Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

21 Februari 2015

HUJAN DI TANAH DOSA


Aku terjebak dalam satu masa
Hujan tiada henti
Pelangi tak kunjung datang
Bumi menderita pedih
Aku terjebak dalam dirinya
Ku tatap langit tetap hitam
Ku dengar suaranya tetap statis
Suara air yang di tumpahkan dari kelebihan bebannya di langit
Kurasakan dingin, menggigil dan sarafku mati
Diriku tak bergerak hingga air tenggelamkan diriku
Sejenak muncul bayangan putih
Bayangan akan suatu masa dimana aku masih terus bernapas
Merasakan cinta
Pedih
Bahagia
Luka
Merasakan diriku sebagai manusia seutuhnya
Sejenak ku lihat masa kecilku
Masa ketika aku remaja
Hingga kini saat ku tak tahu lagi arah bayanganku pergi

Aku terjebak dalam hitam yang pekat
Ku dengar air mengalir deras menghanyutkanku
Menuju pusaran dosa yang lebar
Ku tenggelam
Mati
Dan tak ada lagi diriku merasakan sebagai manusia
Ya, aku
Tinggal sendiri mati dalam dosa
Sedangkan mereka selamat
Karena pelangi menyambut mereka
Dan aku terkubur bersama impianku
Bersama pelangi impian yang kuharapkan datang
Tetapi tak pernah datang


(Alvie, 18 Februari 2015)

18 Februari 2015

KONSEP PELENYAPAN NEGARA DALAM PERSPEKTIF MARXISME

“Menjawab Pemahaman Vulgar Atas Konsep Pelenyapan Negara”


Anarkhisme, suatu paham yang menyatakan bahwa segala bentuk penindasan harus di musnahkan. Negara sebagai suatu sistem penindasan juga merupakan salah satu hal yang harus di lenyapkan. Dalam sistem Anarkhisme, tidak ada kejelasan struktur atas pelenyapan negara tersebut. Apa yang menjadi dasar Anarkhisme adalah bahwa sebuah sistem adalah bentuk penindasan individu, tetapi apakah pernah terlintas dalam pemikiran bahwa ketika sebuah sistem tersebut, termasuk negara tidak ada, maka apakah disiplin itu akan hilang ? Bagaimana dengan konsep peraturan dan apa akibatnya ketika itu terwujud ? Yang terjadi adalah sebuah kehancuran nyata umat manusia. Konsep Marxisme tentang pelenyapan sebuah negara di utarakan secara revisionisme oleh Bakunin. Tetapi pada perkembangannya, teori tersebut (Anarkhisme) tidak jelas struktur dan arahnya, ketika digabungkan dengan teori revolusi Marx, maka Anarkhisme pantas semakin brutal. Munculnya istilah Anarkhis sebagai bentuk kebrutalan seseorang adalah karena sistem Anarkhisme mengajarkan demikian. Untuk melenyapkan sebuah negara, maka di perlukan jalan terror dan kekerasan. Apa itu benar ?

Marxisme sebagai sebuah sistem ideologi yang menyeluruh juga terstruktur juga menyatakan konsep pelenyapan negara. Tetapi konsep tersebut tidaklah sekacau Anarkhisme. Masyarakat sering salah paham ketika mereka terjebak pemikiran bahwa Marxisme dan Anarkhisme itu satu tujuan, yaitu menciptakan masyarakat tanpa negara. Mereka tidak memperhatikan bahwa Marxisme menyatakan bahwa tahap masyarakat komunisme yang paling tinggi adalah menciptakan Kesadaran Masyarakat Tanpa Kelas. Untuk mengerti sebuah konsep pelenyapan sebuah negara dalam ranah Marxisme, maka kita perlu mengetahui tahap – tahap perkembangan sebuah negara. Dalam Marxisme di sebutkan bahwa tahap masyarakat pertama adalah tahap masyarakat komunal purba, lalu transformasi menjadi masyarakat feodalistik, lalu masyarakat kapitalistik, terakhir adalah tahap masyarakat sosialisme. Tahap tertinggi dari Sosialisme tersebut adalah Komunisme, maka apa yang di cita – citakan Marx – Engels adalah menciptakan masyarakat Komunisme. Bagaimana sistem masyarakat Komunisme tersebut ?

Konsep Negara Transformasi dari Masyarakat Komunal Purba Menuju Masyarakat Feodalisme

Masyarakat Komunal Purba adalah sebutan Marx untuk sebuah masyarakat yang belum mengenal sistem negara. Negara menurut Engels dalam bukunya “Asal Usul Keluarga, Milik Perseorangan dan Negara” adalah sebagai berikut.

“Negara, dengan demikian, adalah sama sekali bukan merupakan kekuatan yang dipaksakan dari luar kepada masyarakat, sebagai suatu sesempit ‘realitas ide moral’, ‘bayangan dan realitas akal’ sebagaimana ditegaskan oleh Hegel. Malahan, negara adalah produk masyarakat pada tingkat perkembangan tertentu; negara adalah pengakuan bahwa masyarakat ini terlibat dalam kontradiksi yang tak terpecahkan dengan dirinya sendiri, bahwa ia telah terpecah menjadi segi-segi yang berlawanan yang tak terdamaikan dan ia tidak berdaya melepaskan diri dari keadaan demikian itu. Dan supaya segi-segi yang berlawanan ini, kelas-kelas yang kepentingan-kepentingan ekonominya berlawanan, tidak membinasakan satu sama lain dan tidak membinasakan masyarakat dalam perjuangan yang sia-sia, maka untuk itu diperlukan kekuatan yang nampaknya berdiri di atas masyarakat, kekuatan yang seharusnya meredakan bentrokan itu, mempertahankannya di dalam ‘batas-batas tata tertib’; dan kekuatan ini, yang lahir dari masyarakat, tetapi menempatkan diri di atas masyarakat tersebut dan yang semakin mengasingkan diri darinya, adalah Negara”

Pernyataan yang panjang tersebut menjelaskan ide atau konsep dasar dari sebuah Negara dalam konsep Marxisme. Pernyataan tersebut di perjelas oleh Lenin dalam bukunya “Negara dan Revolusi” yang menyebutkan bahwa :

“Negara adalah Produk dan manifestasi dari tak terdamaikannya antagonisme – antagonisme kelas. Negara timbul ketika, dimana dan untuk perpanjangan terjadinya antagonisme – antagonisme kelas secara objektif tidak dapat di damaikan. Dan sebaliknya, eksistensi Negara membuktikan bahwa antagonisme – antagonisme kelas adalah tak terdamaikan”

Jelas, dalam perspektif Marxisme, Negara adalah bentuk sistem kontradiksi antar kelas yang antagonis dan bentuk sistem yang di buat kelas penguasa yang oportunis untuk menguasai kelas yang lainnya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa masyarakat komunal purba dapat bertransformasi jadi masyarakat feodalistik.

Masyarakat komunal purba yang masih mengenal konsep gotong royong sangat mencerminkan sosialisme secara utuh. Masyarakat tersebut tidak menciptakan kelas – kelas, melainkan di satukan dengan pemakaian alat – alat produksi secara bersama. Dalam pemenuhan kebutuhan ekonominya, masyarakat komunal tersebut secara bersama dan merata menciptakan sebuah konsep ekonomi komunal berdasarkan pemakaian alat produksi primitive secara bersama.

