Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

9 Maret 2016

CERPEN "MENUNGGU JAWABAN"

MENUNGGU JAWABAN

I
Gerimis malam membuatku kedinginan! Aku berjalan tenang dengan selayaknya orang yang tidak kedinginan. Perjalanan dari kampus ke kost yang biasa ditempuh sebentar, sekarang terasa sangat lama. Apa yang terjadi? Gerimis melambatkan langkah kaki dan detak jantung. Tunggu! Detak jantungku melambat!

“gua mau mati!”, aku coba teriak tapi tak bisa dan akhirnya detak jantungku berhenti. Tubuhku tersungkur dan tak ada satupun orang yang mengetahui soal ini. Aku mati!

Rohku hidup dan keluar dari tubuhku. Aku pun menangisi keadaan tubuhku yang sudah tidak bernapas lagi. Apakah ia akan membusuk ditengah gerimis yang makin menjadi? Apa ada orang yang sedia mengangkut tubuhku sehingga aku bisa dikuburkan dengan layak? Aku tidak tahu, tetapi yang pasti, aku tidak ingin meninggalkan tubuhku yang malang ini. Tak lama kemudian, ada seseorang lewat di depanku dengan muka tidak berekspresi seakan ia tidak mengetahui bahwa aku ada disini.

“Hey, kalo lu manusia, tolong kasih tau yang lain, kuburin badan gua ini. Tapi kalo lu jin atau roh yang lainnya, tolong gubris omongan gua!”, aku memanggilnya tetapi dia sama sekali tidak menggubrisku. Aku jadi bertanya-tanya, siapakah dia? Tetapi belum habis rasa penasaran, satu orang lagi lewat dihadapanku dan menegurku.

“Kawan, aku punya kabar baik dan kabar buruk untukmu!”, tegurnya kepadaku.

“Apa tu?”

“Kabar baiknya, engkau dipanggil malaikat Munkar dan Nakir.”

“Oke, aku paham karena aku udah tau kalo aku mati.”

“Kabar buruknya adalah ada yang menangisimu tiba-tiba sehingga engkau sama sekali tidak bisa bertemu dua malaikat itu.”

Aku pun bertanya-tanya siapa yang menangisiku. Tetapi ketika aku ingin bertanya kepada orang itu, dia pun menghilang entah kemana. Tak lama kemudian muncul orang ketiga yang lewat tidak melihatku, tetapi ia melihat jasadku.

Inna lillahi wa inna Ilaihi Roji’un, seseorang tolong ada yang meninggal disini!”, teriak orang itu.

Aku pun terkaget dan ingin berkata kepadanya agar jasadku tidak diangkutnya terlebih dahulu karena aku berasumsi, antara dunia dan alam barzakh, keduanya masih bimbang akan menerimaku atau tidak. Tetapi belum lagi aku bicara, masyarakat berdatangan mendatangi mayatku dan akhirnya mengangkutnya ke mesjid terdekat. Aku pun menangis karena jika sempat mayatku dikubur, maka sia-sialah tangisan orang yang menangisiku.

“Apa ada yang kenal dengan dia?”, kata seseorang yang pertama menemukan jasadku.

Urang denger, dia itu mahasiswa yang selalu hidup sendirian di kosan sono”, kata seseorang yang lainnya sambil menunjuk kosan yang aku huni.

“mari kita angkat saja dia ke mesjid untuk kemudian di umumkan, mungkin kita bisa liat dompetnya agar kita tau siapa dia sebenarnya.”, kata seseorang yang lainnya.

Akhirnya mereka ramai-ramai mengangkut jasadku ke mesjid. Aku mengikuti mereka hingga ke mesjid. Di pintu mesjid aku dihalangi oleh dua orang yang berpakaian putih bersinar.

“Aku melihat daun yang bertuliskan namamu di Lauh Mahfudz sangat bimbang untuk jatuh, apakah sebenarnya engkau telah mati atau belum?”, tanya seseorang diantara keduanya.

“Aku menjawab, tadi ada sosok roh yang berkata bahwa ada seseorang yang menangisiku sehingga antara dunia dan barzakh, keduanya bimbang untuk menerimaku kembali. Baiknya kalian bertanya pada yang Maha Empunya Segalanya, aku rasa dia tau jawabannya.”, jawabku sambil terisak.

