Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

22 Oktober 2015

A TRIBUTE TO HUMAN RIGHTS

“SALIM KANCIL’S TRIBUTE”



Mengapa tulisan ini harus berjudul demikian? Jika kita memperhatikan sejak dahulu sebagian besar manusia berusaha mempertahankan Hak Asasi Manusia (atau HAM) sedemikian rupa. Sekarang kita menyaksikan bahwa ternyata HAM itu sendiri yang mempertahankan dirinya dari gempuran hasrat manusia yang takut ketika ada ancaman subversif dan sebagainya. Ya, HAM menjadi suatu kisah yang lakonnya dimainkan oleh dua kelas yang saling bertentangan – yang pertama kita mengenal para pejuang, lalu yang kedua ialah para antagonis yang mempertahankan nilai lebih hasil penindasan – yang pada akhirnya dimenangkan oleh kelas yang kedua. Inilah mengapa rasanya pantas kita menulis A Tribute to Human Rights sebagai rasa bela sungkawa kita terhadap pementasan tragedi tersebut. Tragedi tersebut menjadi jelas klimaksnya ketika kita menyaksikan bahwa kelas yang ingin mempertahankan kekuasaannya melanggar pasal 3 dan 5 dari Universal Declaration of Human Rights:

“Setiap orang berhak atas penghidupan, kebebasan, dan keselamatan individu.”

“Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, memperoleh perlakuan atau dihukum secara tidak manusiawi atau direndahkan martabatnya”

Sepertinya setiap dari kita paham apa maksud dari kedua pernyataan tersebut. Namun, bagi yang mempertahankan legitimasi kekuasaannya akan berbicara soal pembelaan dirinya yang bahkan didukung oleh sesama jenisnya. Ya, kita berbicara soal kasus Salim Kancil yang mencoba mempertahankan tanah pertaniannya dari gempuran industrialisasi yang menguntungkan segolongan pihak. Kita juga berbicara soal kasus petani Rembang yang mempertahankan lahannya dari gempuran tambang semen. Kita juga tidak lupa bagaimana soal banyaknya buruh dan tani yang ditindas oleh segolongan pihak yang ingin mempertahankan legitimasi nilai lebihnya. Terlepas dari banyaknya aktivis yang juga merasakan hal yang sama karena membela mereka seperti Widjie Thukul, Munir, Marsinah, dan Tan Malaka.

Kisah Salim Kancil: Nyawa Kami Tak Semahal Tambang Pasir!

Sudah banyak yang berkisah soal Salim Kancil namun sedikit yang membuka matanya melihat bagaimana realitas yang sebenarnya. Slogan “Nyawa kami tak semahal tambang pasir!” menjadi khas ketika tambang pasir yang berkedok pembangunan kawasan wisata Pantai Watu Pecak melakukan tindakan yang tidak manusiawi kepada Salim Kancil dan Tosan[1]. Kedua petani tersebut menolak pembangunan tambang pasir karena menurut mereka, tambang tersebut mengurangi kualitas pertanian di wilayah tersebut.

“Tambang tersebut mengurangi kualitas pertaniannya. Mengganggu dan berdampak pada kekeringan air”

Begitulah pernyataan Munhur saat konferensi pers di gedung Komnas HAM pada 28 September 2015. Munhur juga menjelaskan bahwa masyarakat sudah lebih dari setahun melakukan komplain, tetapi pihak penguasa tidak merespon sama sekali hingga 26 September baru ada penegakan hukum. Perihal tambang, warga mendapat pengumuman sosialisasi dari kepala desa tentang pembangunan kawasan wisata Pantai Watu Pecak, namun yang terjadi malah penambangan pasir di wilayah konsesi PT. Indo Modern Mining Sejahtera. Fakta lain bahkan mengungkap bahwa wilayah konsesi tersebut milik Perhutani[2].

Hal tersebutlah yang membuat Salim Kancil dan Tosan bersuara untuk menolak tambang. Namun, yang terjadi ialah tindakan tidak manusiawi. Salim Kancil menjadi target pertama, beliau diseret dari rumahnya lalu disetrum dan dianiaya hingga akhirnya leher beliau digergaji. Lebih sadis lagi, kepala beliau bahkan dipacul dan dihantam dengan batu. Salim Kancil tewas dan mayatnya dibuang di areal perkebunan warga[3]. Pak Tosan sendiri menjadi target ketiga, beliau juga dianiaya oleh 30 orang secara keji. Namun, beliau berhasil diselamatkan warga.

Nyawa kami tak semahal tambang pasir! menjadi slogan khas ketika banyak aktivis HAM yang mengutuk kejadian tersebut. Salim Kancil menjadi ikon HAM terbaru dan disejajarkan oleh tokoh-tokoh seperti Munir dan Marsinah. Dengan bertambahnya ikon HAM yang baru, sudah seharusnya kita menuntaskan seluruh tragedi kemanusiaan tersebut. Namun, yang terjadi ialah kita malah memelihara masalah ini berlarut-larut sehingga bukan tidak mungkin kita akan menemukan ikon HAM terbaru lagi di masa yang akan datang. Cukuplah Salim Kancil yang mnejadi ikon HAM terakhir di Bumi Pertiwi!

Menolak Lupa: Sebelum dan Setelah Salim Kancil?