Ketika tercipta sebuah egoisme dari orang – orang yang merasa berkuasa dalam kelompok masyarakat tersebut, maka secara perlahan masyarakat komunal purba tersebut akhirnya menjadi suatu masyarakat yang feodal. Pada saat inilah konsep Negara lahir secara sederhana.

Masyarakat Feodal adalah masyarakat yang menghargai bentuk hierarki yang menempatkan kelas yang berkuasa sebagai suatu kelas yang absolut menguasai kelas yang lainnya. Dalam tahap masyarakat yang demikian, masyarakat terbagi atas kelas – kelas seperti kelas penguasa (raja, kepala suku, tuan tanah dan lain – lain), kelas agamawan, kelas pedagang, kelas budak, dan kelas lainnya. Bentuk sempurna dari pembagian kelas pada masa masyarakat feodal dapat kita lihat dari sistem kasta dalam agama Hindu. Dalam ajaran Hindu, kita dapat lihat bahwa masyarakat sebenarnya terbagi atas 5 kelas yaitu kelas agamawan (Brahmana), kelas penguasa (Ksatria), kelas pedagang (Waisya), kelas buruh dan tani (Sudra), dan kelas budak (Paria). Pembagian kelas ini di dasarkan pada urusan ekonomi dan politik saja. Kekuasaan absolut tentu terletak pada 2 kelas pertama yaitu agamawan dan penguasa.

Pada masa ini, masyarakat feodal di pengaruhi oleh sistem agama yang kuat, agama ini di legalkan demi untuk melegalkan kepentingan para penguasa. Hal ini dapat kita lihat realitanya ketika raja di anggap sebagai titisan dewa, atau bahkan dewa itu sendiri. Itu berarti semua pernyataan raja tidak dapat dibantah oleh kelas – kelas masyarakat di bawahnya. Bukan kah hal ini merupakan suatu hal yang miris ?

Pada perkembangannya, masyarakat feodal akhirnya menjadi masyarakat yang terbentuk akibat penguasaan lahan tanah. Maka lahirlah konsep tuan tanah yang menggarap tanah dengan memerintah kelas buruh tani sebagai penggarapnya. Tentunya hal ini mendapat restu dari para agamawan. Restu tersebut di perlukan agar tempat ibadah yang menjadi tempat tinggal para agamawan mendapatkan makanan gratis dan perlindungan penuh dari para tuan tanah yang menguasai tempat ibadah tersebut. Hal ini terjadi pada masa abad kegelapan.

Transformasi Masyarakat Feodal Menuju Masyarakat Kapitalisme

Revolusi industri di Inggris yang terjadi antara tahun 1750 – 1850 menjadi penanda transformasi antara tahap masyarakat feodal dengan masyarakat kapitalisme. Ketika mesin – mesin produksi bermunculan, maka para tuan tanah akhirnya mendirikan pabrik – pabrik di setiap kota. Urbanisasi besar – besaran terjadi ketika pabrik telah menjamur di kota – kota. Para petani yang tidak beruntung nasibnya di desa akhirnya menjadi seorang buruh yang menjual tenaganya pada majikan pabrik demi sesuap nasi.

Revolusi Perancis juga menjadi kunci utama berkembangnya masyarakat kapitalisme. Ketika para borjuis perkotaan Paris mengeksekusi Louis XVI bersama istrinya, Marie Antoinette, kekuasaan Feodal jatuh seketika itu juga karena revolusi borjuis tersebut. Perancis di kuasai oleh para borjuis perkotaan sejak saat itu. tatanan Feodal di Perancis juga memicu hancurnya Feodalisme secara domino di berbagai wilayah di Eropa. Sedangkan di Asia dan Afrika, ketika Kapitalisme berkembang menjadi suatu sistem kemasyarakatan, Asia dan Afrika akhirnya menjadi suatu daerah eksplorasi besar – besaran, para kaum kapital akhirnya menguasai sumber bahan baku utama yang menjadi bahan produksi untuk menciptakan suatu barang dagangan yang laku di pasaran Eropa.

Masyarakat Kapitalisme yang terbentuk akibat majunya industry dan menangnya revolusi Demokratik Borjuis di Perancis berkembang dengan pesat. Hegel sebagai seorang filsuf menggambarkan bahwa masyarakat Kapitalisme, dalam hal ini borjuis merupakan suatu kemenangan masyarakat yang abadi. Hegel sangat mendukung Prusia sebagai suatu kerajaan Kapitalisme Pra Jerman yang melahirkan para ilmuwan dan filsuf klasik terakhir.

Masyarakat Kapitalisme di tandai dengan munculnya 2 kelas baru sebagai reduksi dari beberapa kelas masyarakat yang berkembang pada masa Feodalisme yaitu Proletariat dan Borjuis. Selain itu ada 2 kelas lagi yang terombang – ambing di antara Proletariat dan Borjuis tersebut yaitu Lumpen Proletar dan Borjuis Kecil. Kaum Borjuis adalah kaum yang memiliki modal atau kapital, modal – modal tersebut akhirnya dipakai untuk menguasai alat – alat produksi serta untuk membeli tenaga kaum Proletar. Sedangkan kaum Proletar adalah kaum yang tidak memiliki modal atau kapital, sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maka kaum proletar terpaksa menjual tenaganya kepada kaum pemilik modal atau Borjuis. Hal ini memicu kontradiksi kuat antara kedua kelas tersebut. kelas borjuis sebagai pemilik modal terkadang melakukan penindasan kepada kaum proletar dengan mereduksi gaji dan menambah jam kerja. Gaji yang di terima kaum proletar bahkan dihitung berdasarkan jam kerja nya yang di dedikasikan untuk menciptakan produk.

Hal ini lah yang menjadi perhatian Karl Marx dan Friederich Engels untuk membangkitkan semangat proletar untuk bebas dari penindasan borjuis. Tetapi sebelum mereka, Robert Owen sudah mencetuskan Sosialisme di Inggris kemudian Amerika. Saint Simon dari Perancis juga telah mencetuskan Sosialisme sebagai bentuk perjuangan proletariat. Namun Sosialisme yang di cetuskan Owen, Saint Simon, dan kemudian Fouhrier bersifat utopi. Hal ini disebabkan karena ketiganya berupaya untuk mempertahankan kaum Borjuis, hanya saja sifatnya pertentangan antar kedua kelas di reduksi dengan menaikkan gaji dan bekerja sama membangun perindustrian. Sedangkan Marx dan Engels mencetuskan Sosialisme Ilmiah yang lebih radikal lagi. Marx dan Engels ingin menciptakan kesadaran di kalangan proletar bahwa mereka telah di tindas oleh borjuis. Marx dan Engels ingin menghapus kaum borjuis tersebut dengan metode revolusi.

