“APA ITU MARXISME – LENINISME?”
“Ada hantu berkeliaran di Eropa – Hantu Komunisme”, kalimat
ini terus menggema dalam pikiran saya. Saya mengenal Marxisme sejak saya masih
kecil dengan persepsi awal bahwa Marxisme adalah teori perjuangan untuk
menyelamatkan kaum proletar dari penindasnya, yaitu kaum modal. Tapi, arti
Marxisme tidak hanya sekedar itu, arti Marxisme dalam berbagai bidang keilmuan
sangatlah luas. Perkembangan teori Marxisme yang membawa ranah Marxisme ke
bidang perpolitikan, yaitu Leninisme membawa suasana lengkapnya teori-teori
Marxisme. Tak heran bahwa seluruh Kapitalisme di dunia sangat takut akan
hadirnya Marxisme di dunia.
Marxisme,
dapat dipahami sebagai sebuah ideologi yang melingkupi seluruh bidang keilmuan.
Para ahli berpendapat bahwa Marxisme merupakan teori terlengkap sepanjang masa
modern. Dari dulu hingga sekarang saya pahami bahwa hanya dua teori yang sangat
lengkap pada akhirnya yaitu Marxisme dan Islam. Namun, perbedaan dari keduanya
terletak pada adanya spiritualitas dalam Islam dalam hubungan vertikalnya,
namun Marxisme bersifat Materialistik yang Dialektik. Kita dapat memahami
Marxisme dengan mengerti pada 3 hal, yaitu Materialisme Dialektika, Ekonomi
Politik Inggris, dan Sosialisme Perancis. Kita juga dapat memahami Leninisme
dengan mengerti konsep Partai Komunis, Komunisme Internasional, dan What is to be Done?nya Lenin.
Materialisme
Dialektika merupakan suatu filsafat yang menjadi inti dari seluruh ajaran
Marxisme – Leninisme. Filsafat Materialisme Dialektika merupakan teori filsafat
terakhir yang masih relevan hingga kini. Pernyataan Marx pada Thesis on Feuerbach no. 10 yang
menyebutkan :
“Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya”
Menjadi
inti dari filsafat Marx yang bersifat dialektik. Untuk mengerti Materialisme
Dialektika, maka kita harus memadukan antara teori dengan praxis sebagai jalan satu-satunya mengubah keadaan. Materialisme
Marx berbeda dengan materialisme pada umumnya yang hanya menyebutkan bahwa
persoalan yang ada hanyalah berkutat pada materi. Semua berawal dari materi dan
berakhir dari materi. Pernyataan dangkal soal materialisme tersebut membawa
kita terseret kepada kesesatan Atheisme. Materialisme Marx juga bukan seperti
teori Positivismenya Comte yang menyebutkan bahwa pengetahuan ilmiah merupakan
puncak dari segala peradaban manusia. Perbedaan dari keduanya adalah persoalan
mengubah peradaban bukan hanya dengan ilmu, tapi dengan aksi nyata.
Marx
mengkritik Materialisme pada umumnya termasuk Materialisme Feuerbach karena
kekakuan teorinya. Marx juga mengkritik seluruh filsafat Idealisme karena
menurut Marx, pada dasarnya apa yang membuat pengaruh pada alam semesta adalah
materi, bukan ide atau roh absolut seperti kata Hegel. Dialektika Marx
bersandarkan pada Dialektika Hegel. Namun, perbedaan dari keduanya terletak
pada konsep Dialektika Marx yang materialistis dan Dialektika Hegel yang
idealis.
Materialisme
Marx menyatakan bahwa segala sesuatu bukan bersandarkan pada hal ihwal kepanca
inderaan, melainkan kepada aktivitas gerak materi tersebut (termasuk manusia). Disini
tidak mungkin membahas panjang lebar soal Materialisme Dialektika, tetapi bisa
disimpulkan bahwa Materialisme Dialektika bersandarkan pada hukum pergerakan
dan pertentangan antara materi. Sedangkan, pertentangan materi yang menciptakan
sejarah disebut Materialisme Historis.
Materialisme
Historis merupakan sempalan dari Darwinisme yang bersifat sosial. Materialisme
Historis menyatakan bahwa peristiwa sejarah disebabkan oleh aktivitas manusia
dan hubungannya dengan corak produksi dari zaman ke zaman. Marx membagi periode
sejarah menjadi 5 yaitu tahap masyarakat komunal purba, masyarakat budak,
masyarakat feodalis, masyarakat kapitalis, dan masyarakat Sosialistik Komunisme.