Di awal abad 20, kita mengenal tokoh-tokoh aktivis yang membela rakyat tertindas seperti Haji Misbach, Cokroaminoto, Agus Salim, Tan Malaka, dan banyak lagi yang tidak pernah ketahuan rimbanya. Sebagian besar dari kita bahkan baru mengetahui nama-nama tersebut ketika kita berani untuk mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan sejarah. Haji Misbach, pada masa awal pergerakan merupakan aktivis Sarekat Islam Merah yang dibuang ke Digul bersama ribuan aktivis lainnya dan bahkan meninggal disana. Lain lagi dengan kisah Tan Malaka yang bahkan dibunuh oleh TRI yang notabene tentara republik kita dan lalu mayatnya dibuang ke Sungai Brantas. Jika saja Harry A. Poeze tidak mengekspos bagaimana kehidupan Tan Malaka secara eksplisit, mungkin generasi muda kita tidak akan mengenalnya lagi.

Pada masa akhir Orde Lama, kita mengenal aktivis mahasiswa Universitas Indonesia yang bernama Soe Hok Gie yang sempat banyak menulis catatan mengenai keruntuhan Orde Lama. Selain itu, kita bahkan tidak mengenal banyak nama-nama rakyat – yang dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) – yang dibunuh dan dibuang secara tidak manusiawi. Kita mengenal tragedi kemanusiaan ini setelah rezim Orde Baru runtuh di awal masa Reformasi. Ini jelas membuktikan bahwa sejarah hanya milik para pemenang.

Di masa Orde Baru, banyak aktivis kemanusiaan seperti aktivis-aktivis Malari, Marsinah, dan bahkan para Kyai di Tanjung Priok juga menjadi korban yang dilanggar hak asasinya. Belum lagi di masa awal Reformasi ketika banyak aktivis HAM dan juga aktivis mahasiswa yang hilang akibat tindakan mereka dituduh subversif seperti Widjie Thukul dan juga para aktivis Trisakti. Hingga masa sekarang kita mengenal Munir, para aktivis buruh dan tani hingga Salim Kancil.

Setelah Salim Kancil? Rupanya kita dibuat menunggu, apa akan ada yang meneruskan wajah ikon HAM sebagai tanda peringatan menolak lupa atau akan berhenti pada Salim Kancil saja? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi tidak berguna ketika kita sebagai manusia masih melanggar batas kebebasan manusia lainnya. Setiap kali ada individu yang memperjuangkan batas kebebasannya akan selalu dituduh subversif oleh pihak yang tidak terima penindasannya dibongkar oleh individu pejuang tersebut. Albert Camus menyebut mereka para pemberontak – ketika mereka berkata ‘ya’ untuk setiap pekerjaan yang mereka nikmati pada awalnya dan lalu akan berkata ‘tidak’ ketika mereka menyadari telah terjadi penghisapan dan penindasan dalam pekerjaan mereka – dan hal tersebut menjadi lebih terungkap ketika kita mengetahui bahwa adanya faktor ekonomi yang akhirnya merenggut HAM setiap manusia yang ingin dipekerjakan.

Penutup: A Tribute To Human Rights

Salim Kancil menjadi suatu peringatan bagi siapa saja yang menentang penghisapan dan kebijakan pemerintah. Mengapa kita tidak boleh memperjuangkan hak hidup kita? Pemerintah dan sistemnya Kapitalisme tidak mau rugi akibat tindakan-tindakan subversif yang mengatasnamakan HAM terjadi lagi. Namun, bagi kita yang peduli dengan HAM, tindakan tersebut bahkan diluar batas kemanusiaan. Jika pemerintah tidak mau mengurus, sudah sepatutnya kita – sebagai manusia yang sadar – memperjuangkan HAM yang sudah dilanggar oleh segolongan pihak demi mempertahankan legitimasi kekuasaannya. Sudah sepatutnya – seperti bagian dari lirik lagu Efek Rumah Kaca – kita menjadikan yang hilang sebagai katalis untuk menciptakan nyali berlapis tuk lebih memperjuangkan keadilan!







(Alvie, 22 Oktober 2015)



[1] http://nasional.tempo.co/read/news/2015/09/29/058704805/kisah-salim-kancil-penolak-tambang-disetrum-dia-tak-mati/1
[2] Ibid
[3] http://nasional.news.viva.co.id/news/read/679932-detik-detik-penculikan-dan-pembunuhan-sadis-salim-kancil

14 Oktober 2015

AGAMA SASTRA



AGAMA SASTRA
Oleh
ALVIE

Sastra – ungkapan hati soal hakikat keadaan yang dituangkan dalam kata-kata ataupun tindakan yang penuh romantisme – memang mampu mengguncang kehidupan. Karena berawal dari sastra lah kita kan menemukan filsafat dan ilmu pengetahuan. Coba perhatikan bagaimana Homer menceritakan kisah Troya yang akhirnya menjadi sejarah tak terbantahkan ketika kota tersebut ditemukan reruntuhannya di pesisir Turki. Lalu seberapa pentingkah sastra kita ini? bagi para sastrawan, sastra adalah suatu agama yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Dalam dunia kata-kata yang bermakna dalam, kita bukanlah Islam, Kristen, Yahudi, ataupun Hindu dan Buddha karena agama-agama tersebut mempunyai klaim kebenaran absolut yang tak terinterpretasikan secara vulgar karena ada hukum Tuhan yang melarangnya. Agama-agama itu membatasi kita dalam mengungkapkan segala hal yang perlu diungkapkan karena kita takut akan neraka dan menginginkan surga.