Transformasi Masyarakat Kapitalisme ke Masyarakat Sosialisme : Kediktatoran Proletariat

Berikut merupakan perkataan Engels dalam bukunya Anti Duhring :
“Proletariat merebut kekuasaan negara dan pertama – tama mengubah alat – alat produksi menjadi milik negara. Tetapi dengan ini ia mengakhiri dirinya sendiri sebagai proletariat, dengan ini ia mengakhiri segala perbedaan kelas dan antagonisme kelas, dan bersama itu juga mengakhiri negara sebagai negara”

Dalam kutipan itu jelas, bahwa yang di inginkan Marx dan Engels adalah bahwa ketika kesadaran kelas Proletar muncul, maka yang harus di lakukan adalah dengan menggulingkan kekuasaan borjuis yang ada dan menciptakan negara proletariat, atau biasanya disebut “Kediktatoran Proletariat”. Perebutan kekuasaan tersebut harus dilalui dengan cara revolusi, karena ketika revolusi maka seluruh kekuasaan borjuis akan runtuh secara serentak sehingga negara atau masyarakat bisa di kuasai penuh oleh para proletar.

Ketika kediktatoran proletariat terjadi, seluruh alat – alat produksi milik borjuis dan swasta akhirnya di kuasai oleh negara yang di pimpin oleh proletariat. Hukum – hukum ekonomi Marxisme harus di terapkan oleh negara tersebut, seperti pemberian gaji berdasarkan jumlah tenaga yang keluar untuk memproduksi serta kebijakan 8 jam kerja. Namun tidak serta merta setelah negara proletariat sukses di dirikan, para proletar harus meninggalkan tugas – tugas politiknya. Melainkan selain tugas ekonomi, tugas – tugas politik harus segera di laksanakan demi menjaga kekuasaan agar tidak terebut oleh borjuis. Proletar harus menjadi dictator di negaranya sendiri demi menjaga dan melanggengkan kekuasaannya dalam negara. Karena hanya kaum tertindas lah yang mengerti bagaimana menciptakan kesejahteraan internal dalam negeri. Kediktatoran proletariat sebagai tindakan pertama sekaligus tindakan terakhir untuk mengakhiri antagonisme – antagonisme antar kelas yang terjadi karena adanya negara yang mewakili setiap kelas – kelas yang berkuasa. Berikut merupakan pernyataan Engels dalam Anti Duhring berkaitan dengan hal ini :

“Tindakan pertama, dimana negara benar – benar tampil sebagai wakil dari seluruh masyarakat – pemilikan produksi atas nama masyarakat – sekaligus merupakan tindakan yang bebas terakhir sebagai negara. Campur tangan kekuasaan negara dalam hubungan – hubungan sosial menjadi tidak di perlukan lagi dari satu bidang ke bidang yang lain dan ia berhenti dengan sendirinya. Pemerintahan atas orang – orang diganti dengan pengurusan barang – barang dan pimpinan atas proses produksi.”

Pernyataan tersebut jelas menggambarkan bagaimana tugas – tugas proletariat dalam kenegaraan Sosialisme. Tindakan – tindakan tersebut dengan sendirinya akan menghilangkan bentuk – bentuk negara sebagai sistem kekuasaan dan penindasan kelas. Bentuk negara baru akan lahir bukan sebagai bentuk kekuasaan dari kelas yang berkuasa dan menindas kelas yang lainnya, melainkan diganti dengan bentuk kekuasaan atas alat produksi seta memimpin proses produksi dalam negara tersebut.
Ketika kediktatoran proletariat sudah mencapai tahap akhirnya, maka negara tersebut akan melenyap dengan sendirinya. Hal ini sering di generalisir oleh para kaum anarkhi sebagai bentuk penghapusan negara. Namun Marxisme tidaklah sedangkal itu. Marx menyatakan bahwa negara melenyap bukan berarti hal tersebut menjadi suatu bentuk penghapusan negara, melainkan menjadi suatu negara bebas rakyat yang konsepnya benar – benar bukan sebagai negara pada umumnya lagi. Berikut lanjutan dari perkataan Engels dalam Anti Duhring mengenai hal ini.

“Negara tidaklah di hapuskan, ia melenyap. Atas dasar ini harus dinilai kata – kata ‘negara rakyat bebas’ – kata  - kata yang untuk sementara mempunyai hak hidup dalam hal agitasi, tetapi yang pada akhirnya tidak beralasan secara ilmiah – serta harus dinilai juga tuntutan dari apa yang dinamakan kaum anarkhis supaya negara dihapuskan seketika”

Arti Bentuk “Negara Melenyap” Dalam Marxisme yang Berbeda dengan Bentuk “Penghapusan Negara” Dalam Anarkhisme

Dalam Negara dan Revolusi karya Lenin jelas di sebutkan bahwa konsep negara melenyap dalam Marxisme adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa “penghapusan negara sebagai negara”. Lenin sebagai seorang pengagum Engels banyak mengutip perkataan Engels mengenai konsep negara dan pengembangan ilmu politik Marxisnya. “Penghapusan negara sebagai negara” yang disebutkan Engels dapat dipahami sebagai bentuk menghapus negara borjuis sempurna dan menggantinya dengan bentuk ketatanegaraan proletar yang terjadi sesudah revolusi sosialis. Sedangkan bentuk “negara melenyap” merujuk pada sisa – sisa ketatanegaraan proletar sesudah revolusi sosialis.

Setelah pada masa kediktatoran proletariat, yaitu sebuah bentuk ‘kekuatan penindas khusus’ yang digerakkan untuk menindas borjuis mencapai tahap akhirnya. Maka setelah itu ‘kekuatan khusus individu’ untuk menguasai alat produksi (borjuis) akan dihapus dan digantikan sepenuhnya dengan ‘kekuatan khusus’ baru yang berbentuk penguasaan alat produksi oleh masyarakat pada umumnya (proletar). Setelah penghapusan tersebut, maka akan terjadi pelenyapan sisa – sisa ketatanegaraan proletar. Pelenyapan dalam hal ini akan terjadi dengan sendirinya. Lalu bagaimana dengan konsep ‘Negara rakyat bebas’ yang pernah disebutkan Engels sebelumnya ? Mengenai hal ini, Lenin dalam Negara dan Revolusi menyebutkan bahwa :

“Negara rakyat bebas adalah suatu program tuntutan dan suatu semboyan yang umum dan tersebar luas dari kaum Sosial-Demokrat Jerman dalam tahun-tahun 1870an. Semboyan ini tidak mempunyai isi politik sama sekali kecuali ia melukiskan pengertian tentang demokrasi dengan gaya filistin yang muluk-muluk. Sejauh ia digunakan untuk dengan jalan yang sah menurut undang-undang menunjukkan suatu republik demokratis, ...”

Negara rakyat bebas lebih merujuk kepada bentuk negara yang tidak mempunyai arti politik sama sekali karena negara rakyat bebas tercipta setelah melenyapnya negara proletariat setelah kediktatoran proletariat telah mencapai tahap akhirnya. Arti politik disini adalah sebuah bentuk kekuasaan untuk menindas kelas lain yang tidak berkuasa. Namun dalam negara rakyat bebas jelas tergambar bahwa dalam bentuk tersebut tidak akan ada lagi bentuk kekuasaan untuk menindas kelas lain yang tidak berkuasa. Ketika proletariat telah menghapus bentuk borjuis dan akhirnya proletariat sebagai satu-satunya kelas berkuasa melenyap juga pada akhirnya. Bentuk kontradiksi kelas yang hilang akan melenyapkan kelas yang lainnya yang sebelumnya berkontradiksi. Hal ini lah yang menjadi konsep negara rakyat bebas yang dimaksud oleh Engels dan Lenin. Tahap yang demikian biasanya disebut tahap Masyarakat Komunisme.

