“Krisis Malaise & Pengaruhnya Pada Hindia Belanda”
Depresi
ekonomi adalah suatu sebutan untuk masa dimana pada saat itu terjadi kelesuan
finansial yang membuat perekonomian suatu wilayah menjadi hancur. Depresi ekonomi
bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti turunnya indeks harga saham hingga
melemahnya suatu mata uang sebagai akibat dari kelesuan bisnis dan melemahnya
faktor ekonomi lainnya.
Akibat dari
depresi ekonomi tersebut bisa beragam, secara garis besarnya, melemahnya
ekonomi suatu wilayah akan mengakibatkan terganggunya aktivitas ekonomi di
wilayah tersebut, bahkan bisa menghancurkan kehidupan sosial di wilayah
tersebut. Maka tidak heran, seperti kata Marx, bahwa sejarah tersebut
dikendalikan oleh faktor ekonomi. Terhambatnya produksi dan menurunnya daya
konsumsi masyarakat bisa membuat sosialitas masyarakat bisa hancur sama sekali.
Akhirnya, seperti yang pernah kita lihat pada depresi ekonomi sebelumnya, PHK
besar-besaran, pengangguran, dan hancurnya stabilitas nasional suatu wilayah.
Untuk
menghadapi yang demikian, maka diperlukan suatu ketahanan Nasional yang bisa
membendung arus efek domino dari krisis tersebut. Namun, dalam sejarahnya
ketahanan Nasional yang demikian hampir tidak bisa membendung arus krisis
tersebut, bahkan beberapa kali terjadi krisis moneter, maka solusi terbaik
untuk mengakhiri krisis tersebut adalah menutup kerugian dengan hutang, seperti
yang pernah terjadi pada VOC 200 tahun yang lalu. Hutang tersebut tentunya akan
menutupi lubang – lubang krisis yang mengancam stabilitas Nasional, tetapi akan
menjadi suatu permasalahan baru yang tidak akan kita sukai. Hal inilah yang
dialami oleh Indonesia sebagai akibat tidak langsung dari krisis ekonomi pada
akhir rezim Orde Lama dan Orde Baru.
Dalam
sejarahnya, tidak ada yang lebih parah dari krisis Malaise yang terjadi pada
akhir dekade 30an pada abad 20. Krisis ini sebagai akibat tidak langsung dari
kelesuan moneter Amerika Serikat yang berdampak luar biasa terhadap seluruh
negara di dunia. Tidak terkecuali Indonesia yang pada waktu itu masih disebut
Hindia Belanda. Krisis tersebut merupakan kejadian inflasi terburuk dalam
sejarah manusia. Dalam dampak sosial budayanya di Amerika Serikat, krisis
tersebut melahirkan budaya generasi yang biasa disebut Baby Booming.
Depresi
“Malaise” tersebut dimulai dengan “Selasa
Kelam”, yaitu jatuhnya bursa saham Wall of Street, New York pada tanggal 24
Oktober 1929, yang mencapai keparahan klimaks pada tanggal 29 Oktober 1929.
Imbas terparah dari jatuhnya bursa saham tersebut adalah perindustrian berat,
tetapi meskipun perindustrian berat mendapat tekanan terparah, efek domino
tetap terjadi sehingga membuat seluruh sektor perekonomian hancur seketika.
Sebab utama
terjadinya Malaise adalah kemiskinan tenaga produksi sebagai akibat tidak
langsung dari Perang Dunia I yang terjadi sebelumnya. Yang dimaksudkan dari
kemiskinan tenaga produksi adalahnya berkurangnya sumber daya manusia yang
terampil dalam mengelola perindustrian karena sebab sederhananya adalah kebutuhan
perang yang sebelumnya meningkat pada tahun – tahun Perang Dunia I.
berkurangnya faktor produksi tersebut membuat pemasokan produksi berkurang.
Tetapi kenyataan berbanding terbalik dengan teori. Rupanya pemasokan produksi
tersebut malah menumpuk, hal tersebut di sebabkan karena adanya produksi besar
– besaran yang terjadi sebelumnya sehingga terjadi penumpukan barang – barang
yang membuat nilai dari barang tersebut menurun dari tahun ke tahun.
