Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

15 Mei 2015

DARWINISME DAN MARXISME



DARWINISME & MARXISME


Dunia terperanjat ketika seorang ahli Biologi asal Inggris menerbitkan The Origin of Species sebagai hasil dari studi bandingnya ke Galapagos. Para ahli ilmu pengetahuan menyebutkan bahwa inilah adalah suatu kemenangan telak dari ilmu pengetahuan dan para agamawan mengatakan bahwa ini adalah kiamat bagi agama. Mengapa ? Karena Darwin si pembuat buku menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari sifatnya yang kuantitatif menjadi kualitatif. Dia berasumsi bahwa asal makhluk hidup itu dari satu sel lalu menjadi banyak makhluk hidup dan akhirnya manusia lah sebagai perkembangan paling mutakhir dari proses tersebut. Teori tersebut dinamakan teori evolusi dan oleh para ahli menyebutkan bahwa teori itu benar-benar terjadi. Darwin jelas menyatakan bahwa perkembangan kehidupan makhluk hidup atau munculnya kehidupan itu tanpa campur tangan bentuk ghaib apapun.

Teori tersebut menjadi sebuah kebenaran ketika ditemukan banyak fosil-fosil makhluk hidup zaman dahulu yang menjadi bukti adanya suatu lompatan kuantitatif ke lompatan kualitatif. Bukti-bukti tersebut di perkuat dengan ditemukannya hominid di Afrika dan beberapa spesies kera berjalan tegak lainnya. Beberapa spesies ini mempunyai perkembangan volume otak hingga menuju kesempurnaan otak Homo Sapiens. Bukti-bukti tersebut akhirnya menyatakan bahwa teori evolusi Darwin adalah bentuk Materialisme Historis dalam ilmu alam. Bahkan Engels menyatakan bahwa teori evolusi Darwin harusnya mendapatkan apresiasi dan patut menjadi loncatan ilmu pengetahuan dunia, sama halnya seperti Newton yang telah menyatakan hukum mekanika.

Sebelum Darwin, orang Yunani lah yang terlebih dahulu bersasumsi bahwa manusia berasal dari ikan. Bukan itu saja, beberapa mitologi di dunia seperti mitologi orang-orang pasifik juga menyatakan hal yang sama. Namun, Darwin lah yang pertama kali membuat hipotesa ilmiah soal evolusi sebenarnya. Bahwa menurutnya yang paling fundamental adalah segala bentuk kehidupan di dunia awalnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Hal ini sungguh bertentangan dengan kata-kata pertama dalam Injil yang menyebutkan bahwa “Pada mulanya ialah firman Tuhan”. Goethe menyatakan bahwa pada mulanya ialah kerja. Ini adalah suatu kemajuan filsafat yang luar biasa. Agama yang telah menggelapkan Eropa pada masa kegelapan akhirnya tercerahkan. Ketika Darwin, Descartes, dan Galileo sebagai pejuang ilmu pengetahuan naik ke atas, maka seketika itu juga hilang lah otoritas keagamaan.

Jika Marx berbicara lompatan dialektika dalam perspektif Materialisme Historis, maka Darwin si ahli biologi berbicara lompatan dialektika dalam perspektif Biologi. Tahap-tahap tersebut dilalui dengan proses yang sangat panjang dan melalui tahapan seleksi alam. Perbedaan mendasar antara Marx dan Darwin adalah bahwa Marx menempatkan manusia sebagai posisi sentris dalam perkembangan sejarah, sedangkan Darwin menetapkan bahwa spesies makhluk hiduplah yang dipengaruhi alam. Secara tidak langsung, Darwin menyatakan bahwa alam lah yang mempengaruhi sejarah perkembangan makhluk hidup. Hal inilah yang akhirnya membuat teori Marx dan Darwin agak bertentangan. Namun, Marx dan terutama Engels sangat mengagumi Darwin dan memakai teorinya untuk menjelaskan bagaimana peran kerja manusia dari masa ke masa. Hakikat dari perkembangan manusia dari masa ke masa ialah kerja. Pekerjaan itulah yang akhirnya membuat manusia mampu berevolusi dari nenek moyangnya, kera.