Bukan surga itu yang kita inginkan, surga yang masih berbentuk khayalan para agamawan. Namun, surga kata-kata yang kita ciptakan sehingga membuat orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Bukan neraka itu yang kita takutkan, tetapi sebuah neraka yang membunuh kata-kata para sastrawan sehingga ia mampu tuk berkata “ketahuilah bahwa di alam kubur suaraku akan lebih lantang”. Agama itu cukuplah disimpan sebagai bentuk hubungan intim kita dengan Tuhan. Bagi kita, kebenaran yang absolut hanyalah milik para pengarang. Namun, kebenaran itu bisa berupa kebenaran parsial ketika ia diinterpretasikan oleh para penikmat karena sastra adalah hal yang paling universal yang pernah kita kenal.

Dari sastra lah kita mengenal rasa penasaran dan rasa keraguan sehingga menciptakan filsafat serta ilmu. Tetapi sebagian besar dari kita terjebak dalam anasir ideologi serta agama yang membuat kita tidak bebas menginterpretasikan rasa penasaran kita. Inilah yang membuat pemikiran kita mati! Yang kita butuhkan adalah dunia kebebasan untuk berkarya karena hal yang demikian menuntun kita kepada kebenaran. Agama sastra tidak menuntut orang tersebut untuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan atau mengenal anasir halal haram. Yang diinginkan sastra adalah suatu kebenaran yang bermakna dan tercatat dalam kata-kata. Walau kita sama-sama mengetahui bahwa kata-kata ternyata tidak sebanyak makna yang ada.

Rukun Sastra

Rukun sastra bukanlah sebuah aturan yang mengikat para sastrawan sehingga ia tidak bebas mengeluarkan pendapat. Rukun sastra adalah suatu identitas bagi para sastrawan. Rukun sastra hanya mempunyai 2 komponen yaitu karya dan ungkapan. Bagi para sastrawan, keduanya adalah hal pokok yang membuat kita berbeda dari yang lainnya. Kedua hal tersebut lah yang menyatukan kita dalam satu agama yang sungguh bebas ini. Rukun kita tidak menuntut kita untuk menyembah satu Tuhan atau tidak karena bagi sastra – apakah engkau berTuhan ataupun tidak bukanlah merupakan suatu masalah – itu semua adalah sebuah pilihan individual yang tak terbantahkan. Disinilah letak hak asasi sastra yang kita junjung tinggi melebihi hak asasi manusia. Karena ternyata hak asasi manusia pun dibatasi oleh aturan Universal Declaration of Human Rights dari PBB.

Bagi para sastrawan, karya adalah esensi utama yang harus tergambar dalam realita. Karya adalah wujud nyata dari seorang sastrawan. Karya yang membuat kita akhirnya muncul di dunia. Seperti kata Descartes, cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada! Esensi dari pernyataan tersebut adalah bahwa ide yang dituangkan menjadi sebuah karya ialah suatu bagian dari bentuk penciptaan makhluk-makhluk. Bagian lainnya ialah memunculkan suatu eksistensi yang direalisasikan dengan suatu kenangan. Kenangan sendiri muncul karena karya. Inilah rukun sastra yang paling utama yang patut kita pahami.

Sedangkan ungkapan ialah esensi yang lahir dari pemikiran lalu nantinya kan dituangkan dalam karya. Dalam arti yang sebenarnya, ungkapan atau ide mempunyai makna yang sangat mirip. Letak perbedaan dari keduanya ialah persoalan bahwa ungkapan perlu tuk melibatkan hak emosional seseorang untuk diwujudkan. Ide hanyalah suatu substansi yang tidak dikeluarkan berdasarkan faktor emosional, melainkan karena faktor keharusan karena adanya gambaran realita yang menuntut hal itu harus dikeluarkan.

Ibadah Sastra

Rukun sastra yang menjadi identitas dari para sastrawan akhirnya menuntun kita untuk melakukan ibadah-ibadah sastra yang bukanlah suatu kewajiban atau sunnah, melainkan mubah. Maka dari itu, seorang sastrawan hanya akan melakukan ibadah sastra ketika ia akan menginginkannya. Ketika ia berbicara soal ungkapan dan mengekspresikannya dengan karya, maka ia pasti kan melakukan ibadah sastra.

Ungkapan yang dimaksud ialah ketika para sastrawan mencapai ego dalam waktu yang pas sehingga apa yang dihasilkannya (karya) mempunyai esensi yang melebihi daripada arti suatu kata. Karena berkali-kali kita menyebutkan bahwa kandungan makna lebih banyak dari kata-kata itu sendiri. Ibadah yang dimaksud membuat sastra menjadi sesuatu yang sangat simple untuk diikuti karena hanya menyangkut melankolia seseorang, walau dalam beberapa hal kita menuntut nalar untuk menjelaskan bagaimana makna itu bisa terbentuk. Disini kita memerlukan pemahaman psikologi yang mantap karena beberapa jenis karya termasuk mantra butuh pemahaman kepribadian sastrawan untuk membentuk maknanya. Maka dari itu, bukan suatu hal yang mengagetkan ketika mantra mempunyai beragam makna subjektif tergantung penafsiran dari individunya. Tetapi makna yang sebenarnya hanya dimiliki oleh pengarang. Inilah yang menjadi kekuatan makna karena pengarang selalu benar dalam karyanya.