Jelas konsep penghapusan negara dalam Anarkhisme berbeda dengan konsep penghapusan dan pelenyapan negara dalam Komunisme. Anarkhisme sebagai ideologi yang tidak terstruktur memberikan konsep-konsep yang tidak jelas dalam membentuk suatu tatanan masyarakat Sosialisme. Sebagai tambahan terakhir dalam perbedaan yang nyata dalam konsep penghapusan negara antara kedua ideologi tersebut. Saya mengutip perkataan Marx dan Engels yang dimuat dalam artikel yang di sumbangkan kepada buku tahunan Sosialis Italia yang baru pada tahun 1913, artikel-artikel tersebut dimuat dalam terjemahan bahasa Jerman dalam Neue Zeit :

“... Jika perjuangan politik kelas buruh mengambil bentuk-bentuk revolusioner, jika kaum buruh menegakkan dictator revolusionernya sebagai pengganti atas dictator borjuasi, maka mereka melakukan kejahatan yang mengerikan, yaitu menghina prinsip-prinsip, sebab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka yang remeh temeh dan vulgar itu, untuk mematahkan perlawanan borjuasi, kaum buruh memberikan bentuk revolusioner dan sementara kepada negara, dan bukannya meletakkan senjata dan menghapuskan negara ...”

Pernyataan di atas mengandung pernyataan Marx bahwa kaum Marxisme sangat menentang kaum Proudhonis, kaum Anarkhis, kaum Otonomis, atau kaum Anti Otoriter. Jelas perbedaan konsep pelenyapan negara antara Marxisme dan Anarkhisme sangat besar. Jika seseorang mengatakan bahwa Marxisme adalah Anarkhis, maka orang tersebut telah memberikan pernyataan yang sangat vulgar berkaitan pendistorsian ajaran Marxisme pada umumnya. Hal ini lah yang dilakukan oleh Kautsky, Martov, Bernstein, dan Bakunin tentunya.



(Alvie, 17 Februari 2015)

15 Februari 2015

RASIONALITAS AGAMA PART 2


“Iman Kaum Materialisme”


Agama dan Materialisme, apa kalian percaya dua hal ini sebenarnya bertentangan satu dengan yang lainnya ? Sebagian besar kaum Materialisme memang benar – benar menolak agama karena berbagai alasan, tetapi alasan utama penolakan agama ini adalah bahwa kaum Materialisme tidak percaya hal – hal yang ghaib, hal yang ada di luar nalar dan akal manusia. Tetapi sebagian besar Marxis di Indonesia adalah umat yang beragama. Kita menemukan fenomena bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kaum Materialisme Dialektika yang beragama terbesar di dunia. Mengapa bisa begitu ? Indonesia adalah negara yang memiliki orang – orang yang beragama Islam terbesar di dunia dan pada masa pra kemerdekaan serta orde lama bahkan hingga kini, orang – orang Islam itu sebagian adalah kaum Marxis yang bermaterialisme Dialektika. Kontradiksi ini mereka satukan dan mereka ramu menjadi suatu ajaran agama yang modern dan non konservatif. Mereka percaya bahwa agama Islam adalah agama yang paling rasional di antara agama lainnya (walaupun kita melihat bahwa Monisme ala Einstein di rasa paling rasional di antara yang lainnya).

Dalam artikel yang singkat ini, kita akan mengambil batasan bukan pada umat beragama, namun pada kaum Materialisme yang beragama. Fenomena ini sungguh unik, kaum Materialisme yang beragama, terutama agama Islam sangat berusaha agar agama tersebut selamat dari lembah konservatif dan bisa bertahan di era ketika Tuhan telah mati (ungkapan ala Nietzche mungkin tepat untuk menggambarkan suasana dunia pada masa kini). Dalam hal ini, saya akan mengonsepkan Materialisme subjektif, bahwa tidak selamanya Materialisme itu anti dengan agama, terutama Islam karena agama Islam adalah agama yang paling rasional dan masuk akal, sesuai dengan jalan dan nalar Materialisme yang notabene memang merupakan jalan filsafat yang paling sempurna.

Pada dasarnya, Materialisme pra Marxisme merupakan Materialisme yang sebagian besar masih bergantung dengan adanya Tuhan. Hal ini jelas ketika beberapa filsuf mencoba merasionalkan Tuhan itu sendiri sehingga mereka dapat menarik kesimpulan bahwa Materialisme yang mereka anut tidak akan bertentangan dengan agama. Para filsuf Materialisme pra Marxisme yang merupakan orang beragama misalnya adalah John Locke, David Hume, dam Francis Bacon. Feuerbach sebagai filsuf Materialisme terakhir sebelum Marx dan Engels yang memang mengungkapkan Materialisme yang hampir sempurna seperti yang disebutkan dalam bukunya “Hakikat Agama Kristen” masih mengandung unsur Idealisme agama dalam teorinya. Bagaimana dengan Marx ? Materialisme Dialektika merupakan suatu filsafat terakhir dan paling relevan hingga kini akhirnya membebaskan diri dari ajaran agama. Hal ini bisa terlihat ketika Marx dan Engels mendukung teori evolusi Darwin juga menentang keras Idealisme ala Plato. Marx akhirnya juga mengkritik Hegel yang merupakan guru filsafatnya sebagai filsafat yang using. Dialektika Marx yang merupakan kunci utama dalam filsafatnya akhirnya berbanding terbalik dengan Dialektika Hegel yang di dasarkan pada keutamaan ide sebagai pengubah sejarah.

Materialisme Dialektika benar – benar bebas dari segala ajaran mistisme yang selama ini hinggap dalam sejarah manusia selama ribuan tahun. Kita mengenal abad kegelapan (abad 5 – 15 M) karena manusia pada masa ini terlalu percaya pada dogma agama. Kita menyebut Rennaissance setelah abad kegelapan karena manusia telah terbebas dari dogma – dogma tersebut dan mencapai tahap yang merasionalkan akal. Materialisme Dialektika sebagai filsafat yang paling relevan hingga kini bahkan mengungkapkan bahwa beberapa metode ilmu pengetahuan yang mengandung unsur adanya Perancangan Cerdas sebagai penggerak alam semesta itu adalah suatu kesalahan sains paling fatal. Para kaum Materialisme Marxisme tidak percaya dengan adanya big bang dan materi gelap, juga tidak percaya dengan adanya penciptaan manusia dan tidak percaya soal Perancangan Cerdas yang mengatur tatanan Alam Semesta ini secara keseluruhan (dalam buku Reason in Revolt karya Alan Woods jelas memaparkan hal ini, bahwa apa yang di sebut Materialisme Dialektika yang sejalan dengan ilmu pengetahuan juga berguna untuk mengkritik sains mutakhir yang masih mengandung unsur Idealisme yang cukup kuat).