Mari kita analisis bagaimana pandangan Darwin itu bertahan sehingga kita bisa mempercayainya sebagai suatu bentuk Materialisme Historis dalam biologi. 3,5 Milyar tahun yang lalu adalah masa dimana sel pertama muncul. Para ahli Darwinis melakukan percobaan-percobaan ilmiah tuk membuktikan pernyataan bagaimana sel tersebut muncul akibat rantai dari reaksi kimia. Oksigen, nitrogen, air, amonia, dan metana adalah unsur pertama pembentuk asam amino sederhana yang menjadi dasar dari molekul kehidupan. Asam amino tersebut bereaksi dengan rantai kimia lainnya dengan bantuan sinar ultraviolet membentuk rantai protein yang rumit. Protein, seperti yang kita ketahui adalah unsur yang berada dalam protoplasma sel yang menjadi unsur penggerak kehidupan. Sedangkan rantai molekul yang lebih rumit seperti asam nukleat yang menyimpan unsur genetika terbentuk lebih rumit lagi. Reaksi antara protein dengan asam nukleat hanya bisa menghasilkan makhluk molekuler seperti virus. Bagaimana dengan sel ?

Pernyataan dalam Reason In Revolt karya Alan Woods dan Ted Grant dapat menjelaskan hal ini :
“Dengan bantuan katalis berbagai molekul dapat berinteraksi dan berfusi satu sama lain untuk membentuk apa yang disebut Kauffman sebagai "himpunan yang sanggup mengakatalisasi diri sendiri" [autocatalytic set]. Dengan cara ini, keteraturan yang muncul dari kekacauan molekular akan mewujudkan dirinya dalam sebuah sistem yang bertumbuh. Ini bukanlah kehidupan seperti yang kita kenal saat ini. Ia tidak memiliki DNA, kode genetik, dan membran sel. Tapi ia dapat menunjukkan beberapa ciri yang mirip dengan ciri mahluk hidup. Contohnya, ia dapat bertumbuh. Ia akan memiliki sejenis metabolisme - menyerap satu pasokan "pangan" yang terdiri dari molekul-molekul asam amino dan lain-lain senyawa sederhana, menambahkan senyawa-senyawa ini pada dirinya sendiri. Itu adalah satu bentuk reproduksi yang primitif, yang memperbesar diri sendiri untuk menyebar ke daerah yang lebih luas. Ide ini, yang merupakan satu contoh dari lompatan kualitatif, atau "fase peralihan" dalam bahasa kompleksitas akan berarti bahwa kehidupan tidaklah muncul sebagai sebuah peristiwa acak, tapi sebagai hasil dari kecenderungan inheren di alam untuk semakin menaikkan tingkat pengorganisasian.”

Virus, makhluk ini menjelaskan bagaimana teori evolusi mencapai kemenangannya. Hal ini terlihat dengan hanya ada reaksi antara RNA atau DNA dengan protein yang melingkupinya dengan berbagai jenis rantainya membentuk suatu kehidupan yang hanya aktif bila ada inangnya saja. Cyanobacteria atau ganggang biru mungkin merupakan suatu bentuk sel yang palin sederhana dan masih hidup hingga kini. Ganggang biru ini menjelaskan bagaimana sebuah sel sederhana bertahan dalam proses reaksi kimia yang parah pada masa Archean hingga kini. Sel ganggang biru hanya terdiri dari kumpulan protein dan DNA yang tergabung akibat ikatan kimia yang dibantu dalam sinar ultraviolet dan Karbon Dioksida. Jika menuruti hukum kekekalan energi, maka kita mendapati Karbon Dioksida yang diserap sel tersebut berubah menjadi oksigen dan karbon yang menjadi unsur pertama tidaklah menghilang, melainkan menjadi pembentuk ikatan antara protein dan energi. Ya, sel tersebut memerlukan energi untuk bergerak, maka karbon tersebutlah yang dibakar oleh oksigen sehingga menjadi energi yang menggerakkan suatu sel.