Faktor lain
sebagai penyebab dari krisis Malaise adalah efek domino dari sebab pertama.
Krisis pasca Perang Dunia I terkait langsung dengan daya konsumsi masyarakat
yang semakin menurun dari tahun ke tahunnya. Seperti yang diterangkan
sebelumnya, nilai barang yang disimpan akhirnya berkurang sebagai akibat langsung
dari menurunnya daya konsumsi. Barang – barang tersebut dinilai menjadi tidak
berguna lagi dan akhirnya menjadi kehancuran sendiri bagi para kapital atau
pemilik modal utama.
Jika para
kapital tersebut hancur karena berkurangnya modal yang harusnya berasal dari
nilai barang tersebut dan tidak adanya nilai lebih yang dihasilkan, akhirnya
para buruh yang menjadi aspek utama dari perindustrian di PHK secara besar –
besaran. Para buruh tersebut akhirnya mengalami masa pengangguran.
Penyebab
umum dari Malaise 1929 jelas merupakan akibat tidak langsung dari Perang Dunia
I yang melanda dunia sebelumnya. Penyebab khususnya yaitu peristiwa Selasa
Hitam tersebut. Penyebab lainnya adalah munculnya Komunisme dan Fasisme sebagai
bagian dari kekuatan dunia yang baru.
Komunisme
mempunyai teori ekonomi Sosialisme yang di populerkan oleh Karl Marx, teori
ekonomi tersebut dijelaskan dengan lengkap dalam Das Kapital. Praktis teori
tersebut nyata terlihat pada negara Uni Soviet dan negara – negara lainnya yang
pada saat itu menganut ideology Komunisme. Terkuasainya sektor perekonomian
oleh negara membuat lesunya investasi asing di negara – negara Komunis
tersebut. Akhirnya sektor perindustrian swasta mati dan gulung tikar secara
besar – besaran. Teori tersebut secara praktis bisa kita sebut dengan
pemerataan ekonomi dengan kontrol penuh dari negara.
Fasisme
mempunyai teori lain dalam mempersoalkan penguasaan ekonomi. Walaupun Fasisme
sepintas terlihat mempunyai teori ekonomi yang sama dengan Komunisme, perbedaan
mendasar dari kedua ideologi tersebut dalam menyoalkan ekonomi adalah Fasisme
tidak menekankan pemerataan ekonomi seperti yang dijelaskan dalam teori ekonomi
Komunisme, tetapi lebih kepada penguasaan ekonomi oleh negara dan hasilnya pun
untuk negara. Hasilnya seperti yang kita ketahui, membangun kediktatoran dalam
sektor ekonomi.
Kedua hal
tersebut membuat para negara Kapital – Liberal pada saat itu terkena imbas dari
teori pengontrolan ekonomi sentral tersebut. Kurangnya penanaman modal
investasi asing dan ketiadaan saham swasta membuat perindustrian besar asing
mengalami kelesuan yang sangat parah. Hal inilah yang bisa dibilang sebagai
akibat tidak langsung dari terjadinya peristiwa Selasa Kelam.
Kedua
ideologi tersebut memukul keras para kapital asing yang ingin menguasai sektor
perekonomian suatu negara, tetapi kejadian tersebut akhirnya malah
menghancurkan perekonomian dunia yang pada saat itu banyak dikuasai oleh pihak
swasta karena kedua ideologi yang terbilang baru tersebut, maka baru pertama
kali sebuah negara menginterpretasikan sebuah teori penguasaan ekonomi oleh
negara.