Namun, Materialisme Dialektika bukanlah suatu filsafat yang terus menerus fokus terhadap kebenaran ilmu pengetahuan, melainkan lebih kepada metode analisis masyarakat serta sejarahnya. Materialisme Dialektika benar – benar menjadi induk dari segala ajaran Marxisme. Tidak ada satupun metode dan teori Marxisme yang tidak bersandar pada Materialisme Dialektika. Marxisme sebagai suatu ideologi sendiri memang khusus di peruntukkan untuk menciptakan kesadaran masyarakat tanpa kelas dan memberangus Kapitalisme. Namun pada akhirnya, ketika umat Islam (agama yang paling banyak menganut Materialisme) bergabung dalam perjuangan kaum Marxisme, umat Islam banyak mendapat cercaan bahwa mereka tidak sanggup untuk menanggalkan agamanya demi sebuah perjuangan. Hal ini merupakan cemoohan yang paling kasar diterima oleh kaum beragama Karena pada dasarnya kaum Marxis yang beragama merupakan kaum Marxis yang percaya bahwa metode Marxisme dapat memberangus penindasan, bukan memberangus agama. Hal ini akhirnya memunculkan konsep Rasionalitas Agama. Para kaum Marxis beragama tersebut akhirnya memakai agama mereka sebagai wadah perjuangan Marxisme. Lebih dari pada itu, mereka merasionalkan agama mereka sehingga tidak menjadi agama yang konservatif dan bertentangan dengan Materialisme Dialektika. Hal ini membuat mereka lebih memprioritaskan Materialisme Dialektika daripada agama mereka sendiri. Sungguh merupakan kecelakaan yang fatal.

Bagi saya, agama sebagai sumber hukum moral utama merupakan sesuatu yang paling urgent daripada filsafat. Namun bukan berarti saya akan menyingkirkan Materialisme Dialektika sebagai sumber analisis utama dalam perjuangan. Saya tidak akan mematerialisasikan agama, melainkan mengagamakan Materialisme. Hal ini lah yang menjadi inti utama dalam artikel ini. Bahwa ada kalanya kaum Materialisme harus mempunyai iman sebagai dasar moral dan tuntunan mereka sehingga mereka tidak tersesat dalam lembah amoral yang biasa terjadi pada masa Stalin, Mao, ataupun Pol Pot. Mereka adalah orang – orang Marxis Atheis yang mengaku Marxis namun menyimpang dari ajaran sesungguhnya karena tidak adanya moral yang bisa menuntun mereka ke aturan dan hukum, bukan sistem atau pengontrolan karena hal ini di rasa sangat dictator, namun moral dan etika lah yang pantas di terapkan sehingga masyarakat akan nyaman berada di dalam satu negara Sosialisme.

Kaum agama yang Materialis harus menyatakan bahwa dalam suatu hubungan horizontal harus sangat rasional karena agama merupakan hal pribadi. Maka dalam hubungan horizontal tersebut, kita sebagai orang yang beragama harus menjadi seorang Materialisme Dialektis karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa Materialisme Dialektika merupakan filsafat analisa masyarakat juga kritik sains. Tetapi dalam konsep hubungan vertikal, kita sebagai seorang Materialisme harus mejadi seorang yang beragama karena tidak ada Tuhan yang di nalarkan oleh pemikiran Materialisme Dialektika. Tan Malaka dalam “Islam dalam Tinjauan Madilog” mengungkapkan bahwa Tuhan, Surga, dan Neraka merupakan hal yang berada di luar nalar Madilog. Hal ini tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah. Dalam satu sisi, pernyataan tersebut benar adanya karena Tuhan adalah Maha Objektif, melampaui Materi yang di ciptakannya. Tuhan sebagai pencipta materi harus berada di luar konsep dan terbebas dari hukum materi yang di ciptakannya. Pernyataan Tan Malaka tersebut juga mengandung kesalahan karena beliau secara tegas meninggalkan tinjauan tersebut dalam suatu pernyataan singkat yang mengandung tanda Tanya besar. Apakah orang beragama dan Materialisme bisa di satu padukan ?

Pada dasarnya dalam Materialisme mengenal gejala dan fenomena sebagai satu kesatuan pemahaman nalar yang masih samar – samar. Metode gejala dan fenomena di pakai untuk mengungkapkan suatu materi yang masih belum jelas bagaimana pergerakan dan bentuknya, namun jelas ada karena indrawi kita tidak bisa merasakan secara penuh. Materi – materi yang demikian banyak contohnya, seperti atom, galaksi, berat proton, loncatan listrik, medan magnet, dan lain – lain. Apakah hal tersebut masuk akal ? Hal tersebut sangat masuk akal, namun perlu penelitian lebih lanjut dalam mengungkapkan kejelasan keberadaannya. Bagaimana dengan Tuhan dan iman ?

Ketika kita berjalan bersama teman kita, kita menebak bahwa teman kita memiliki uang, lalu teman kita memberikan minuman kepada kita berupa whisky. Pertanyaan awal kita adalah darimana whisky itu berasal ? Kita pasti melihat fenomena bahwa Whisky tersebut ada di tangan kita, lalu gejala adanya whisky tersebut kita asumsi kan bahwa teman kita memiliki uang untuk membelinya. Darimana kita tahu bahwa teman kita memiliki uang ? Sederhana, dengan adanya fenomena whisky tersebut dapat kita simpulkan bahwa teman kita memiliki uang, tetapi kita bisa menyimpulkan hal lain yaitu bahwa teman kita di beri whisky oleh orang lain. Maka gejala kedua adalah bahwa teman kita baru saja keluar dari bar tempat menjual whisky. Tentu hal ini menguatkan dugaan bahwa teman kita memiliki uang untuk membelinya. Fenomena dan gejala tersebut membuktikan bahwa teman kita memang memiliki uang.

Sama halnya dengan Tuhan. Ketika kita melihat fenomena Tuhan sebagai maha objektif, maha besar dan maha pencipta maka kita harus lepas dari dogmatis agama yang mengharuskan pernyataan bahwa Tuhan itu ada. Perlu adanya gejala – gejala yang membuktikan hal tersebut. gejala – gejala tersebut kita asumsikan dengan banyak nya kehadiran materi yang teratur pergerakannya. Keakuratan hukum 4 gerak yang menjaga keseimbangan alam semesta merupakan satu gejala utama. Selain daripada itu, gejala – gejala lain juga membuktikan adanya Tuhan, yaitu adanya kedinamisan dialektika alam yang tidak mungkin ada begitu saja. Suatu hal konyol ketika menyatakan bahwa materi bergerak terus menerus dan tiada awal atau akhir dalam gerak tersebut, ini merupakan konsep sempit dari Materialisme Mekanis yang pernah di ucapkan Hume maupun Descartes. Gerak dialektika materi yang teratur tersebut di ciptakan sesuatu di luar nalar materi sehingga dapat masuk akal ketika kita menyatakan bahwa alam semesta mempunyai awal dan akan berakhir dalam suatu chaos. Hal ini merupakan suatu hukum alam bahwa materi mengalami siklus hidup matinya secara terus menerus. Setiap materi mengalami kematian, maka materi tersebut akan menciptakan hidup baru yang lebih tinggi tarafnya daripada sebelumnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa materi dalam pergerakannya mengalami perkembangan karena adanya kontradiksi hidup dan mati yang teratur.