Rantai energi yang dihasilkan akibat reaksi kimia ini akhirnya menjadi suatu sifat organik dari suatu sel sederhana, yaitu gerak. Namun, materi hidup pada masa itu belum menemukan kesadaran dirinya diakibatkan belum adanya corak produksi yang memungkinkan, maka gerak yang di lakukan atas dasar mendekati molekul yang siap direaksikan dengan keadaan internal sel. Misalnya, reaksi garam atau difusi ion antara ion Natrium dengan ion Chlor yang berdifusi melalui membran sel. Lalu, ketika sel mencapai tingkat kesempurnaan gerak akibat corak produksi yang memadai, maka sel berevolusi mengikuti perkembangan keadaan bumi yang saat itu mendingin dan mendekati masa Proterozoikum. Masa yang dilalui sel tersebut untuk berevolusi hingga 2 milyar tahun. Cukup logis untuk menjelaskan bagaimana sebuah sel harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di alam. Corak produksi yang terjadi akhirnya membantu penyesuaian sel tersebut, maka terjadilah tahap seleksi alam.

Bagaimana dengan ledakan kambrium ? Suatu masa dimana makhluk hidup berkembang hingga beratus-ratus filum hanya dengan waktu 5 juta tahun saja ? Para Idealis memukul mundur para Darwinis dengan fakta yang demikian uniknya ini. Namun, kita sebagai seorang Marxis adalah seorang Materialis pula, ledakan kambrium bukanlah suatu ledakan penciptaan yang terjadi secara mendadak atau menurunkan hewan dari langit, namun juga merupakan proses evolusi. Keadaan pada masa sebelum Kambrium, yaitu masa awal Proterozoikum merupakan keadaan dimana bumi mulai stabil, sel yang kita jelaskan tadi mulai menemukan penyesuaian akibat keadaan alam tersebut. Makhluk hidup sederhana tumbuh dengan perlahan hingga ke masa kambrium. Di masa kambrium, keadaan bumi menurut komposisi materialnya adalah tempat yang sangat ideal untuk hidup, dimana pada masa itu komposisi oksigen hingga 22% dan Nitrogen hingga 70%. Keadaan yang demikian memicu reaksi kimia berlebihan sehingga menimbulkan mutasi. Apalagi Karbon yang menjadi energi terus bersirkulasi juga bersama Fosfor. Keadaan yang demikian cepatnya menimbulkan perubahan yang tidak biasa pada evolusi makhluk hidup. Makhluk hidup berevolusi secara cepat secara mutasional. Kita tidak bisa berspekulasi tentang jumlah spesies yang hadir pada masa itu, namun bisa saja satu spesies mengalami jumlah perbedaan yang banyak seperti yang terjadi pada manusia dengan rasnya. Semakin tinggi tingkat kerumitan molekular yang terjadi pada makhluk hidup, maka semakin banyak perbedaan antara varietas yang satu dengan yang lainnya. Yang terjadi adalah suatu ledakan populasi makhluk hidup yang tidak biasa.

Memang kita mengenal bahwa evolusi kehidupan tidaklah dapat dipahami jika tidak ada bentuk peralihan seperti yang dikatakan Engels dalam Dialectic on Nature :

"Garis-garis yang tebal dan tegas tidaklah sesuai untuk teori evolusi. Bahkan batasan antara mahluk bertulang belakang dengan yang tidak bertulang belakang tidak lagi kaku, seperti makin tipisnya batas antara ikan dan amfibi, sementara batas antara burung dan reptil semakin menipis dari hari ke hari. Antara Compsognathus dan Arcaeopteryx hanya dibutuhkan beberapa rantai antara saja, dan paruh burung yang masih bergigi muncul di mana-mana di kedua belahan dunia. 'Atau ini, ... atau itu' menjadi semakin lama semakin tidak cukup. Di antara hewan-hewan yang tingkatannya lebih rendah konsep tentang individu tidak dapat ditandai dengan tajam. Bukan hanya kita tidak dapat menunjuk satu hewan sebagai sebuah individu atau koloni, tapi juga di mana dalam perkembangannya satu individu berhenti mengada dan yang lain muncul menggantikannya.”

Namun, kita dapat berasumsi bahwa bentuk peralihan yang terjadi dalam ledakan kambrium merupakan peralihan spontan, sama halnya dengan yang terjadi pada masa Archean ketika sel mengambil bentuk pertamanya.

Ledakan kambrium akhirnya menjadi suatu fenomena yang terjadi pula di masa kini ketika terjadi ledakan Holosen akibat menghangatnya suhu bumi setelah masa Dilivium atau zaman es yang mencair sekitar 12.000 tahun yang lalu. Dan kepunahan massal yang terjadi selama lima kali juga terjadi karena faktor alam yang mempengaruhi keadaan bumi. Evolusi dipengaruhi oleh peristiwa alam, seperti yang di yakini Charles Darwin ternyata tidak berlaku bagi manusia di masa Holosen. Nyatanya, manusia lah yang akhirnya yang Maha Kuasa mempengaruhi keadaan alam.

Sekarang mari kita lihat sejauh mana Darwinisme mempengaruhi Marxisme itu sendiri.

Marx dan Engels memakai teori Darwin sebagai posisi paling penting dalam teorinya. Namun, mengubah posisi subjeknya dari alam menjadi makhluk hidup. Dengan demikian, Marx tidak lagi menerapkan seleksi alam dalam perkembangan sejarah, melainkan perjuangan lah yang akhirnya membuat sejarah itu berubah. Secara tidak langsung, Materialisme Historis memakai teori Darwin dan di satu sisi menentangnya. Darwin dan Marx sama-sama seorang Materialis Dialektis, namun masih ada posisi Idealis yang masih dipegang oleh Darwin, yaitu adanya keterkaitan kekuatan alam dalam menyeleksi perkembangan makhluk hidup tersebut. Senada dengan pernyataan Marx, Anaxagoras menyatakan bahwa perkembangan mental manusia tergantung dari terbebaskannya tangan. Marx dalam kalimat lain menyatakan bahwa hal yang mempengaruhi perkembangan adalah corak produksi dari setiap masyarakat. Pernyataan ini sedikit menentang teori Darwin yang menyatakan bahwa perkembangan dari makhluk hidup bukan tergantung dari corak produksinya, melainkan dari peristiwa-peristiwa alam yang menyeleksinya.

Marx dan Engels tentu mempunyai alasan tertentu mengapa manusia atau makhluk hidup pada umumnya menjadi penggerak utama dari sejarah, hal ini dikarenakan tidak ada satupun peristiwa sejarah yang terjadi karena alam, semuanya karena adanya pengaruh makhluk hidup di dalamnya. Sedangkan kalau kita menilik dari kejadian Dialektika dalam alam semesta, sekilas teori Darwin menjadi benar, namun apa yang terjadi di alam yang berpengaruh kepada makhluk hidup bukan sebagai bentuk seleksi, namun sebagai bentuk penyesuaian gen yang terus berkembang dari masa ke masa. Teori ini mendekati pernyataan Lamarck soal perkembangan evolusi makhluk hidup daripada teori Darwin itu sendiri.

Namun, ada beberapa hal yang merupakan kesamaan antara Darwinisme dengan Materialisme Historis, termasuk tentang pembantahan kata-kata dalam Injil yang menyebutkan bahwa “Pada mulanya ialah firman”. Apa bisa kita mengambil kata-kata yang demikian secara Materialis ? Tentu tidak. Jawaban yang sangat tepat untuk menjelaskan bagaimana awal mula segalanya ialah “Pada mulanya ialah materi”, karena materi lah yang menjadi penggerak dan di gerakkan, bukan ide ataupun firman. Perkembangan material itulah yang menjadi suatu kemenangan mutlak teori Darwin atas agama yang konservatif.

Sehingga kesimpulannya kita dapatkan bahwa Darwinisme memang sangat mempengaruhi pemikiran Karl Marx atas Materialisme Historisnya. Namun, kita dapat menarik garis perbedaannya bahwa perbedaan antara Materialisme Historis Marx dengan teori evolusinya Darwin terletak pada siapa pengaruhi siapa. Materialisme Historis menyatakan bahwa masyarakat dalam perkembangannya dipengaruhi corak produksi dan masyarakatlah yang mempengaruhi alam yang mereka tempati, namun Darwinisme mengambil garis yang hati-hati ketika menentukan bagaimana sel pertama di bentuk oleh proses reaksi kimia yang rumit. Namun, demikian bukan suatu pernyataan mutlak bahwa bagaimana masyarakat mempengaruhi alam, karena setidaknya proses perkembangan materi lah yang mempengaruhi materi itu sendiri.

