhluk hidup.
Makhluk hidup berevolusi secara cepat secara mutasional. Kita tidak bisa
berspekulasi tentang jumlah spesies yang hadir pada masa itu, namun bisa saja
satu spesies mengalami jumlah perbedaan yang banyak seperti yang terjadi pada
manusia dengan rasnya. Semakin tinggi tingkat kerumitan molekular yang terjadi
pada makhluk hidup, maka semakin banyak perbedaan antara varietas yang satu
dengan yang lainnya. Yang terjadi adalah suatu ledakan populasi makhluk hidup
yang tidak biasa.
Memang kita mengenal bahwa evolusi kehidupan tidaklah
dapat dipahami jika tidak ada bentuk peralihan seperti yang dikatakan Engels
dalam Dialectic on Nature :
"Garis-garis
yang tebal dan tegas tidaklah sesuai untuk teori evolusi. Bahkan batasan antara
mahluk bertulang belakang dengan yang tidak bertulang belakang tidak lagi kaku,
seperti makin tipisnya batas antara ikan dan amfibi, sementara batas antara
burung dan reptil semakin menipis dari hari ke hari. Antara Compsognathus dan
Arcaeopteryx hanya dibutuhkan beberapa rantai antara saja, dan paruh burung
yang masih bergigi muncul di mana-mana di kedua belahan dunia. 'Atau ini, ...
atau itu' menjadi semakin lama semakin tidak cukup. Di antara hewan-hewan yang
tingkatannya lebih rendah konsep tentang individu tidak dapat ditandai dengan
tajam. Bukan hanya kita tidak dapat menunjuk satu hewan sebagai sebuah individu
atau koloni, tapi juga di mana dalam perkembangannya satu individu berhenti
mengada dan yang lain muncul menggantikannya.”
Namun,
kita dapat berasumsi bahwa bentuk peralihan yang terjadi dalam ledakan kambrium
merupakan peralihan spontan, sama halnya dengan yang terjadi pada masa Archean ketika sel mengambil bentuk
pertamanya.
Ledakan kambrium akhirnya menjadi suatu fenomena yang
terjadi pula di masa kini ketika terjadi ledakan Holosen akibat menghangatnya
suhu bumi setelah masa Dilivium atau zaman es yang mencair sekitar 12.000 tahun
yang lalu. Dan kepunahan massal yang terjadi selama lima kali juga terjadi
karena faktor alam yang mempengaruhi keadaan bumi. Evolusi dipengaruhi oleh
peristiwa alam, seperti yang di yakini Charles Darwin ternyata tidak berlaku
bagi manusia di masa Holosen. Nyatanya, manusia lah yang akhirnya yang Maha
Kuasa mempengaruhi keadaan alam.
Sekarang mari kita lihat sejauh mana Darwinisme
mempengaruhi Marxisme itu sendiri.
Marx dan Engels memakai teori Darwin sebagai posisi
paling penting dalam teorinya. Namun, mengubah posisi subjeknya dari alam
menjadi makhluk hidup. Dengan demikian, Marx tidak lagi menerapkan seleksi alam
dalam perkembangan sejarah, melainkan perjuangan lah yang akhirnya membuat
sejarah itu berubah. Secara tidak langsung, Materialisme Historis memakai teori
Darwin dan di satu sisi menentangnya. Darwin dan Marx sama-sama seorang
Materialis Dialektis, namun masih ada posisi Idealis yang masih dipegang oleh
Darwin, yaitu adanya keterkaitan kekuatan alam dalam menyeleksi perkembangan
makhluk hidup tersebut. Senada dengan pernyataan Marx, Anaxagoras menyatakan
bahwa perkembangan mental manusia tergantung dari terbebaskannya tangan. Marx
dalam kalimat lain menyatakan bahwa hal yang mempengaruhi perkembangan adalah
corak produksi dari setiap masyarakat. Pernyataan ini sedikit menentang teori
Darwin yang menyatakan bahwa perkembangan dari makhluk hidup bukan tergantung
dari corak produksinya, melainkan dari peristiwa-peristiwa alam yang
menyeleksinya.
Marx dan Engels tentu mempunyai alasan tertentu
mengapa manusia atau makhluk hidup pada umumnya menjadi penggerak utama dari
sejarah, hal ini dikarenakan tidak ada satupun peristiwa sejarah yang terjadi
karena alam, semuanya karena adanya pengaruh makhluk hidup di dalamnya. Sedangkan
kalau kita menilik dari kejadian Dialektika dalam alam semesta, sekilas teori
Darwin menjadi benar, namun apa yang terjadi di alam yang berpengaruh kepada
makhluk hidup bukan sebagai bentuk seleksi, namun sebagai bentuk penyesuaian
gen yang terus berkembang dari masa ke masa. Teori ini mendekati pernyataan
Lamarck soal perkembangan evolusi makhluk hidup daripada teori Darwin itu
sendiri.
Namun, ada beberapa hal yang merupakan kesamaan antara
Darwinisme dengan Materialisme Historis, termasuk tentang pembantahan kata-kata
dalam Injil yang menyebutkan bahwa “Pada
mulanya ialah firman”. Apa bisa kita mengambil kata-kata yang demikian
secara Materialis ? Tentu tidak. Jawaban yang sangat tepat untuk menjelaskan
bagaimana awal mula segalanya ialah “Pada
mulanya ialah materi”, karena materi lah yang menjadi penggerak dan di
gerakkan, bukan ide ataupun firman. Perkembangan material itulah yang menjadi
suatu kemenangan mutlak teori Darwin atas agama yang konservatif.
Sehingga kesimpulannya kita dapatkan bahwa Darwinisme
memang sangat mempengaruhi pemikiran Karl Marx atas Materialisme Historisnya.
Namun, kita dapat menarik garis perbedaannya bahwa perbedaan antara
Materialisme Historis Marx dengan teori evolusinya Darwin terletak pada siapa
pengaruhi siapa. Materialisme Historis menyatakan bahwa masyarakat dalam
perkembangannya dipengaruhi corak produksi dan masyarakatlah yang mempengaruhi
alam yang mereka tempati, namun Darwinisme mengambil garis yang hati-hati
ketika menentukan bagaimana sel pertama di bentuk oleh proses reaksi kimia yang
rumit. Namun, demikian bukan suatu pernyataan mutlak bahwa bagaimana masyarakat
mempengaruhi alam, karena setidaknya proses perkembangan materi lah yang
mempengaruhi materi itu sendiri.
Artikel yang cukup singkat ini cukup membeberkan
bagaimana Charles Darwin dapat mempengaruhi Karl Marx dalam tulisannya. Juga
bagaimana Darwinisme bertahan dengan sisa-sisa kekuatannya melawan pemikiran
Idealis seperti para agamawan gereja. Benarlah kata para filsuf Materialis
bahwa pada mulanya ialah materi. Para penganut Materialisme Dialektika
melengkapinya dengan kata-kata “Pada
mulanya ialah materi, namun tidak konstan karena yang menjadi persoalan adalah
perubahan materi tersebut secara bertahap”.
(Alvie, 05 Mei
2015)