Bagaimana dengan iman ? bagi kaum beragama, iman adalah sesuatu yang menjadi inti pokok ajaran keagamaan. Dalam Islam, kita mengenal konsep rukun iman yang berjumlah 6 yaitu Tuhan, malaikat, Rasul, Kitab, Hari Kiamat, dan Ketentuan Takdir. Bagi orang – orang Islam yang konservatif maka ada larangan keras untuk mempertanyakan lebih lanjut soal rukun iman tersebut karena hal tersebut dapat menimbulkan dosa. Namun bagi kita, kaum Islam non konservatif bahwa hal tersebut harus di pertanyakan.

Ketika kita telah menjelaskan keberadaan Tuhan dengan konsep fenomena dan gejala, kita perlu menjelaskan 5 lagi. Malaikat adalah materi, ketika saya menyatakan hal ini maka secara vulgar juga saya di anggap sebagai ahli bid’ah atau murtad dari agama saya sendiri. Tetapi malaikat memang sebuah materi halus, bukan merupakan barang ghaib. Hal ini bisa di jelaskan secara singkat dan sederhana. Malaikat terbentuk dari suatu materi yang bernama cahaya. Cahaya sebagai materi halus juga bersifat gelombang dalam kecepatan yang tinggi, hal ini yang membuat malaikat mempunyai anugerah yang lebih di bandingkan manusia. Malaikat bisa dikatakan sebagai materi cahaya yang hidup layaknya manusia. Bagi kaum Materialisme beragama, wajib bagi kita mengimaninya karena hal tersebut di rasa rasional.

Bagaimana dengan rasul ? Hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah karena rasul juga merupakan manusia, hanya bedanya terletak dari kemoralannya. Moral rasul di rasa paling sempurna di antara manusia yang lainnya, maka tidak heran jika kaum beragama seperti kita menjadikan rasul kita sebagai panutan utama untuk menciptakan moral yang baik. Mukjizat – mukjizat rasul perlu di buktikan secara ilmiah karena hal ini menyangkut hal – hal yang mistis. Mukjizat – mukjizat kenabian tersebut sebagian besar merupakan hal yang berada di luar nalar manusia. Perlu di adakan penelitian lebih lanjut tentang relevansi mukjizat – mukjizat tersebut dalam sejarah.

Hal yang di rasa perlu di teliti adalah kitab suci, kitab suci dalam konsep agama di jadikan asas pedoman hidup dan historis alam semesta. Dalam beberapa kasus, kitab suci memang cocok di jadikan pedoman historis karena kecocokan data yang ada dengan lapangan fakta. Tetapi jika kitab suci telah berbicara hal – hal yang fantastis, maka hal ini jauh di luar daya nalar kita. Namun tidak ada salahnya kita membuktikan hal – hal tersebut agar kitab suci menjadi suatu kitab yang masuk akal. Asas pedoman hidup masyarakat juga akhirnya menjadi sesuatu yang perlu di pertanyakan. Hukum – hukum dalam kitab suci terutama Al Quran sangat cocok bagi kaum Materialisme Dialektika yang berorientasi pada Sosialisme. Juga Al Quran merupakan kitab yang paling rasional di antara semua kitab suci yang lainnya.

Chaos juga merupakan hal yang kontradiksi bagi kaum Materialisme. Bagi Marxisme, tiada awal dan akhir bagi materi, namun bagi kami, materi mempunyai awal dan akhir. Siklus hidup dan mati sebuah materi menentukan perkembangan materi menjadi tingkat yang lebih tinggi lagi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa chaos atau hari kiamat merupakan suatu hal yang pasti, hal tersebut mendekati ramalan. Hari kiamat bukan lah sebuah ramalan, namun memang merupakan bagian dari siklus hidup dan matinya materi. Dalam teori osilasi, alam semesta mengalami reinkarnasi beberapa kali, mengalami siklus hidup dan matinya sebagai sebuah materi. Hal ini di rasa rasional maka kita sebagai kaum beragama perlu mengimaninya.

Terakhir, dalam ketentuan takdir kita perlu meneliti lebih lanjut. Dalam Islam dikenal konsep Qadha (ketentuan takdir yang tidak bisa di rubah) dan Qadhar (ketentuan takdir yang bisa di rubah), kedua konsep tersebut menyangkut masalah Ketuhanan. Takdir merupakan suatu bentuk ketentuan yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai bentuk pengandaian. Takdir juga berarti nasib. Kita sebagai kaum Materialisme tidak harus mempercayai takdir dan nasib karena hal ini bertentangan dengan kodrat manusia yang harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu kebutuhan. Tetapi kita tidak perlu menafikkan takdir, karena takdir berguna untuk bentuk pengandaian dan penyesalan diri ketika kita gagal dalam berusaha, namun bukan jadi titik acuan kemalasan karena agama pun melarang hal yang demikian. Sudah jelas konsep ini memang sangat diragukan. Namun konsep ini mendekati rasionalitas.

Materialisme Dialektika menjadi suatu filsafat yang sempurna, sebenarnya tidak terlalu bertentangan dengan agama itu sendiri. Kebanyakan para Materialis mencemooh agama hanya karena satu hal, yaitu bahwa Materialisme tidak mempercayai hal – hal yang ghaib. Namun agama non konservatif bukan lah sesuatu yang mistis, malah mendekati rasionalitas. Ketika tatanan masyarakat telah mencapai tahapan masyarakat Komunisme, agama – agama tersebut akan lenyap dengan sendirinya karena tatanan moral sudah tidak lagi di butuhkan, sudah merupakan suatu kewajiban yang lumrah ketika moral tersebut menjadi bagian dari masyarakat Komunisme. Ketika masa itu terjadi, maka manusia telah mencapai tahap yang paling sempurna.
Sudah jelas kita sebagai kaum Materialisme harus beriman dan beragama, namun agama yang harus di pilih merupakan agama yang non konservatif karena agama yang konservatif merupakan agama yang paling tidak bertahan dalam tantangan zaman dan penuh dengan kemistisan. Pernyataan saya ini tentunya akan di tentang oleh sebagian besar kaum Materialisme yang sebenarnya Atheis, namun hal ini di rasa perlu karena agama merupakan sumber tatanan moralitas manusia yang paling kompleks. Namun cukuplah urusan beragama di jadikan persepsi pribadi saja, karena dalam kemasyarakatan kita adalah kaum Komunisme yang sesuai dengan konsep Marxisme. Toh, konsep Marxisme tidak sepenuhnya bertentangan dengan agama itu sendiri.