Artikel yang cukup singkat ini cukup membeberkan bagaimana Charles Darwin dapat mempengaruhi Karl Marx dalam tulisannya. Juga bagaimana Darwinisme bertahan dengan sisa-sisa kekuatannya melawan pemikiran Idealis seperti para agamawan gereja. Benarlah kata para filsuf Materialis bahwa pada mulanya ialah materi. Para penganut Materialisme Dialektika melengkapinya dengan kata-kata “Pada mulanya ialah materi, namun tidak konstan karena yang menjadi persoalan adalah perubahan materi tersebut secara bertahap”.




(Alvie, 05 Mei 2015)

14 Mei 2015

APAKAH KITA PERLU NASIONALISASI ASET NEGARA?



“Menjawab Kritik Atas Nasionalisasi Aset yang Sedang Kita Galakkan”


Mengutip dari perkataan Marx dalam Manifestonya :

Ciri istimewa Komunisme - bukanlah penghapusan milik pada umumnya, tetapi penghapusan milik borjuis. Tetapi milik perseorangan borjuis modern adalah pernyataan terakhir dan paling sempurna dari sistim menghasilkan dan memiliki hasil-hasil yang didasarkan pada antagonisme-antagonisme kelas, pada penghisapan terhadap yang banyak oleh yang sedikit.

Tugas kaum Komunisme adalah menghapus kepemilikan pribadi atas alat produksi yang dipegang oleh borjuis, jelas terpampang dalam Manifesto bahwa yang di hapus adalah milik perseorangan bojuis modern. Hal ini bisa dimengerti dengan satu kalimat sederhana yaitu “Penghapusan milik perseorangan”. Penghapusan yang demikian dapat menghilangkan antagonisme-antagonisme kelas yang telah memperlebar jurang kesenjangan sosial.

Borjuis, dalam hal ekonomi telah menghisap sebagian besar waktu kelas pekerja untuk bekerja tanpa memberikan objek produksi yang berarti. Diasumsikan bahwa kelas pekerja yang telah menjual tenaga kerjanya lalu di bayar dengan upah hanyalah sebesar kerja yang dilakukannya saja. Misalnya, buruh yang bekerja selama 12 jam untuk memenuhi permintaan manufaktur dengan biaya produksi sebesar Rp. 500.000,-, biaya tersebut sudah termasuk biaya mesin dan bahan baku serta upah bagi si buruh yang di asumsikan sebesar Rp.100.000,- per hari. Pemenuhan kebutuhan produksi tersebut ternyata diselesaikan si buruh hanya berkisar 6 jam dari kontrak kerja semula. 6 jam yang demikian adalah penggantian atas upah yang diberikan oleh si pemilik manufaktur yang sebesar Rp.100.000,- itu. Sisanya, disebut oleh Marx sebagai kerja yang berlebih. Disinilah nilai lebih yang asal-usulnya tidak dapat dipastikan muncul. Menurut Marx, nilai lebih ini harusnya menjadi asumsi dasar atas penggantian upah selanjutnya yang 6 jam itu, namun si kapitalis membuatnya menjadi laba. Kita, kaum Marxis mengenal hubungan dasar antara modal dan barang dagangan dengan M – C – M, atau barang dagangan dengan modal sebagai C – M – C sebagai sirkulasi yang berimbang. Namun dengan adanya penghisapan yang demikian, maka muncul lah nilai sirkulasi menjadi M – C – M’ dengan M’ = M + ΔM. Nilai ΔM tersebutlah yang disebut nilai yang berlebih.

Kepemilikan alat produksi yang dikuasai oleh perseorangan tersebut ternyata menghasilkan nilai yang berlebih. Para ahli ekonomi klasik menyebutkan bahwa nilai yang berlebih itu merupakan profit bagi si kapitalis. Mari kita telusuri asal usul profit tersebut. Pada Das Kapital, Marx menyebutkan bahwa laba tersebut diperoleh akibat dari eksploitasi kerja kolektif yang dilakukan si kapitalis. Seharusnya yang terjadi ialah bahwa asumsi dasar hubungan ekonomi itu tidak menghasilkan nilai lebih, namun harus sesuai kebutuhan yang ada sehingga tidak menimbulkan krisis over produksi, namun yang terjadi nilai lebih dijadikan dasar bagi para ahli ekonomi klasik sebagai profit yang memang layak didapatkan si kapitalis tanpa kerja!