Perkembangan sejarah manusia tersebut di dasarkan pada corak produksi yang
berubah dari zaman ke zaman. Dalam Manifesto Komunis, Marx menulis bahwa
seluruh sejarah yang ada pada manusia pada dasarnya adalah sejarah pertentangan
antar kelas.
Sampailah
kita pada teori Marx soal ekonomi politik yang banyak bersandar pada teori
ekonomi politik dari ahli ekonomi politik Inggris. Marx banyak menulis soal
teori ekonomi politik termasuk di karya besarnya yaitu Daas Kapital. Selain itu, Marx menulis soal ekonomi politik juga
pada bukunya The Poverty of Philosophy,
Economic & Political Manuscript, Wage Labour & Capital, Value Price
& Profit, dll. Hal ini menyiratkan bahwa bangunan dasar Marxisme adalah
ekonomi. Bahkan Materialisme Historis juga berdasarkan pada corak ekonomi. Menurut
Marx, semua sejarah manusia terjadi karena berdasarkan pertentangan antar kelas
akibat kebutuhan ekonomi (walaupun bukan berarti sebab lain tidak menjadi
pencipta peristiwa sejarah seperti agama dan lainnya). Tafsiran yang salah atas
Materialisme Historis akhirnya membawa kita ke bentuk Determinisme Ekonomi.
Menurut
Marx dan Engels, Kapitalisme akan menemui kehancurannya sendiri akibat adanya
krisis over produksi. Kapitalisme yang bersandarkan pada hukum permintaan
membuat produksi berlebih terhadap barang-barang yang akhirnya akan menurunkan
daya konsumsi proletar. Kejadian tersebut bahkan telah kita alami berkali-kali,
namun para borjuis selalu membuat terobosan baru untuk mengatasi krisis
tersebut misalnya membuat program-program investasi yang akhirnya membawa
negara dunia ketiga terperosok kepada hutang-hutang yang sangat besar.
Seorang
pemilik modal selalu membayar buruh menurut jam kerjanya. Hal ini menjadikan
buruh sebagai manusia yang terasing dari objeknya. Contohnya adalah ketika para
kapitalis pabrik sepatu mempunyai buruh yang bekerja selama 12 jam sehari untuk
membuat sepatu, para buruh akan mempunyai surplus yang sama sesuai jam kerjanya
walaupun hasil kerjanya berbeda. Hal ini lah yang membuat para buruh
menyia-nyiakan waktunya untuk mengejar Tuhan yang baru yaitu uang. Sedangkan menurut
Marx, seharusnya manusia itu bekerja sesuai dengan kebutuhannya, bukan sesuai
dengan hukum permintaan. Untuk menciptakan kondisi yang demikian, buruh harus
melakukan revolusi merebut perusahaan-perusahaan si kapitalis dan menghapus
kepemilikan pribadi atas alat produksi secara paksa. Teori ini disempurnakan
oleh Lenin dengan menciptakan partai komunis sebagai wadah untuk menciptakan
revolusi tersebut.
Selain itu,
Marx juga banyak berbicara soal nilai lebih yang di peroleh si kapitalis dengan
menyatakan bahwa pada awalnya si kapitalis mempunyai modal awal yang
dipergunakan untuk membuat sesuatu dengan membeli tenaga si buruh. Namun ketika
barang hasil produksi tersebut di jual, hasilnya si kapitalis mendapatkan nilai
lebih yang biasa kita kenal dengan laba. Menurut Marx, laba tersebut diperoleh
karena adanya pembayaran tenaga kaum buruh dan pemeliharaan alat produksi,
selebihnya adalah surplus yang pasti diterima oleh si kapitalis. Hal ini di
rasa tidak adil karena surplus yang merupakan hak kaum buruh yang bekerja harus
jatuh ke tangan pemilik modal. Marx menilai, buruh adalah manusia yang paling
terasing karena buruh akhirnya bekerja terus menerus bukan karena faktor
kebutuhan pokok, melainkan karena suatu keharusan untuk memperoleh uang yang
tidak seberapa. Sedangkan si kapitalis akhirnya tanpa bekerja pun mendapatkan
laba atau surplus yang besar dari hasil pemerasan kaum buruh. Marx juga
mengatakan bahwa si kapitalis juga merasakan keterasingan karena tidak adanya
rasa sosial dalam dirinya.
Teori ekonomi
politik Marx adalah hasil kritik dari teori ekonomi politik Adam Smith,
Robertson, Proudhon, dan Ricardo. Terutama Adam Smith, Marx sangat banyak
memberi catatan padanya akibat teori ekonomi Kapitalismenya yang membuat buruh
sangat terasing. Sedangkan Marx menilai teori Ricardo soal nilai lebih lebih
berharga ketimbang teori Adam Smith soal mengejar kekayaan pribadi tersebut. Penghapusan
hak milik pribadi atas alat produksi di rasa perlu untuk menciptakan hak milik
bersama atas alat produksi. Teori ini di praktekkan sangat baik ketika Uni
Soviet dan RRC berdiri.
Marxisme
mempunyai konsep terakhir yaitu Sosialisme yang banyak berasal dari para ahli
Sosialisme Perancis. Para ahli Sosialisme Perancis merupakan kumpulan
tokoh-tokoh revolusioner yang memimpikan negeri-negeri sosialis. Sosialisme
mereka, kita sebut sebagai Sosialisme yang utopis. Mengapa demikian? Salah satu
ahli Sosialisme Perancis yang paling berpengaruh adalah Saint Simon. Saint
Simon merupakan salah satu putra revolusi Perancis. Sumbangan besarnya dalam
Sosialisme di catat amat baik dalam karya Engels yaitu Anti Duhring :
“Bagi Saint Simon, antagonisme di antara
golongan ketiga dan kelas-kelas berhak – istimewa mengambil bentuk suatu
antagonisme antara ‘kaum buruh’ dan ‘kaum penganggur’, kaum penganggur itu
bukan semata-mata kelas-kelas lama yang berhak – istimewa, tetapi juga semua
orang yang, tanpa mengambil sesuatu bagian apapun di dalam produksi atau
distribusi, hidup dari penghasilan-penghasilan mereka. Dan kaum buruh tidak
hanya kaum buruh – upahan, tetapi juga para pengusaha manufaktur, kaum
saudagar, kaum bankir. Bahwa kaum penganggur telah kehilangan kemampuan akan
kepemimpinan intelektual dan supremasi politik telah dibuktikan, dan akhirnya
ditetapkan (kedudukan/nasibnya) oleh revolusi. Bahwa kelas-kelas yang tidak
bermilik; tidak mempunyai kemampuan ini dianggap Saint Simon telah terbukti
dengan pengalaman-pengalaman kekuasaan terror.
Menurut
Saint Simon, yang mesti memimpin dan memerintah adalah ilmu pengetahuan dan
industri yang keduanya disatukan oleh suatu ikatan religius yang baru. Jelas bagaimana
utopisnya Saint Simon mengenai hal ini. Pemikir Sosialisme Utopis yang lainnya
adalah Robert Owen, Fouhrier, Blanqui, Babeuf, dan yang lainnya. Sebagian besar
dari mereka berasal dari Perancis. Ada beberapa kondisi sosial yang menyebabkan
Sosialisme besar di Perancis diantaranya adalah Perancis telah mengalami
revolusi borjuis yang besar pada abad 18. Selain itu, kaum buruh Perancis juga
merupakan kaum yang sangat merasakan penderitaan.
Marx
menilai, Sosialisme bukanlah suatu bentuk ideologi idealis, yang penuh
angan-angan, dan tidak mempunyai praktek yang berarti. Sosialisme itu harus
diwujudkan tentunya memakai metode ilmiah yang ada. Menurut Marx, Sosialisme
bisa di wujudkan secara bertahap. Disini Lenin mengembangkan Marxisme menjadi
suatu bentuk yang lebih revolusioner lagi dengan adanya konsep partai Komunis
dan juga kediktatoran proletariat. Marx menyatakan bahwa munculnya kesadaran
masyarakat tanpa kelas bukan semata-mata diwujudkan dengan dihapusnya negara
secara langsung dan membentuk koperasi-koperasi atau federasi komunitas seperti
yang dikatakan kaum Anarkhis, negara akan melenyap dengan sendirinya dengan
melalui beberapa tahap. Revolusi merupakan tahap awal di wujudkannya
Sosialisme.
Lenin
menyebutkan bahwa, kediktatoran proletariat harus diwujudkan dengan revolusi
aksi massa yang serentak yang dipimpin oleh kaum buruh bersama kaum tani. Mengapa
harus kaum buruh? Kaum buruh mempunyai kesadaran sosial politik yang tinggi. Hal
ini disebabkan karena kondisi pekerjaan mereka yang membuat mereka terasing
yang memaksa mereka harus membentuk suatu serikat pekerja yang menjadi wadah
perjuangan. Marx dan Lenin sepaham bahwa kaum buruh jangan hanya menuntut
kenaikan upah saja, melainkan harus menuntut kepemilikan bersama atas alat
produksi. Lenin lah yang mengonsepkan pertama kali bahwa kepemilikan bersama
atas alat produksi dijalankan oleh negara. Maka, Lenin telah memberi corak
politik kepada Marxisme, terutama dalam fungsi partai komunis sebagai kontrol
atas jalannya kediktatoran proletariat.
Pada masa
kediktatoran proletariat, para proletar bersama kaum petani menasionalisasi
semua kekayaan negara dan merebutnya dari tangan para pemilik modal. Di masa
ini, kaum buruh harus melenyapkan kaum borjuis secara revolusioner, artinya
melalui metode massa aksi. Ketika borjuis telah hilang, dengan sendirinya
negara akan melenyap atau dalam tahap selanjutnya sifat politik dalam negara
sosialis akan lenyap. Engels lah yang pertama kali mengonsepkan soal ini,
konsep tersebut diteruskan oleh Lenin dan dimantapkan dengan prakteknya pada
revolusi oktober. Engels menyebutkan bahwa dalam beberapa hal termasuk
revolusi, kekerasan diperlukan sebagai jalan satu-satunya tuk menghancurkan
dinding kapitalisme.
Revolusi
oktober yang dilakukan Lenin oleh para pengkritik Marxis disebutkan bahwa
menyalahi teori Marxisme dengan meloncati tahap Feodalisme menjadi Sosialisme
secara langsung. Namun, Lenin menjawab kritik tersebut secara dalam dan sekali
kandas dengan menyebutkan bahwa Imperialisme sebagai tahap akhir dari
Kapitalisme. Maka revolusi oktober bersifat revolusi sosialis karena merubuhkan
dinding Imperialisme Tsar yang maha agung. Trotsky melengkapi teori Lenin
tersebut dengan menyebutkan bahwa revolusi rusia terjadi 2 kali di tahun 1917. Revolusi
pertama merupakan revolusi nasional, kaum sosial demokrat Rusia menjalani tugas
yang tidak mampu di emban oleh para borjuis. Revolusi kedua pada bulan oktober
menjadi sebuah revolusi sosialis. Tugas akhir borjuis tersebut akhirnya diambil
alih oleh para proletar bersama kaum tani. Muncullah slogan “Gulingkan
pemerintahan Tsar, dirikan pemerintahan buruh dan tani”.
Marxisme-Leninisme
yang telah diterangkan tersebut menjadi suatu ideologi revolusioner progressif
yang masih relevan hingga kapitalisme hancur. Ketika masyarakat Komunisme
tercipta, semua orang bahkan tidak lagi membutuhkan ideologi lagi karena
masyarakat sudah makmur dan hidup menurut kebutuhan, bukan lagi berdasarkan
permintaan dan penawaran. Marxisme-Leninisme mengangkat derajat kaum buruh dan
tani hingga menjadi suatu kelas yang menindas adat dan paham lama yang tidak
revolusioner. Mereka adalah kaum yang di tempa untuk tidak pasrah lagi dan
berserah pada agama, melainkan pada kerja dan revolusi agar tercapai masyarakat
yang sejahtera. Agama adalah tempat keluh kesah masyarakat yang tertindas,
begitulah kata Marx. Maka cukuplah revolusi yang menggenapi segala kesejahteraan
yang ada sehingga tercipta masyarakat Komunisme yang menghilangkan batas negara
dan kelas-kelas yang bertentangan.
Setelah Uni
Soviet hancur dan China berdiri sebagai negara Kapitalisme, maka masih
relevankah teori tersebut ? Jawabannya, teori Marxisme-Leninisme sebagai basis
dasar perjuangan kaum yang tertindas akan relevan hingga pada saat Kapitalisme
dan Liberalisme hancur dan masyarakat tanpa kelas telah berdiri. Artikel-artikel
selanjutnya akan menjawab bagaimana relevansi Marxisme itu bisa berjalan di era
kini.
(Alvie, 13 April 2015)