(Alvie, 13 Desember 2015)

12 Februari 2015

MENGENAL MATERIALISME, DIALEKTIKA, DAN MATERIALISME DIALEKTIKA


“Mengenal Materialisme dan Dialektika dalam Konteks Marxisme”


Dewasa ini, banyak kaum Marxis vulgar yang memahami Marxisme sebagai ideologi yang mengajarkan revolusi ataupun dalam konteks politiknya saja. Kebanyakan dari mereka adalah orang – orang yang asal mengerti Marxisme sehingga karena mereka, akhirnya Marxisme jatuh ke lembah sasaran kritik vulgar yang sebenarnya mudah untuk di jawab, namun mereka akhirnya kalah pendapat. Mereka tidak memahami Marxisme secara keseluruhan, seseorang pernah berkata kepada saya bahwa untuk mempelajari keseluruhan dari sendi – sendi Marxisme di butuhkan waktu selama 20 tahun. Sekilas pernyataan tersebut terlihat hiperbola, namun mungkin saja iya, karena untuk memahami Marxisme maka kita harus memadukan antara teori dengan praxis. Karena Marxisme adalah teori yang berdiri atas praxis, keberhasilan dari Marxisme di tentukan oleh praxis – praxis yang ada. Praxis dari Marxisme bukan sekedar revolusi atau mendirikan kediktatoran proletariat saja, namun lebih dari itu adalah menanamkan keseluruhan dari ajaran Marxisme ke dalam seluruh sendi kehidupan proletariat. Untuk memahami hal demikian, maka kita harus menjadi seorang proletar terlebih dahulu, karena bagi seorang Borjuis, tidak mungkin bisa memahami Marxisme secara mendalam, hal yang demikian bisa menjerumuskan borjuis tersebut ke dalam pemikiran yang revisionis seperti halnya yang terjadi pada kebanyakan Marxis vulgar pada umumnya. Karena pada sesungguhnya Marxisme hanya di tujukan kepada kaum proletar saja sebagai pemegang amanat untuk menciptakan perdamaian tanpa kelas di seluruh dunia.

Untuk memahami Marxisme, maka kita perlu memahami filsafat Marxisme sebagai pokok dari keseluruhan ajaran Marxisme yaitu “Materialisme Dialektika”. Filsafat Materialisme Dialektika merupakan filsafat terakhir di muka bumi. Mengapa demikian ? Karena sesudah Karl Marx dan Engels menjabarkan filsafatnya tersebut, belum ada satupun filsuf yang berhasil menyusun teori baru tentang filsafat. Selebihnya merupakan pengembangan dari Materialisme Dialektika sendiri. Lenin misalnya, dalam karyanya “Materialisme dan Empiriokritisme” bukan lah merupakan suatu metode filsafat baru, melainkan kritik atas pemikiran kaum Neokantian juga Machian yang mengatasnamakan diri sebagai Marxisme sesudah revolusi 1905. Kekalahan revolusi tersebut menjadi pukulan yang berat bagi para Marxis pada masa itu yang akhirnya membuat mereka beralih menjadi seorang Dualisme yang vulgar. Mao dengan karyanya “Tentang Kontradiksi” juga bukan merupakan metode filsafat baru, melainkan pengembangan dari metode Materialisme Dialektika sehingga menjadi metode filsafat yang di gunakan untuk melakukan revolusi Cina 1949. Juga terhadap Tan Malaka dengan karyanya “Madilog” juga bukan pemahaman filsafat baru, melainkan hanya sebagai karya revisionis atas Materialisme Dialektika yang di sesuaikan dengan keadaan bangsa Indonesia pada waktu itu.
Materialisme Dialektika membuka alur sejarah baru dalam dinamika kehidupan manusia. Materialisme Dialektika berhasil membuka jalan baru untuk memahami semesta pada umumnya sehingga dianggap paling rasional di antara semua metode filsafat pada umumnya. Materialisme Dialektika juga sejalan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat Marxisme tidak akan mendahului bukti sains sebagai pokok utama kemajuan zaman, melainkan akan mengawalnya sehingga apa yang tidak rasional menjadi rasional. Tiada yang namanya Idealisme dalam sains, begitu pula dengan Marxisme. Semua bicara sesuai fakta objektif yang ada. Semua berbicara soal fenomena dan gejala juga pembuktian kedua hal tersebut. Hal inilah yang kemudian menempatkan Materialisme Dialektika sebagai filsafat yang paling relevan hingga kini. Filsafat yang menjadi jalan perjuangan proletariat dalam menggapai seluruh hak – haknya dan juga menghilangkan penindasan di muka bumi.

Marx secara ilmiah menggabungkan kedua metode filsafat dan meramunya hingga menghasilkan filsafat yang tiada kalah tandingnya tersebut. Materialisme Feuerbach dan metode Dialektika Hegel menjadi inti dari filsafat ini. Marx berhasil menyingkirkan metafisika/mistisme dari Materialismenya Feuerbach dengan metode Dialektikanya. Marx juga berhasil membalikkan metode Dialektikanya Hegel dengan Materialismenya. Kombinasi yang demikian menghasilkan sesuatu yang akhirnya tetap relevan hingga kini. Filsafat tersebut bertahan dan terus di agungkan hingga kini oleh para penganutnya termasuk saya. Filsafat Materialisme Dialektika selanjutnya di pakai untuk metode analisis masyarakat dan hubungannya dengan politik ekonomi Marxisme. Dengan memakai filsafat tersebut pula lah, Sosialisme yang tadinya merupakan utopi akhirnya menjadi sesuatu yang ilmiah dan harus di wujudkan dengan memadukan antara teori dan praxis sehingga menghasilkan sesuatu yang di rindukan manusia, yaitu kesadaran masyarakat tanpa kelas.

Materialisme Marx
Materialisme dan Dialektika merupakan komponen dasar dari keseluruhan ajaran Marxisme. Maka izinkan saya untuk mengungkapkan opini saya mengenai kedua hal tersebut, tentunya dengan berbagai sumber yang valid. Opini saya mengenai filsafat Marxisme ini tentunya tidak akan lari dari teori sebelumnya sehingga tidak mengundang artikel yang bersifat revisionisme.

Materialisme secara singkat adalah suatu filsafat yang berangkat dari pemikiran yang rasional. Materialisme mempunyai unsur pokok filsafat yaitu materi. Pengertian Materi sendiri adalah suatu objek yang di tangkap oleh indrawi manusia secara nyata dan rasional. Materi adalah suatu bentuk yang tergambar akibat adanya input dari indrawi manusia yang secara nyata ada dan di transfusikan ke otak menjadi bentuk pemahaman yang menganggap bentuk itu memang ada. Contohnya ketika kita melihat kapur tulis, maka otak secara sadar menyatakan bahwa kapur tulis itu memang ada, maka kapur tulis tersebut adalah materi. Suara juga merupakan suatu bentuk materi yang di konkritkan dalam bentuk gelombang longitudinal yang di tangkap oleh telinga. Begitu juga rasa panas dan dingin sebagai akibat dari adanya pengaruh dari materi yang di rasa oleh kulit.

Materialisme berarti adalah suatu pemahaman akan materi dan menganggap semua yang ada adalah materi, tiada yang namanya bentuk mistisme seperti roh, jiwa, dan lain – lain. Semua dalam Materialisme adalah rasional dan sejalan dengan ilmu pengetahuan. Materialisme pra Marx adalah suatu bentuk Materialisme yang masih dangkal dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa. Marx berkata :

Kekurangan utama dari semua materialisme yang ada sampai sekarang-termasuk materialisme Feuerbach-ialah bahwa hal ihwal (Gegenstand), kenyataan, kepancainderaan, digambarkan hanya dalam bentuk benda (Objekt) atau renungan (Anschauung), tetapi tidak sebagai aktivitet pancaindera manusia, praktek, tidak secara subyektif. Karena itu terjadilah bahwa segi aktif, bertentangan dengan materialisme, dikembangkan oleh idealisme-tetapi hanya secara abstrak,
            (Thesis tentang Feuerbach no. 1)

Dari pernyataan di atas kita dengan mudah mengetahui apa perbedaan konsep Materialisme antara Marx dengan para Materialis sebelumnya. Materialisme pra Marx hanya memahami materi hanya dalam bentuk objek atau renungan, sedangkan Materialisme Marx memahami materi bukan hanya sebagai benda, namun juga dalam bentuk pergerakannya. Materialisme Marx mempunyai dialektika sebagai hukum pergerakan materi tersebut. Marx memahami bahwa materi bukan hanya sebagai benda yang diam, namun sebagai benda yang terus bergerak mengalami pertentangan dan perkembangan dari masa ke masa. Menurut Marx, materi yang tidak berdialektika masih terdapat unsure Idealismenya. Hal ini mudah di tangkap bahwa materi sebagai hal yang di tangkap indera hanya berbentuk materi diam atau materi mekanis yang terus mengalami pergerakan secara berulang dan berkala, materi tersebut tidak di pahami sebagai bentuk benda yang bergerak sesuai dengan aktivitas panca indera manusia. Marx berkata :

Pendirian materialisme lama ialah masyarakat "sipil"; pendirian materialisme baru ialah masyarakat manusia, atau umat manusia yang bermasyarakat.
            (Thesis tentang Feuerbach no. 10)

Ini juga merupakan pernyataan yang membedakan Materialisme Marx dengan Materialisme pra Marx. Materialisme Pra Marx hanyalah berbicara soal aktivitas sipil yang tidak berdialektika. Aktivitas yang tidak terwujud dalam aktivitas sosial pada umumnya. Materialisme Marx memahami aktivitas manusia sebagai aktivitas sosial masyarakat yang pada umumnya saling berkaitan satu yang lainnya.

Materialisme Marx berwujud praxis, bukan hanya sekedar teori yang mengalami perkembangan dari otak ke otak. Materialisme Marx memahami perkembangan dari otak ke masyarakat lalu ke sejarahnya. Hal inilah yang membuat Materialisme Marx sangat unik dan relevan hingga kini.

Dialektika
Dialektika adalah metode filsafat yang telah lama dikenal sejak Socrates. Pada awalnya Dialektika hanya merupakan proses Tanya jawab filsafat pada masa Socrates. Namun, Dialektika berkembang menjadi suatu hukum pergerakan yang secara sederhana di ungkapkan oleh Hegel. Dialektika Hegel menerangkan bahwa suatu tesis atau teori atau ide pasti akan bertemu dengan kontra ide atau teorinya sebagai basis kritik ataupun perlawan dari teori yang ada. Ide dan kontra ide tersebut saling bertentangan namun berhubungan sehingga menciptakan suatu ide baru yang disebut dengan synthese. Namun Dialektika Hegel masih mengandung Idealisme yang sangat kuat. Marx memakai metode Dialektika Hegel tersebut dengan mengubahnya menjadi Dialektika yang Materialis. Konsep Dialektika Marx lebih kompleks dari Hegel. Menurut Marx dan Engels, Dialektika berarti :
 Perubahan kuantitas menjadi kualitas
Kutub berlawanan yang saling merasuki
Negasi dari Negasi

Perubahan kuantitas menjadi kualitas adalah konsep pertama dialektika Marx. Hal ini di jelaskan oleh Engels secara sederhana. Misalnya adalah air yang merupakan kumpulan kuantitas dipanaskan berubah menjadi uap yang merupakan suatu kualitas. Namun konsep tersebut mengandung kesalahan karena pada kenyataannya air tetap tidak berubah walaupun ia dalam bentuk uap, tetap namanya adalah uap air. Bagaimana dengan contoh lain ? Perubahan kuantitas di pahami sebagai perubahan yang mengandung besaran atau nilai, sedangkan perubahan kualitas adalah perubahan yang mengandung sifat. Contoh yang paling relevan dari konsep ini adalah masyarakat. Perubahan kuantitas menjadi perubahan kualitas tergambar dalam peristiwa sejarah itu sendiri. Peristiwa sejarah tidak dapat berkembang jika tidak mengandung konsep ini. Misalnya adalah perang Salib, perubahan kuantitas berupa peperangan yang berlangsung selama 2 abad akhirnya menjadi suatu perubahan kualitas yaitu berupa sifat pertentangan yang baru antara kedua agama hingga sekarang. Juga pada revolusi Oktober sebagai salah satu revolusi Marxisme tersukses dalam sejarah. Ketika Kapitalisme sebagai akhir dari Imperialisme muncul, hal ini merupakan suatu kuantitas karena bergantung pada nilai dan tingkatan – tingkatan yang berdasarkan pada ekonomi, lalu berubah menjadi suatu kualitas melalui revolusi menjadi suatu pemerintahan buruh yang tidak lagi bersandar pada ekonomi, melainkan pada kesejahteraan proletariat.

Kutub berlawanan yang saling merasuki merupakan konsep kedua dari dialektika Marx. Konsep ini dapat disederhanakan menjadi suatu hukum kontradiksi yang menggerakkan sejarah. Suatu peristiwa sejarah tidak serta merta terjadi begitu saja, namun peristiwa tersebut muncul karena adanya hukum kontradiksi. Jika kontradiksi tersebut tidak ada, maka yang terjadi adalah kehidupan yang statis dan tidak membawa pengaruh apa – apa pada jalannya sejarah. Hasilnya merupakan kejenuhan hidup dan tidak akan masuk akal sehat kita sendiri. Dalam alam juga mengalami kontradiksi yang demikian. Misalnya, kita melihat terbentuknya sebuah bintang baru karena adanya kontradiksi dari partikel – partikel nebula, juga bisa Karena Supernova yang merupakan kontradiksi dari komposisi bintang tua.

Negasi dari Negasi adalah bentuk konsep yang agak rumit menurut saya. Dalam pengertian saya, negasi dari negasi adalah suatu bentuk penyangkalan dari kontradiksi sebelumnya yang merupakan sebuah penyangkalan juga. Penyangkalan tersebut bersifat berseberangan namun berhubungan dan berkembang. Contohnya dalam analisa masyarakat adalah perkembangan masyarakat Kapitalisme yang merupakan negasi dari kepemilikan pribadi dan perkembangan masyarakat sosialisme adalah negasi dari negasi masyarakat Kapitalisme. Konsep ini bersifat kontradiksi namun kontradiksi ini menghasilkan suatu perkembangan yang baru.

Ketiga konsep tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, konsep – konsep tersebut saling berhubungan membentuk satu metode yaitu metode dialektika Marx. Ketiga konsep tersebut merupakan suatu perpaduan yang sempurna sehingga menjadi suatu metode yang bertahan hingga kini dalam menjawab segala bentuk persoalan masyarakat dan sejarahnya.

(bersambung)