Inilah alasan utama mengapa kepemilikan pribadi tersebut harus dihapus dan diganti dengan kepemilikan bersama atas alat produksi. Dengan kata lain, sebuah negara sosialis seperti Uni Soviet harus mengambil alih semua aset yang ada dalam negaranya dengan menasionalisasi keseluruhannya.
Sebelum melangkah lebih jauh lagi, maka dimana letak keharusan adanya nasionalisasi aset negara dalam sistem Sosialisme. Mari kita kutip perkataan Engels dalam Asal Usul Keluarga, Milik Perseorangan dan Negara berikut ini.

negara adalah pengakuan bahwa masyarakat ini terlibat dalam kontrakdisi yang tak terpecahkan dengan dirinya sendiri, bahwa ia telah terpecah menjadi segi-segi yang berlawanan yang tak terdamaikan dan ia tidak berdaya melepaskan diri dari keadaan demikian itu. Dan supaya segi-segi yang berlawanan ini, kelas-kelas yang kepentingan-kepentingan ekonominya berlawanan, tidak membinasakan satu sama lain dan tidak membinasakan masyarakat dalam perjuangan yang sia-sia, maka untuk itu diperlukan kekuatan yang nampaknya berdiri di atas masyarakat, kekuatan yang seharusnya meredakan bentrokan itu, mempertahankannya di dalam ‘batas-batas tata tertib’; dan kekuatan ini, yang lahir dari masyarakat, tetapi menempatkan diri di atas masyarakat tersebut dan yang semakin mengasingkan diri darinya, adalah Negara

Jika kita simpulkan dengan singkat, maka pernyataan Engels kurang lebih berbunyi: “Negara adalah produk dari antagonisme-antagonisme kelas yang tak pernah terdamaikan”. Asal-usul antagonisme kelas ini ialah karena di satu sisi, pihak minoritas menguasai alat produksi tertentu, sedangkan pihak mayoritas bekerja untuk pihak penguasa yang minoritas tersebut tanpa mendapatkan objek produksinya. Jelas, maka dari itu nasionalisasi di perlukan untuk mengiringi lenyapnya sebuah negara.

Mengapa sebuah kepemilikan pribadi yang dipelihara sebuah negara demokratik borjuis bisa menghisap ? Lenin dalam Negara dan Revolusi menyebutkan bahwa: “Republik demokratis adalah selubung politik terbaik yang mungkin bagi Kapitalisme dan karena itu kapital, setelah menguasai selubung yang terbaik itu menegakkan kekuasaannya yang dengan begitu aman, begitu pasti, sehingga tidak ada perubahan apapun baik perubahan orang, lembaga maupun partai dalam republik borjuis – demokratis yang dapat menggoyang kekuasaan itu”.

Selubung politik terbaik dapat menghancurkan kelas proletar yang mayoritas tersebut secara perlahan. Kita melihat realita bahwa di Indonesia sendiri sebagai sebuah negara borjuis yang mempunyai berbagai sumber daya alam yang berlimpah bahkan mempunyai mayoritas rakyat yang terjerat kemiskinan, mengapa demikian ? Itu karena adanya kepemilikan pribadi yang dikuasai segelintir orang yang dilindungi penguasa sebagai pemegang otoritas politik aset sumber daya tersebut. Seperti kata Lenin tersebut, bahwa para penguasa di negeri kita memberi pajak rendah pada para pengusaha asing maupun lokal yang menguasai aset negara kita untuk memberikan devisa bagi negara kita. Namun, devisa tersebut tidaklah untuk rakyat, pajak yang rendah tersebut hanyalah untuk memelihara kestabilan mekanisme pasar bebas yang berlangsung sebagai bentuk Internasionalisme Liberal. Rakyat menanggung akibatnya sebagai pekerja yang terus bekerja mengelola aset swasta tersebut tanpa memperoleh objek produksinya. Untuk mendapatkan objek tersebut, rakyat bahkan terpaksa membayar dari upah yang mereka terima. Sudah terima upah yang tidak sesuai, harus pula membayar untuk objek yang dihasilkan upah tersebut. Itulah kekacauan yang ditimbulkan akibat kepemilikan pribadi tersebut.