Dosa dan Pahala Sastra

Jika kita berbicara soal dosa dan pahala, maka kita akan membicarakan apa yang dilarang oleh sastra dan apa yang diperintahkan oleh sastra. Tetapi, sastra tidaklah mempunyai larangan yang berarti ataupun tidak mempunyai hukum transenden yang membuat sastra mengklaim kebenaran mutlak. Namun, sastra mempunyai transendensi tersendiri yang juga bersifat imanen ketika berhubungan dengan interpretasi dan penulisan. Mengapa imanen? Karena sastra menuntut kita kepada suatu kepercayaan yang suci. Kepercayaan yang dimaksud ialah bagaimana kita mengapresiasi suatu karya berdasarkan kehidupan si pengarang. Maksudnya ialah, karya mengandung suatu substansi yang harus dipercaya karena kebenaran tersebut hanya milik pengarang. Disinilah yang membuat sastra menjadi menarik karena baik dosa maupun pahala sastra tidak begitu menjadi penting ketika imanen tersebut telah tertanam dalam setiap jiwa apresiator.

Namun, yang perlu diperhatikan disini ialah ketika kita berhadapan pada dosa sastra. Dosa sastra yang terbesar ialah pagiasi karena hal tersebut membunuh kreativitas si pengarang ataupun si plagiator. Ini adalah suatu hal yang paling menggelikan karena ketika plagiasi berhasil merasuki jiwa si pengarang maka – baik karya maupun ungkapan yang keluar dari hatinya – tidaklah murni milik pengarang dan ini menimbulkan ketidakpercayaan dari pihak apresiator. Alhasil, dosa tersebut menuntut hukuman yang pantas bagi para penikmatnya. Salah satu hukuman tersebut ialah sanksi sosial dan juga sanksi moral. Sedangkan, dosa yang teringan ialah ketika kita menyelewengkan makna karena ketidaktahuan kita terhadap arti dari tiap kata. Mungkin dosa ini adalah yang paling diampuni oleh para sastrawan lainnya. Namun, kita perlu memperbaiki dosa tersebut dengan banyak mempelajari semantika dari tiap kata yang ada ataupun semiotika dari simbol yang ada.

Bagi yang memahami sastra dengan baik maka ganjarannya ialah pahala. Namun pahala sastra bukanlah seperti pahala dalam agama pada umumnya karena pahala yang demikian bersifat sangat idealis. Pahala yang dimaksud ialah berupa apresiasi dan juga ketenangan. Apresiasi positif akan didapat oleh sastrawan atas karyanya yang benar-benar tulus dari ungkapan hatinya. Sedangkan, ketenangan adalah sikap yang akan dicapai ketika karya tersebut telah terwujud secara realita. Ketenangan itu akan mempengaruhi perjalanan hidup si pengarang (walaupun sebenarnya perjalanan tersebut berliku-liku) yang statis menjadi dinamis dan yang monoton menjadi berwarna. Dinamis tidaklah berliku-liku karena dinamis berarti penuh dengan pola yang dialektis sedangkan berliku-liku menjadi suatu bentuk kebosanan hidup karena ia bersifat statis walaupun tidak berpola.

Penutup

Sastra bukanlah alat analisa, bukanlah sebuah tempat bersandar bagi jiwa yang lelah. Terlebih lagi, sastra bukanlah suatu boneka yang bisa dipermainkan karena sebegitu baiknya ia kepada manusia. Sastra adalah suatu bentuk agama yang diminati oleh para sastrawan karena ia bersifat menjanjikan hal yang pasti dan tidak mempunyai klaim kebenaran yang mutlak, melainkan bahwa kebenaran hanyalah milik para pengarang. Soal interpretasi sendiri adalah hak apresiator ataupun penikmat dan hal tersebut tidak mengganggu makna sebenarnya yang dikandung oleh karya si pengarang.

Sastra memiliki dua rukun penting yang patut dipahami oleh setiap individu yang menggelutinya yaitu karya dan ungkapan. Keduanya saling melengkapi dan berkaitan, walau tidak secara dialektis namun logis. Karena itulah rukun sastra menjadi hal yang sangat unik Karena keduanya akan menuntun kita kepada bagaimana cara kita berlaku secara sastra (ibadah sastra). Rukun sastra menjadi dasar dari segala apa yang nantinya kita akan lakukan dalam dunia sastra.

Ibadah sastra sendiri merupakan salingketerkaitan antara ungkapan dengan karya, ekspresi sastra, serta apresiasi sastra. Sedangkan, interpretasi sendiri merupakan bagian dari ekspresi yang diungkapkan oleh si pengarang maupun si penikmat. Salingketerkaitan antara ungkapan dengan karya maksudnya ialah menciptakan sinkronisasi antara makna dengan kata untuk menciptakan apresiasi yang positif. Ekspresi sastra sendiri menjadi hak yang transenden dari setiap individu yang terikat dan terlibat dalam sastra. Ekspresi sastra memerlukan pemahaman yang mendalam soal sastra itu sendiri. Sedangkan apresiasi sastra menjadi hak prerogatif dari penikmat yang menikmati karya. Namun apresiasi haruslah bersifat objektif sehingga ia tidak mengganggu makna yang sebenarnya dari karya. Dosa terbesar sastra ialah plagiasi dan dosa teringan sastra ialah ketidaksinkronan antara makna dengan karya. Dosa yang terberat mempunyai sanksi moral maupun sosial dan dosa yang teringan perlu diperbaiki dengan mempelajari hakikat sastra secara mendalam. Sedangkan, pahala sastra bersifat sangat imanen, yaitu berupa apresiasi positif dari para penikmat sastra.

Begitulah sastra yang akhirnya mewujud pada suatu bentuk agama yang harus dianut oleh para sastrawan agar mereka bisa memasuki dunia sastra secara kaffah. Agama sastra tidak mengganggu dari hubungan intim antara Tuhan dengan manusia (dalam hal ini disebut agama dalam artian umum) karena ia mempunyai interaksi antar individu, atau interaksi antar individu dengan alamnya. Sinergi tersebut akhirnya membuat dunia sastra sangat indah untuk dinikmati. Inilah surga yang sebenarnya. Sedangkan, neraka sastra hanya untuk para sastrawan yang terkena sanksi akibat dosa yang ia perbuat.




(Alvie, 9 Oktober 2015)

TANGGAPAN ATAS KRITIK DARI KAUM LIBERTARIAN SOAL SOSIALISME



PEMIMPI REVOLUSIONER
OLEH
ALVIE

Setelah menyaksikan Bolshevik memenangkan pertarungan kelas di Rusia pada 1917, lalu Kunchantang di China pada 1949 dan terakhir ialah partisan Fidel Castro serta Che Guevara di Kuba pada 1950an akhir, kita saksikan kaum reaksioner berhasil memenangkan pertarungan kelas di Indonesia pada 1965. Namun, bukannya kelas proletar yang menang, kaum militer dan birokrat berhasil menindas sekali lagi hingga kini. Kini – 50 tahun setelah peristiwa kemenangan itu – kita terpaksa patut gembira atas darah yang tertumpah. Darah yang berjuang untuk kebebasan dan keadilan sosial. Kaum Libertarian boleh bersorak gembira karena Sosialisme hangus di Indonesia, namun mereka tak sadar bahwa apa yang mereka lakukan ialah tidak lebih seperrti penari sundal yang menari karena merasa suci dan terbebas dari dosa. Lebih lagi kaum agamawan yang mendewakan surga akhirat, ia lupa tugasnya sebagai khalifah di bumi. Mereka berhasil meninakbobokan kesadaran kelas pekerja buruh, tani, dan nelayan. Kini – setelah para pelopor mati dibredel peluru panas aparat – kita hanya bisa bernyanyi ‘darah juang’ untuk menghormati mereka yang telah berjuang menuntut kebebasan. Selebihnya kita hanyut dalam hegemoni Kapitalisme. Sayangnya, kita tidak pernah sadar bahwa Gramsci pernah berkata seperti ini saat rezim Fasisme Italia berdiri sebagai pembela teori evolusi yang paling gigih. 

Setelah itu apa? Kita – dalam alam yang serba post modernis dan post struktualis – membuang jauh-jauh sifat revolusioner kita dan malah memelihara perkembangan otak yang sangat mekanis. Kita ini sungguh lucu karena mau menjadi mesin bagi mereka yang menginginkan nilai lebih. Terlebih lagi yang memakai personifikasi “Aku, Pensil” adalah orang yang paling picis dengan segala tipudayanya soal kebaikan mereka yang berlaku menjadi kaum modal. Sosialis, dikiranya tiada empunya kebebasan dan Liberalis adalah cita-cita terakhir manusia. Aku telah muak mendengar ini semua karena mereka berbicara seolah-olah mengerti keluh kesah rakyat tertindas. Bahkan, mereka beragama pun tidak! Mereka berbicara karena mereka sangat mengerti bagaimana keluh kesah kaum modal yang ketakutan modalnya direbut untuk kolektivitas bersama. Kata mereka, workers self-management dan central planning mematikan daya kreativitas manusia. Tetapi bahkan lebih dari itu, mereka tak bisa menilai bagaimana Uni Soviet bisa menerbangkan Yuri Gagarin ke angkasa.

Walau aku tidak pernah setuju dengan state of capitalism yang dipraktekkan oleh Uni Soviet dan China. Namun, setidaknya mereka membuktikan bahwa Sosialisme adalah yang termaju dibandingkan dengan Fasisme dan Kapitalisme. Fasisme telah busuk karena supremasi ras serta teori evolusi yang dipaksakan pada akhirnya menimbulkan egoisitas ras yang sangat tinggi. Kita masih satu species – homo sapiens – bukan hanya homo negroid atau homo aryanus sekalipun. Bodohnya, Fasisme yang berkaca secara dangkal pada Lamarck, Machiavelli, dan Nietzche ini. lain halnya dengan Kapitalisme yang mengambil alih sejak Adam Smith berkoar soal ekonomi dan Keynes berkoar soal solusi atas krisis ekonomi. Kini Kapitalisme telah mencapai tahap tertingginya yaitu Imperialisme dan atau Neoliberalisme. Tergantung bagaimana kalian menyebutnya karena pada dasarnya, keduanya mempunyai banyak persamaan. Sedangkan Sosialisme, kalian patut berbangga ketika hierarki secara perlahan dihancurkan karena mereka tidak suka melibatkan hal ihwal ekonomi dengan politik. Bagi mereka, alat produksi ya harus dikuasai secara bersama-sama, bukan oleh seorang saja. Hal ini bukan menutup arti kebebasan, melainkan malah mengkampanyekan kebebasan!
Ketika kolektivitas dalam hal produksi semakin mantap, kebebasan semakin mantap pula. Kreasi dan inovasi bukannya dikontrol oleh planning yang tersentral, namun ia diarahkan kepada planning tersebut. Inilah yang dikenal Indonesia sebagai Repelita atau Rencana pembangunan lima tahun. Seandainya mereka yang mengkritik memahami hal ini. Bukan pula suatu bentuk keterkekangan ketika workers self management diterapkan karena para pekerja yang memakai alat produksi bahkan diberi kebebasan untuk mengatur segala manajemen produksi yang ada. Bukankah disini kita berbicara soal demokrasi rakyat dalam produksi? Ah iya, mereka terlalu dungu untuk mengerti hal yang demikian karena pemikiran mereka terlalu konservatif dan bagi kita yang berpikir sosialis terlalu ‘progressif’ untuk dimengerti oleh mereka. Inilah cara penerapan teori evolusi yang benar dan sistematis! Bukannya seperti rencana Mussolini dan Hitler yang mati terhina!

Kita hanya mendengar revolusi kebebasan dalam perspektif ekonomi politik, lalu bagaimana dengan sektor lainnya?

Jangan bercanda! Ketika bangunan bawah (yaitu ekonomi) telah mantap, maka bukan tidak mungkin suprastruktur masyarakat akan mengikuti mantapnya bangunan bawah. Ilmu pengetahuan sosialis ialah ilmu pengetahuan yang berjalan objektif dan dialektis sehingga pembuktian demi pembuktian akan menambah kuatnya fungsi khilafahnya manusia di bumi. Bukanlah suatu kesalahan ketika Allah SWT memberikan tugas kepada manusia sebagai wakilNya di bumi karena manusia yang berpemikiran dialektis sungguh akan membuat indah bumi pula. Apakah yang disana pernah mendengar Sosialisme Hijau? Jika tidak pernah mendengar maka engkau ketinggalan informasi. Inilah yang kumaksud salah satu ilmu pengetahuan sosialis itu. Lingkungan menjadi factor penting bagi kehidupan di alam – termasuk pula manusia – karena ketika lingkungan rusak, yang mengalami kerugian akibat kerusakan itu ialah seluruh makhluk hidup yang hidup dalam lingkungan tersebut. Inilah mengapa ada Sosialisme Hijau! Belum lagi engkau mendengar bagaimana kampanye-kampanye angkasa sosialis yang digemakan karena ketika kita berpikir secara dialektis maka kita akan semakin penasaran bagaimana pergerakan alam semesta. Sungguh, Allah SWT telah memberikan anugerah yang luar biasa kepada manusia berupa akal.

Ilmu pengetahuan sosialis juga dianalogikan sebagai penemuan-penemuan yang terus digalakkan untuk kebaikan alam dan umat manusia. Misalnya ialah penciptaan HAARP di Rusia sebagai pengendali cuaca dan gempa bumi (yang lalu disalahgunakan oleh Imperialisme AS untuk mengacaukan berbagai iklim di dunia) dan juga penciptaan satelit luar angkasa untuk keperluan komunikasi. Bukankah keduanya sungguh berguna bagi kehidupan kita? Dialektika telah menuntun kita untuk mengexplore kemampuan akal kita lebih dalam lagi karena manusia hanya memakai sedikit dari kapasitas akal yang ada. Bukan tidak mungkin kita akan menciptakan pangan yang berbasis ramah lingkungan dan juga mode produksi yang berbasis kehijauan. Karena Sosialisme membenci cara produksi kapitalis yang banyak menciptakan greenhouse effect yang mengakibatkan cairnya sebagian besar lapisan es di Antartika dan Kutub Utara kita. Itukah yang disebut para penggiat Libertarian sebagai kebebasan yang sejati? Rupanya Freedom Institute perlu untuk mempelajari fenomena dan gejala yang ada melalui perspektif yang materialis dan dialektis layaknya orang sosialis.

Selain ilmu pengetahuan, kita juga akan mengenal kebudayaan sosialis yaitu kebudayaan yang mengakulturasikan budaya proletar dengan local genius masing-masing wilayah. Jika Liberalisme bangga dengan konsep ‘Relativisme Budaya’, sosialis tidak perlu repot-repot untuk membatasi budaya local karena ia bernilai mutu yang sangat tinggi. Yang dilakukan oleh orang-orang sosialis ialah cukup mengakulturasikannya dengan budaya proletar. Hasilnya ialah bahwa kebudayaan sosialis itu sungguh berwatak ‘progressif’. Kebudayaan sosialis akan menjelaskan berbagai mitos yang ada di dunia secara ilmiah dan akan menghapus secara perlahan segala ritus-ritus local yang merugikan manusia pekerja pada umumnya. Seperti ritus persembahan bagi para dewa yang notabene korbannya ialah manusia seperti yang dilakukan oleh suku Maya dan Aztec. Sebagai manusia yang bermoral, orang-orang sosialis akan meniadakan hal itu secara perlahan dan mengawinkannya dengan budaya proletar misalnya pengadaan acara pesta panen raya untuk memperingati suksesnya panen secara kolektif yang dilakukan oleh para petani kita. Ini adalah kebudayaan yang bercirikan kebebasan, bukannya kebudayaan yang mengekang local genius masing-masing wilayah. Maka dari itu kita selalu mengambil bagaimana kata masyarakat, bukan bagaimana kata individu karena kita perlu persetujuan bersama sebagai bentuk kontrak sosial kita dengan masyarakat kita. Bukankah hal itu yang pernah dianalisa oleh Rousseau?

Agaknya kaum reaksioner perlu berpikir dua atau tiga kali jika ingin mengkritik kaum sosialis. Bukannya tidak bisa dikritik, karena semua ilmu manusia pasti mengandung kesalahan, maka dari itu dialektika berjalan. Namun, kritik atas Sosialisme lebih banyak pada pengembangan atas filsafat, ekonomi politik, dan kolektivitasnya saja. Sedangkan unsur utamanya hanyalah alat analisa yang tidak pernah using termakan zaman. Yang usang hanyalah bentuk pengembangannya. Maka kita bisa mengatakan bahwa Proudhon telah usang, Marx telah usang, Lenin telah usang, dan Robespierre telah usang. Yang terpenting ialah bagaimana alat analisa yang mereka tinggalkan untuk kita mempunyai pengembangan yang lebih progressif lagi untuk kemajuan zaman. Toh, kita bukanlah orang-orang yang dogmatis terhadap suatu paham, bukan? Kecuali kalau kita mengagamakan Sosialisme dan menuhankan Marx. Sedangkan bagiku, Marx tidak lebih hanyalah seorang yang telah menyumbangkan pemikirannya berupa analisa yang mantap untuk menyelematkan manusia dari individualitas karena sifat harafiah manusia sebenarnya ialah zoon politicon. Hewan yang berpolitik, maksudnya ialah bahwa politik yang mendasari manusia harus saling mengenal satu dengan yang lainnya, bahkan mengadakan kontrak sosial membentuk kesadaran kolektif. Durkheim bilang bahwa kesadaran kolektif inilah yang membuat individu bertransformasi menjadi masyarakat. Namun, dalam Sosialisme politik itu wajib hilang karena manusia diciptakan bukan untuk saling kuasa menguasai, melainkan saling mengenal dan membantu. Mulia bukan cita-cita Sosialisme? Tinggal bagaimana kaum Libertarian tidak mengambil sifat yang munafik dalam menilai bagaimana Sosialisme sebenarnya karena mereka tidak pernah mau kalah.

Tidak cukup berhenti hanya disitu saja, kita pun mengenal bagaimana seni dan sastra Sosialisme. Agaknya kita perlu mendengar bagaimana seni dan sastra Sosialisme itu. Seni selalu berorientasi pada ideologi yang berkuasa, maka dari itu seni selalu menjadi bagian dari kajian budaya atau cultural studies. Seni mengekspresikan setiap aspirasi dari generasi yang berkuasa seperti bagaimana kalian mengenal musik grunge yang menjadi ekspresi kebebasan dari generation x.  generation x atau generasi X menjadi generasi pemberontak yang tidak puas atas depresi ekonomi yang terjadi pada tahun 1990 hingga tahun 2000. Lain halnya dengan lukisan yang digambarkan oleh Raden Saleh yang mempunyai karakter ala Delacroix, sang Romantisme asal Perancis. Delacroix – seorang saksi mata Revolusi Februari 1848 Paris – menciptakan pengaruh seni yang luar biasa pada diri Raden Saleh yang akhirnya menggeluti Romantisme. Lukisan Raden Saleh menggambarkan tentang bagaimana kisah-kisah heroik perjuangan di Indonesia menjadi terlukis sangat real dan mengena di hati. Tentunya, seni Raden Saleh sangat memihak pada generasi yang menentang rezim Imperialisme Belanda pada masa itu. Begitulah selalu seni menjadi wakil dari setiap generasi yang berkuasa atau tertindas. Begitu pula seni yang sosialistis selalu menggambarkan bagaimana keadaan yang penuh dengan kolektivitas manusia. Tidak melulu soal perjuangan kaum tertindas yang terlukis sebelum revolusi menjadi sangat realistis. Karena seni sosialistis bukan hanya berbicara soal aspirasi proletariat, namun juga berbicara soal kesejahteraan proletariat. Kalian boleh menengok karya-karya Sartre, Leo Tolstoy, dan bagaimana pula karya Albert Camus.

Setelah kita menela’ah bagaimana soal kehidupan yang sosialis itu, pantaskah lagi kaum Libertarian mencaci maki Kolektivisme itu?