“Tapi maaf, biarlah engkau disini dahulu, aku berjanji jasadmu tidak akan sampai untuk disatukan dengan tanah.”, kata seseorang yang satunya lagi.

“Oke, asal kalian pegang janji kalian!”

Seseorang diantara mereka lalu terbang ke langit untuk bertemu sosok dzat yang sering disebut manusia sebagai Tuhan. Aku sebenarnya agak ragu dengan jawaban Tuhan, karena ia sendiri mungkin sangat kesal denganku karena kelakuanku selama hidup sungguh membuatnya kesal. Tetapi aku percaya diri bahwa Tuhan sungguh Maha Adil. Bagiku, urusanku di dunia belum selesai.


II
Di sudut ruang lainnya .......

“Gimana ya kabar dia, apa dia baik-baik aja? Kok dia gak jawab chat aku sih!”, sebuah kalimat terlontar dari seseorang yang sedang berbicara dengan bonekanya yang belakangan ia namakan dengan garfield. Boneka yang diberi nama berdasarkan rekomendasi dari seorang mahasiswa yang baru saja wafat. Rupanya ia sedang menangis karena khawatir dengan keadaan si mahasiswa tersebut. Tak lama kemudian, datanglah bisikan ghaib yang mengatakan:

“orang yang engkau sayangi telah wafat di tengah perjalanan ke kosannya! Dia tidak bisa pergi ke alam barzakh karena kebimbanganmu dalam mencintainya. Jika engkau mencintainya, maka panggillah ia ke dunia kembali! Tetapi jika engkau tidak mencintanya, maka kami akan mencabut daun yang bertuliskan namanya agar ia tidak bisa lagi kembali ke dunia – dalam arti yang sederhana, dia mati!”, bisikan itu ternyata berasal dari orang yang berpakaian putih bersinar tadi.

“Ah gak mungkin dia mati, tadi dia masih bales chat kok! Aku gak percaya sama kata-kata kamu, kamu siapa lagi?”, tanyanya kepada orang yang berpakaian putih bersinar tersebut.

“Aku adalah penjaga mesjid dekat kosannya. Engkau tidak akan bisa melihatku karena aku ghaib. Engkau tidak butuh perkenalan ini, yang engkau butuhkan adalah pertanyaan dariku. Maka jawablah pertanyaanku atau masyarakat yang akan mengubur jasadnya akan menutup buku catatan amalnya di dunia!”, teriak orang yang berpakaian putih bersinar tersebut kepada dia.

Dia pun menangis dan selama ia menangis, lidahnya tidak bisa berkata apa-apa.


III
Seminggu yang lalu ...

“Aku pengen liat-liat apa aja sih yang bisa ngobatin kanker”, kata si mahasiswa kepada dia yang empunya boneka garfield.

“buat apa emang?”, tanya orang yang empunya boneka garfield.

“ya gapapa, buat pengetahuan aja”

“ya banyak makan wortel sama bawang putih setau aku mah”

“oke deh kalo gitu”

Pembicaraan singkat diselingi tawa terjadi disebuah toko buku ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan menikmati waktu berdua. Mereka menghabiskan waktu hingga pukul delapan setelah hujan usai. Mengelilingi sebuah mall kecil satu-satunya di tengah wilayah yang kini disebut dengan kota pendidikan.

Sehari setelah mereka bertemu, si mahasiswa tidak sadar bahwa ia sedang diintai malaikat maut. Tetapi walaupun malaikat maut ingin mencabut nyawanya, si malaikat sempat berdebat dengan malaikat Raqib dan Atid.

“Aku rasa buku catatan amal dia masih banyak yang kosong, apa gerangan yang membuatmu kemari wahai Izrail?”, tanya malaikat Raqib kepada malaikat maut.

“Daun yang bertuliskan namanya di Lauh Mahfudz sudah goyang dan sepertinya akan terjatuh sebentar lagi.”, jawab malaikat maut.

“Hmm, Aku baru saja menemukan kasus yang seperti ini, tetapi baiknya kita tunggu daun itu jatuh dulu, sementara kami tetap menulis amal-amalnya.”, gagasan yang disampaikan malaikat Atid cukup brilliant.
Seminggu setelahnya, daun tidak juga jatuh namun gerimis merenggut nyawa si mahasiswa terlebih dahulu dibandingkan malaikat maut yang memang sudah mengikuti si mahasiswa sejak awal. Malaikat maut sempat menduga bahwa ia bunuh diri.