Marx, Engels, dan Lenin sepakat dalam satu hal, yaitu bahwa Kapitalisme akan mengalami kehancurannya suatu saat karena adanya suatu krisis over produksi. Krisis yang disebabkan produksi barang dagangan secara berlebihan tanpa ada penyeimbang konsumsi dari pekerja akibat kurangnya daya konsumsi kelas pekerja itu sendir. Hal itu telah kita alami selama berkali-kali, yaitu pada tahun 1929, 1965, 1977, 1998, dan yang terakhir adalah tahun 2008. Namun, para ahli ekonomi Liberal menutupi krisis tersebut dengan suatu terobosan yang luar biasa, yaitu dengan menjual aset bank kepada swasta dan menerapkan program hutang yang menjadi beban bagi setiap penduduk negara. Krisis memang terselesaikan, namun setiap penduduk di bebani hutang per kepalanya, dan di negeri kita bisa mencapai Rp. 8.000.000,- per kepalanya! Itulah keburukan terdahsyat yang di alami kita selama kepemilikan pribadi masih ada.

Lalu solusinya haruskah kita nasionalisasi semua aset negara ?

“Proletariat merebut kekuasaan negara dan pertama-tama mengubah alat-alat produksi menjadi milik negara. Tetapi dengan ini ia mengakhiri dirinya sendiri sebagai proletariat, dengan ini ia mengakhiri segala perbedaan kelas dan antagonisme kelas, dan bersama itu juga mengakhiri negara sebagai negara.

Kutipan Engels tersebut memberikan jawaban bahwa adanya suatu keharusan untuk mengubah alat produksi pribadi tersebut menjadi milik negara. Namun, adalagi suatu permasalahan ketika negara menguasai alat produksi, apakah kaum birokrat akan menguasainya dan proletar lagi-lagi hanya menjadi kelas pekerja yang tiada menghasilkan objek bagi dirinya ? Negara sosialis adalah representasi dari sebuah wakil resmi masyarakat. Artinya, negara tersebut bukan menjadi fungsi berkuasa lagi, namun menjalankan fungsi administrasi saja. Negara hanyalah menjadi kontrol atas aset-aset yang telah dinasionalisasi. Sedangkan yang menjadi penguasa atas aset tersebut adalah jelas kelas pekerja. Fungsi administrasi haruslah dijalankan oleh kelas pekerja secara bergiliran. Senada dengan pernyataan Engels bahwa ketika semua orang menjalankan fungsi birokrasi atas alat produksi secara bergiliran, maka tidak ada lagi yang namanya birokrasi, dengan kata lain, perlahan negara tersebut pasti akan melenyap seiring hilangnya antagonisme kelas akibat hilangnya kepemilikan pribadi. Mari kita simak pernyataan Engels dalam Anti Duhringnya tersebut.

Campur tangan kekuasaan negara dalam hubungan-hubungan sosial menjadi tidak diperlukan lagi dari satu bidang ke bidang yang lain dan ia berhenti dengan sendirinya. Pemerintahan atas orang-orang diganti dengan pengurusan barang-barang dan pimpinan atas proses produksi. Negara tidaklah dihapuskan, ia melenyap. Atas dasar ini harus dinilai kata-kata ‘negara rakyat bebas’

Apakah itu benar-benar humanis bagi kita ? Marx dan Engels tidaklah menginginkan manusia bertarung akibat adanya kontradiksi yang dihasilkan oleh faktor ekonomi akibat kepemilikan pribadi melainkan mereka menginginkan agar manusia menjalankan hakikatnya sebagai manusia seutuhnya. Marx mengatakan :

“Kelas buruh dalam proses perkembangannya akan menggantikan masyarakat lama borjuis dengan perserikatan yang akan menyingkirkan kelas-kelas beserta pertentangannya, dan tidak akan ada lagi kekuasaan politik apapun yang sebenarnya, karena kekuasaan politik adalah justru pernyataan resmi dari antagonisme kelas dalam masyarakat borjuis.”

Dalam bukunya, Kemiskinan Filsafat  tersebut jelas Marx memberikan gambaran bahwa ketika kelas pekerja menguasai negara, maka tidak akan ada lagi kekuasaan politik apapun, bahkan terhadap alat produksi sekalipun. Pertentangan antar kelas itu hilang seiring hilangnya kepemilikan pribadi tersebut. Kita sebagai manusia akan kembali ke hakikat dasar kita sebagai makhluk yang hidup berdasarkan kerja sesuai kemampuan dan hidup sesuai kebutuhan. Bisa dikatakan bahwa fungsi uang sebagai alat tukar akan melenyap! Bukankah ini manusiawi ?

Namun apakah ini adil bagi para kaum tani atau borjuis kecil yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan kelas pekerja ? Mari kita lihat perkataan Marx dalam Manifestonya yang menjadi pedoman kita tersebut.

Kita kaum Komunis telah dimaki bahwa kita ingin menghapuskan hak atas milik yang diperdapat seseorang sebagai hasil kerja orang itu sendiri, milik yang dianggap sebagai dasar dari semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang.
Milik yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal! Apakah yang tuan maksudkan itu milik si tukang kecil, milik si tani kecil, suatu bentuk milik yang mendahului bentuk milik borjuis ? Itu tidak perlu dihapuskan; perkembangan industri telah menghancurkannya banyak sekali, dan masih terus menghancurkannya setiap harinya.
Ataukah yang tuan maksudkan itu milik perseorangan borjuis modern?
Tetapi adakah kerja-upahan, kerja si proletar, mendatangkan sesuatu milik untuk dia? Sama sekali tidak. Ia menciptakan kapital, yaitu semacam milik yang menghisap kerja-upahan, dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa ia menghasilkan kerja-upahan baru untuk penghisapan baru. Milik dalam bentuknya yang sekarang ini adalah didasarkan pada antagonisme antara kapital dengan kerja-upahan. Marilah kita periksa kedua belah segi dari antagonisme ini.
Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak saja harus mempunjai kedudukan perseorangan semata-mata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif, dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malahan lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.
Oleh karena itu kapital bukanlah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah suatu kekuasaan sosial. Jadi, jika kapital itu dijadikan milik bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, dengan itu milik pribadi tidak diubah menjadi milik sosial. Hanyalah watak sosial milik yang diubah. Watak kelasnya hilang.

Marx menyebutkan bahwa milik pribadi para petani miskin dan borjuis kecil yang nasibnya tidak berbeda dengan proletar tidaklah di nasionalisasi, atau bahkan penghapusan kepemilikan pribadi si borjuis yang menghisap mayoritas proletar akan menghilangkan watak kelasnya yang suka menghisap. Apakah itu tidak lain bersifat humanistis bagi kita ? Sifat politik yang dimiliki umat manusia di hilangkan dan diganti dengan sifat administratif yang lebih humanis ketika semua aset di nasionalisasi.

Keadilan tersebut ternyata berpihak kepada rakyat yang tertindas, namun sampai saat ini kita terdistorsi akan pernyataan bahwa Nasionalisasi aset akan menghancurkan persaingan antar umat manusia. Persaingan tersebut tidaklah di hilangkan, namun dipelihara dalam proses produksi. Kita tidak lagi bersaing dalam memperebutkan alat produksi dan persaingan atas hukum permintaan dan penawaran, melainkan bersaing atas proses produksi yang kita kerjakan.

Jelas, nasionalisasi aset harus kita galakkan untuk kepentingan rakyat banyak sebagai bentuk penghilangan kelas yang menghisap dan mendamaikan kelas-kelas yang bertentangan. Kita juga harus menasionalissi harta warisan borjuis modern yang dipelihara sebagai bentuk feodalistik atas alat produksi karena hal tersebut akan menimbulkan sifat pertentangan lagi. Tidaklah sial bagi para borjuis ketika hartanya di nasionalisasi karena bagi kita yang terpenting adalah rasa kemanusiaan tersebut, bukan rasa ingin menindas kelas pekerja demi sebuah kebutuhan perseorangan. Sedangkan para petani yang tidak di nasionalisi, berhak untuk bekerja di tanahnya yang sempit itu dengan asumsi bahwa hasilnya akan di bagi rata untuk keperluan kelas pekerja di kota. Sungguh humanis sistem yang kita bangun ini!




(Alvie, 7 Mei 2015)