Pengaruh Krisis Malaise 1929 Terhadap Hindia Belanda
Bagi negara
– negara jajahan yang pada saat itu masih menjadi bagian dari kolonisasi negara
– negara penjajahnya, kejadian Malaise justru melemahkan negara – negara
tersebut. Pada dasarnya, negara – negara jajahan tersebut merupakan penyuplai
dari bahan mentah produksi. Pada saat dunia kelebihan produksi barang industri
yang mengakibatkan Malaise, maka negara – negara jajahan, tak terkecuali Indonesia
mengurangi produksi barang mentahnya secara bertahap. Untuk mengurangi produksi
tersebut, maka sektor utama perkebunan mengurangi aktivitas produksinya dengan
mengurangi tenaga kerja secara besar – besaran dan diperparah lagi dengan
tekanan dari Pemerintah Kolonial yang memaksakan beberapa cara agar dapat
mengurangi dampak dari Malaise tersebut.
Pengaruh
krisis Malaise terhadap Hindia Belanda pada saat itu bisa kita bagi menurut
kategorinya yaitu dampaknya terhadap kehidupan berpolitik di Hindia Belanda,
kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan keagamaan di Hindia Belanda. Pengaruh –
pengaruh tersebut lebih banyak terjadi sebagai akibat dari efek domino dari
dampak ekonomi yang menjadi sektor utama yang terjangkit Malaise.
Dari segi
perekonomiannya, maka negara – negara jajahan seperti Hindia Belanda mendapat
pengaruh terparah karena mereka adalah pemasok bahan mentah untuk kebutuhan
industri. Akibat dari Malaise tersebut adalah pasokan barang mentah tersebut
dikurangi dan pemangkasan buruh dilakukan untuk membatasi produksi agar tidak
terjadi penumpukan barang yang membuat nilai barang tersebut berkurang secara
drastis. Selain itu, karena adanya pengurangan tenaga kerja maka Hindia Belanda
mempunyai tingkat pengangguran yang cukup tinggi sehingga hal tersebut
mengurangi daya konsumsi masyarakat. Mengurangnya daya konsumsi masyarakat
tersebut terjadi karena mengurangnya produktivitas masyarakat sebagai faktor
utama dalam sektor perekonomian.
Akibat dari depresi ekonomi yang melanda dunia pada tahun 1930-an menyebabkan
perekonomian bangsa indonesia mengalami perubahan secara tiba-tiba. Sebagaimana
ada gejala krisis yang akan terjadi di negara-negara industri sebelum kejatuhan
Wall Street pada bulan Oktober 1929, maka demikian juga di Indonesia ada
indikasi bahwa kemakmuran yang tampak pada akhir tahun 1920-an tidak akan
bertahan lama. Harga beberapa produk Indonesia telah mengalami penurunan dan
pasar untuk ekspor gula menciut karena produksi gula bit meluas dimana-mana
terutama di Inggris dan Jepang. Namun, tidak ada yang cukup siap untuk
menghadapi apa yang akan terjadi setelah Oktober 1929 pada saat jatuhnya Wall
Street (Ricklefs, 2008: 399).
Selain itu, sebenarnya jika kita katakan Hindia Belanda atau Indonesia
tidak terkena dampak langsung depresi ekonomi tersebut itu benar. Karena
rata-rata negara yang terkena dampak Malaise adalah negara – negara industri,
sedangkan latar belakang Indonesia pada saat itu adalah negara agraris. Tetapi
dampak itu terasa karena adanya pengurangan pasokan bahan mentah industri pada
saat itu. Selain itu adanya kebinyakan pembatasan produksi gula juga memukul
perekonomian Indonesia yang pada saat tu berorientasi pada perkebunan gula,
kopra, dan beberapa komoditi lainnya yang sejenis.
Saat indeks saham Wall Street benar – benar jatuh, akhirnya negara – negara
jajahan terperosok ke lubang kesengsaraan yang amat dalam. Kesengsaraan
tersebut dirasakan oleh seluruh lapisan elemen masyarakat di Hindia Belanda
hingga akhirnya Jepang datang pada tahun 1942. Gaya hidup mewah yang biasa di
terapkan oleh para penduduk Batavia kulit putih pun akhirnya tidak lagi menjadi
gaya hidup yang seharusnya pada saat Malaise.
Dari segi
aspek perpolitikan, krisis Malaise mempunyai dampak yang lebih besar lagi.