“Tidak mungkin! Aku harus melihat ke Lauh Mahfudz dan melaporkan kejadian ini kepada Tuhan!”, sang malaikat pun terbang tanpa menggiring roh si mahasiswa bersamanya.

Tak lama kemudian, sesosok jin lewat dan sempat dipanggil si mahasiswa, namun jin tersebut tidak menyahut karena tidak melihat si mahasiswa sama sekali.


IV
Sementara itu di Arsy ...

Malaikat maut menghadap Sang Maha Pencipta yang sedang duduk di singgasanaNya yang Agung.
“Ya Robb, aku ingin melaporkan kejadian yang mungkin sebetulnya engkau telah mengetahuiNya!”, lapor sang malaikat kepada Tuhan.

Sebelum Tuhan menjawab, datanglah seseorang yang berpakaian putih bersinar yang sebelumnya telah menghampiri orang yang empunya boneka garfield.

“Ya Rabb...”, belum selesai orang itu berbicara, Tuhan pun menyela.

“Sungguh Aku telah mengetahui kejadiannya. Maka biarlah ia berkeliaran hingga orang itu berhenti menangis – entah karena ia memang mencintainya atau tidak – sementara jagalah jasadnya hingga orang tidak mengetahuinya! Anggaplah ia sedang mraga sukma. Doa orang yang menangisinya lah yang akan menjawab nasib dia selanjutnya.”

Sang malaikat dan orang yang berpakaian putih bersinar itu pun mengerti dan mereka berdua pamit untuk kemudian kembali ke bumi, menjaga jasad si mahasiswa dan menyembunyikannya hingga tak satupun orang yang mengetahui bahwa si mahasiswa menghilang entah kemana. Sementara, roh si mahasiswa diajak orang yang berpakaian putih – yang lain – untuk menuju kumpulan kabut tebal yang tak jelas wilayah dan arahnya.


“Heyy, aku mau dibawa kemana?”, tanyaku kepada dua orang yang berpakaian putih.

“Biarlah engkau menunggu di kabut tebal tersebut – yang kami beri nama sebagai wilayah laa tahzan – dimana engkau bisa menunggu kabar dari keputusan hidupmu”, jawab dari salah seorang yang berpakaian putih.

“Tetapi sebelum itu, kabarkanlah kepada orang yang memegang boneka garfield itu, bahwa aku menyayanginya. Jika ia tidak mencintaku, maka serahkanlah sisa hidupku yang sedikit kepadanya agar ia bisa menikmati dunia lebih lama lagi! Jika ia mencintaiku, berikanlah kami waktu agar kami bisa membangun surga kami, karena aku sungguh menyayanginya! Kabarkanlah kepadanya, kawan!”

“Siap, aku akan mengabarkan kepadanya. Sebab yang engkau sampaikan adalah amanah, walaupun hanya manusia yang diberi amanah, tetapi engkau mempunyai esensi Ketuhanan yang akhirnya mempunyai hak prerogratifNya. Perintahmu adalah perintah Tuhan jua!”

Akhirnya, salah seorang dari yang berpakaian putih bersinar tersebut pergi menemui orang yang empunya garfield untuk memberi pesan dari si mahasiswa. Sedangkan, aku dibawa oleh orang yang satunya lagi menembus kabut lalu menghilang. Aku kira, hanya persepsiku ketika aku menghilang dari kabut, padahal dalam kenyataannya aku malah memasuki dunia yang tak ku kenal. Apa ini dunia khayalan yang pernah aku ciptakan bersamanya? Atau hanya seberkas ilusi yang akan aku nikmati selama masa penantian?

Tetapi aku tak butuh dunia ini ketika aku hanya sendiri. Aku butuh dirinya untuk mengisi dunia yang indah ini! Tetapi biarlah aku menunggu kabar darinya yang mungkin akan membunuhku nantinya. Tak lama berselang, kabut menghilang dan orang yang berpakaian putih itu pun menghilang. Aku bahkan tidak mengetahui bagaimana kabar dari jasadku sekarang.



(Alvie, 22 Februari 2016)