Belum habis soal infrastruktur dan suprastruktur masyarakat, kita juga mendapat cercaan soal hak asasi yang tidak berpihak pada kebebasan individualitas. Bagi yang tidak mengerti Sosialisme, ia berpendapat bahwa Sosialisme mengekang segala kebutuhan individu. Loh, ini analisa darimana? Tentunya, kaum sosialis sangat menghargai bagaimana kebebasan individu, tetapi ia harus sesuai dengan kontrak sosial masyarakat karena ia tidak hidup sendiri dan ia bergantung kepada orang disekitarnya. Mengapa demikian? Sekeras apapun John Locke bercerita soal kebebasan, ia selalu terbentur permasalahan tentang bagaimana jika kebebasan individu itu terbatasi oleh kebebasan individu lainnya? Pertanyaan ini hanya membuang-buang energi kita karena kita berbicara sangat idealis soal hal kebebasan. Tetapi aku lebih setuju dengan pendapat Engels yang mengatakan bahwa “manusia akan mengalami lompatan dari yang berkeharusan menjadi yang berkebebasan”. Kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat dialektis. Kalimat tersebut bisa saja mempunyai kesimpulan yang indah yaitu bahwa manusia itu mempunyai kebebasan yang berkeharusan. Artinya bahwa manusia selalu mempunyai kerja pokok yang disebut dengan kewajiban dan mempunyai upah kerja serta nilai lebih dari kerja mereka yang disebut dengan hak. Disinilah kita dapat menghargai kebebasan orang lain sehingga masing-masing dari kita mempunyai nilai kebebasan – yang secara kualitatif – setara dan tidak mengganggu kontrak sosial yang telah membentuk kesadaran kolektif kita. Lalu kurang bagaimana lagi kebebasan kita tersebut? Sedangkan, Libertarian terlalu berangan-angan menghendaki kebebasan yang sangat utopis dan tidak ilmiah. Apa bedanya mereka dengan Plato serta George Berkeley yang subjektif itu. Mereka tidak lebih dari orang yang ketakutan karena kaum sosialis akan mengubah watak sosial mereka menjadi lebih kolektif karena inilah harga diri yang tinggi dalam kehidupan manusia. Inilah arti dari evolusi yang sebenarnya dialami manusia! Ada baiknya kita meninggalkan bagaimana Darwin dan Yesus saling bertentangan, karena evolusi dan agama sudah pasti akan bisa sejalan ketika mereka saling melengkapi. Sungguh dialektis bukan?

Nah, bagaimanapun pendapat seorang Liberalis atau bahkan seorang Libertarian tetap kita hargai sebagai kritik yang cukup untuk mengingatkan kita bahwa Sosialisme bukanlah suatu dogma, ia harus dikembangkan sesuai relevansi zamannya. Karena kita – orang-orang sosialis – tidak mungkin selalu berpatokan pada analisa vanguard party ala Lenin atau bahkan tentang bagaimana masalah perumahan ala Engels. Tentunya, kita harus mengembangkan vanguard party yang bisa memenuhi kebutuhan buruh saat ini dan juga peraturan soal perumahan yang memihak kepada semua kelas pekerja. Toh, kita bukanlah kumpulan orang-orang idealis yang mengharapkan kehidupan indah. Kita adalah kumpulan orang-orang yang berpikir secara materialis dan dialektis. Maka dari itu, kita tidak bisa mendogmakan suatu hal hanya karena benar dan akan tetap terus benar hingga nanti. Tentunya, kita harus pula mengembangkannya agar hal itu bertahan hingga nanti – termasuk juga Sosialisme. Sosialisme tidak akan mati selama Kapitalisme dan segala turunannya tetap ada. Inilah esensi dari relevansi Sosialisme yang sebenarnya.

Terakhir, kita memahami bahwa Sosialisme bukanlah melulu berbicara soal ekonomi politik karena keduanya hanya sebuah basis pokok dari segala aktivitas masyarakat. Sedangkan basis pokok dari segala aktivitas individu sendiri ialah kerja. Ketika kita membicarakan suatu basis pokok atau basis infrastruktur, kita akan menyimpulkan bahwa segala hal yang menyangkut suprastruktur kehidupan pastinya berjalan karena sebab basis pokok tadi. Inilah yang menjadi alasan mengapa Sosialisme membicarakan segala hal mengenai masyarakat, relasi antara masyarakat dengan alam, serta bagaimana peran individu dalam masyarakat. Tidak seperti kaum libertarian yang mengejek kita dengan kata-kata “bahwa Sosialisme ala Marxis adalah paham yang bersifat deterministic ekonomi”. Kita telah paham bahwa Lenin sendiri menolak persepsi yang demikian. Kita berjuang bukan untuk sebuah kesejahteraan ekonomi saja, tetapi kita berjuang untuk seluruh bentuk kesejahteraan yang ada. Seandainya mereka lebih memahami lagi watak Sosialisme yang sebenarnya, bukanlah tidak mungkin kita hanya perlu sebuah gerakan demokratis untuk menghapus kelas-kelas masyarakat yang ada. Tetapi, ini sebuah keniscayaan historis! Maka kita memang perlu merebutnya dengan paksa! Dengan semua strategi yang ada sehingga kesejahteraan itu terwujud secara dialektis!



(Alvie, 27 September 2015)