Sebagai akibat dari krisis Malaise, maka pemerintahan kolonial membuka
kesempatan yang selebar – lebarnya untuk para penduduk pribumi untuk
mengekspresikan bentuk politiknya. hal ini dijadikan alasan terkuat bagi para
tokoh pergerakan nasional untuk menggugat pemerintah kolonial. Bangkitnya
kesadaran perpolitikan sebagai akibat dari krisis Malaise ditandai dengan
lahirnya organisasi – organisasi kebangsaan. Lahirnya organisasi kebangsaan
tersebut ternyata mengubah arah kebijakan pemerintahan kolonial. Masyarakat
Hindia Belanda yang terkena dampak Malaise akhirnya sadar akan nilai dan dan
kekuatan sendiri untuk bercita – cita bebas dan lepas dari Pemerintahan
Kolonial.
Jika kita
berbicara dari aspek perpolitikan juga tidak lepas dari pergerakan kebangsaan
yang terjadi akibat krisis Malaise. Para kaum intelek sekelas Soekarno, Tan
Malaka, Hatta, dan Syahrir sebagai orang yang sadar akan kelemahan Hindia
Belanda dan Kerajaan Belanda itu sendiri. Krisis Malaise membawa dampak yang
serius terhadap kelangsungan politik dari Kerajaan Belanda itu sendiri dalam
penguasaannya terhadap Hindia Belanda. Bisa jadi, krisis Malaise menjadi salah
satu faktor runtuhnya Hindia Belanda selain dari penguasaan Jerman terhadap
Belanda dan juga politik gurita Jepang.
Dari segi
aspek sosial, maka Indonesia sebagai negara jajahan saat itu sangat menderita
berat. Rakyat terpaksa menganggur, bukan hanya penduduk pribumi, tetapi orang –
orang Eropa yang tinggal di beberapa kota besar seperti Batavia dan Bandung pun
merasakan dampaknya. Banyak orang – orang Eropa yang sudah terbiasa dengan
hidup Hedonis terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang mengurangi konsumsi
Hedonis.
Sebagai
contoh, kita bisa melihat masyarakat Eropa yang berada di Batavia. Ketika gaya
hidup masyarakat dipengaruhi oleh faktor ekonomi maka kita akan mendefenisikan
gaya hidup masyarakat Batavia kala itu menyesuaikan kondisinya dengan kebijakan
pemerintah kolonial yang sedang di berlakukan, salah satunya yaitu kebijakan
devaluasi. Ketika kebijakan devaluasi yang dilakukan oleh Pemerintah kolonial
berujung kegagalan, maka masyarakat Batavia harus menyesuaikan keadaan mereka
dengan kondisi ekonomi yang sedang terjadi pada saat itu. Kebijakan devaluasi
tersebut pada kenyataannya menemui kegagalan karena dalam kenyataannya tidak
mungkin pemerintah menurunkan biaya dan pengeluaran sesuai dengan menurunnya
hasil produksi dan pemasukan (pernyataan ini didasarkan pada pendapat Sumitro
Djojohadikusumo dalam bukunya Kredit
Rakyat Di Masa Depresi). Perkembangan proses produksi yang sangat cepat
dengan hasil yang bertambah besar serta upah yang sangat rendah, memerlukan
penyesuaian terhadap hak – hak penduduk.
Tetapi
krisis Malaise akhirnya dijadikan alasan untuk mengembangkan perindustrian di
Indonesia, terutama yang masih berhubungan dengan perkebunan. Pada kala itu,
ketika krisis Malaise berangsur-angsur menurun, maka perindustrian di Indonesia
mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan produksi
perkebunan dan pemakaian alat produksi di periode 1930 hingga 1940. Apalagi
setelah adanya pendudukan Jepang, Jepang mulai melakukan perbaikan ekonomi
untuk keperluan perangnya.
Tetapi
akhirnya kita mengetahui bahwa pendudukan Jepang pun menyengsarakan rakyat.
Dengan berbagai kebijakannya yang terkesan memaksakan yaitu Romusha dan
berbagai kebijakan lainnya. Hal ini tentu berdampak sama dengan apa yang di
hasilkan oleh krisis Malaise.
(Alvie, 7 April 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar