Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

2 Juni 2015

SAJAK KELAS PEKERJA



LANTANGKAN SUARAMU, KELAS PEKERJA

Tangan kiri bukanlah sesuatu yang kotor
Karena kita gunakan saat menjadi orator
Tuk teriakan aspirasi dari para labor
Yang gertakkan borjuis yang senang molor

Merah bukanlah suatu kelembutan
Karena ia adalah suatu ancaman
Bagi para kaum modal yang hisap pekerjaan
Sehingga kelas pekerja tak kan bisa makan

Ketika keduanya bersatu dalam satu panji
Maka itu artinya kita telah berani
Tuk dobrak penindasan dan cukong petani
Yang telah lama bernyanyi dan menari

Saatnya suara itu dilantangkan keras
Agar kuping tuli itu para pemeras
Terbuka lebar mendengar tegas
Akan sadarnya kelas pekerja yang terperas

Mari kita turun ke jalan
Hancurkan benteng tirani di Senayan
Revolusi tuk hancurkan lawan
Yaitu para birokrat dan kaum modal, para setan

LANTANGKAN SUARAMU
HANCURKAN MUSUHMU
DAN CIPTAKAN KEADILAN YANG MERATA ITU
JANGAN JADI KELAS YANG PASRAH
TAPI JADILAH MARTIR YANG MEGAH
YANG BERJUANG TANPA LELAH
JADIKAN INTERNASIONALE NYANYIAN KITA
TUK BANGKITKAN SEMANGAT PARA PEMUDA
RAKYAT PEKERJA DAN KAUM MISKIN KOTA

WUJUDKAN!!!
JANGAN DI TUNGGU-TUNGGU
KARENA TUHAN TIDAK SUKA MENUNGGU
PERJUANGKAN!!!!!



(Alvie, 7 Mei 2015)

DUA KELAS DI LUAR PROLETAR DAN BORJUIS DAN NASIBNYA



LUMPEN PROLETARIAT DAN BORJUIS KECIL


Pada masa Kapitalisme, maka pertentangan yang terjadi adalah diantara 2 kelas yaitu borjuis (kaum pemilik modal) dan proletar (kaum buruh). Kedua kelas ini bertentangan dikarenakan adanya kepemilikan pribadi atas alat produksi. Selain itu, karena beredarnya uang yang mengandung nilai tukar barang yang tidak sesuai membuat sifat kerja menjadi terasing. Adanya nilai lebih yang menumpuk akibat kontrak kerja yang harus dipenuhi buruh secara terpaksa juga menjadi alasan adanya pertentangan antara 2 kelas tersebut. Selain dari 2 kelas tersebut, dimasa Kapitalisme juga terdapat 2 kelas lagi yang kemudian sifatnya sangat fleksibel yaitu lumpenproletariat dan borjuis kecil. Kedua kelas ini tidak termasuk diantara 2 kelas yang bertentangan tersebut.

Lumpenproletar merupakan kelas orang yang tidak berpunya modal namun tidak bekerja kepada kaum pemilik modal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seringkali, mereka menjadi tanggungan negara akibat habisnya lapangan pekerjaan yang tersedia atau terbatasnya modal untuk mengembangkan usaha. Kalau kita analisis sedemikian rupa, tahun 2010, Indonesia memiliki 8,59 juta jiwa yang terkategorikan kelas lumpenproletar[1]. Mereka terdiri dari pengangguran, pengemis, pengamen, gelandangan, orang gila, dan juga preman. Jumlah yang lumayan banyak tersebut seharusnya menjadi beban tanggungan negara sesuai dengan pasal 34 UUD 1945, namun yang terjadi bukanlah demikian.

Borjuis kecil merupakan kelas orang yang mempunyai modal namun tidak sebesar modal kaum borjuis, masing-masing dari mereka hanya mempunyai sedikit buruh, terkadang malah tidak mempunyai buruh sama sekali. Sifat borjuis kecil sangatlah beragam tergantung dari sifat dasar usahanya. 34% penduduk negara kita pada tahun 2010 adalah pengusaha, namun 70% dari mereka adalah borjuis kecil[2]. Kelas borjuis kecil di Indonesia terdiri atas pengusaha kecil, pedagang-pedagang kelontong, pedagang warung, pedagang kaki lima, pedagang keliling, dan sebagainya. Mereka semua mempunyai modal, namun tidak berpotensi menghisap tenaga kerja buruh secara berlebihan seperti yang dilakukan oleh para borjuis. Namun, sama halnya dengan lumpenproletar, sifat mereka sangatlah fleksibel, mereka bisa memihak pada kaum buruh ataupun pada kaum pemilik modal. Namun, di masa Kapitalisme yang kejam ini, kebanyakan dari mereka pasti memihak para kapitalis karena tergiur dengan nilai tukar yang menjadi uang tersebut.

Sifat kedua kelas tersebut haruslah di arahkan untuk mendukung kaum buruh dalam perspektif perjuangan ekonomi politik karena hal yang demikian bisa menghilangkan watak sosial mereka yang haus akan harta dan tahta dan kembali ke hakikat manusia yang sebenarnya, yaitu bekerja semampunya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Mari kita lihat pernyataan Karl Marx mengenai kedua kelas ini.

Kelas tengah rendahan, tuan pabrik kecil, tuan toko, tukang, petani, semuanya ini, berjuang melawan borjuasi, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan dari kelas tengah hindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, tetapi konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanyalah karena melihat akan bahaya mendekat berupa kepindahan mereka ke dalam proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.
Proletariat-gelandangan, massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan-lapisan terendah masyarakat lama, di sana-sini terseret ke dalam gerakan oleh suatu revolusi proletar; akan tetapi syarat-syarat hidupnya, menjadikan dia lebih condong untuk melakukan peranan sebagai perkakas yang disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.[3]

Dari pernyataan tersebut, kita bisa simpulkan bahwa kedua kelas yang kita bicarakan ini sifatnya selalu terombang-ambing kesana kemari untuk memenuhi kepentingan mereka. Borjuis kecil memang benar berperang melawan borjuis, namun sebagian besar dari mereka terkadang berbeda kepentingan dengan kaum buruh sehingga sifatnya malah menjadi reaksioner. Mereka ingin mengembalikan masa kejayaan mereka dulu pada masa awal Revolusi Perancis sehingga mereka bisa berkuasa sedemikian rupa dan akhirnya menindas kaum buruh seperti yang dilakukan borjuis sekarang ini. Mereka tidak bisa menjamin bahwa kaum proletar tidak akan lagi di peras tenaganya, karena seiring dengan berkembangnya alat produksi, borjuis kecil pun akhirnya menjadi borjuis besar. Mereka memperoleh perkembangan yang demikian dikarenakan adanya modal yang berasal dari investasi, kredit, atau deposito tahunan yang membuat mereka terjebak dalam alam Kapitalisme yang membunuh.

Dengan berkembangnya alat produksi, maka para borjuis besar berkesempatan untuk meraih segala jenis jaringan yang ada untuk menciptakan laba yang sebesar-besarnya. Salah satu cara mereka untuk melakukan itu ialah merangkul segala bentuk kelas borjuis kecil untuk bekerja sama mendapatkan keuntungan bersama sehingga borjuis kecil pun berkembang menjadi mitra yang sesuai dengan borjuis. Dengan memanfaatkan kesempatan investasi yang ditawarkan borjuis, maka borjuis kecil berkembang secara perlahan menjadi pemilik modal yang berasal dari investasi. Seiring dengan pesatnya permintaan pasar, maka ia merekrut kaum buruh untuk bekerja di perusahaannya. Dengan ini, borjuis kecil mempunyai power untuk menjadi kaum modal dengan memanfaatkan investasi perusahaan besar ataupun kredit dari bank-bank tertentu.

Sedangkan, para borjuis kecil yang berjuang bersama proletar mempunyai maksud yang  reaksioner. Kaum buruh yang berjuang demi terhapusnya kelas-kelas yang bertentangan akan di tumpangi oleh borjuis kecil dan lumpenproletar. Borjuis kecil yang menumpang berjuang bersama proletar adalah kumpulan orang-orang yang menuntut hak modal dari negaranya. Terkadang kaum borjuis kecil merasa takut ketika proletar berkuasa akan menghapus hak miliknya yang sudah susah payah di kembangkan. Padahal Marx mengatakan :

Kita kaum Komunis telah dimaki bahwa kita ingin menghapuskan hak atas milik yang diperdapat seseorang sebagai hasil kerja orang itu sendiri, milik yang dianggap sebagai dasar dari semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang. Milik yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal! Apakah yang tuan maksudkan itu milik si tukang kecil, milik si tani kecil, suatu bentuk milik yang mendahului bentuk milik borjuis ? Itu tidak perlu dihapuskan; perkembangan industri telah menghancurkannya banyak sekali, dan masih terus menghancurkannya setiap harinya.[4]

Jelas, kaum proletar yang berkuasa tidak akan menasionalisasi aset mereka yang sedemikian tidak berpengaruhnya pada negara. Borjuis kecil yang bergabung dengan proletariat untuk berjuang juga mempunyai maksud lain, seperti menuntut kekuasaan dan mengembalikan kejayaan mereka di masa akhir Feodalisme. Hal ini justru bertentangan dengan sikap proletar yang ingin menghapus kelas. Namun, tujuan terselubung itu terkadang tidak diketahui sama sekali oleh proletar karena yang mereka tahu adalah ketika borjuis kecil bergabung bersama mereka untuk berjuang bersama, maka menurut mereka kesadaran kelas dan simpati dari mereka telah muncul untuk bersama-sama menghapus antagonisme kelas dan kepemilikan pribadi atas alat produksi.

Kesimpulannya adalah bahwa borjuis kecil dan lumpenproletar merupakan 2 kelas yang memiliki sifat yang tidak konsisten. Keduanya dalam perspektif perjuangan kelas bisa memihak kaum proletar atau bahkan kaum borjuis. Faktor yang mempengaruhi konsistensi kedua kelas tersebut adalah kepentingan terselubung yang direncanakan oleh kedua kelas tersebut. Misalnya, ketika kaum lumpen proletar ingin hidup sejahtera dengan memanfaatkan upah dari pengusaha, maka ia akan memihak kaum pengusaha tersebut. Berbeda lagi kasusnya ketika kaum lumpenproletar akhirnya memihak kaum buruh dengan asumsi bahwa kesejahteraan bisa diperoleh dengan usaha. Usaha yang dimaksud ialah usaha yang revolusioner dengan menghapus kontradiksi-kontradiksi kelas tersebut.

Kaum borjuis kecil akan memihak kaum borjuis ketika adanya iming-iming yang mengalir dari kaum borjuis. Misalnya ialah ketika kaum borjuis kecil ingin mencapai kesejahteraan dengan meminta modal dalam bentuk kredit kepada kaum borjuis sehingga kesejahteraan tersebut bisa diraih dengan memunculkan kasus baru yaitu fluktuasi laba akibat kredit. Berbeda lagi kasusnya ketika kaum borjuis kecil memihak kaum proletar demi sebuah kesejahteraan yang dicapai dengan usaha revolusioner pula. Watak sosial dari kaum borjuis kecil tersebut perlahan menghilang akibat usaha revolusioner tersebut.

Kedua golongan tersebut bisa digolongkan kedalam kelas yang tertindas. Tentunya kita kaum Marxis yang membela kaum tertindas harus mengarahkan mereka menuju perjuangan kelas sehingga keduanya bersama kaum proletar bisa menghapus antagonisme kelas yang tercipta akibat adanya kepemilikan pribadi.




(Alvie, 26 Mei 2015)



[1] Sumber : Bataviase.co.id
[2] Sumber : Seminar Smartpreneur tahun 2014, Universitas Trilogi, Jakarta
[3] Karl Marx & Friederick Engels. 1849. Manifesto Partai Komunis. Bagian 1 : Kaum Borjuis dan Kaum Proletar.
[4] Karl Marx & Friederick Engels. 1849. Manifesto Partai Komunis. Bagian II : Kaum Proletar dan Kaum Komunis.

HUBUNGAN MATERIAL ATAU HUBUNGAN MANUSIA?



“Kritik Hubungan Material Dalam Perdagangan Mikro”


Keramaian macam apa lagi yang engkau tawarkan, keramaian hati, cinta, kegelapan, atau bahkan keramaian suasana aksi ? Tidak, ini adalah keramaian hubungan komunikasi yang dilakukan antar sesama manusia yang saling memerlukan. Ya, keramaian perdagangan ala Kapitalisme, mereka menukar barang dengan uang dan kita menerima uang dengan memberi barang. Disini hukum pertukaran terjadi sangat marak. Mulai dari pukul 8 pagi hingga sekarang, pukul 11 siang. Mereka rela mengantri demi membeli buku, pernak-pernik Jepang, poster anime dan stiker-stiker bergambar tokoh manga. Mereka rela menukarkan berbagai lembar uang mereka dengan barang-barang tersebut. O iya, hampir lupa, disini hukum penawaran dan permintaan terjadi sangat jelas. Jika kita membuat akumulasinya, maka permintaan sekarang lebih tinggi dari penawaran. Aneh memang, mereka meminta barang yang mereka butuhkan dan akhirnya mungkin tidak mempunyai nilai guna yang besar, bahkan komoditi yang mereka beli tidak mengandung nilai tukar pula!

Oke, tinggalkan masalah egoisitas manusia ini dalam hukum jual beli yang riskan. Mereka juga menciptakan komunikasi-komunikasi yang tidak manusiawi, bagaimana bisa ? Iya, karena mereka melakukan interaksi sosial karena adanya material yang menyangkut diri mereka. Bisa dibilang, mereka Bukan melakukan hubungan antara manusia dengan manusia, tetapi mereka melakukan hubungan material. Hubungan Material tercipta karena adanya interaksi antara material komoditi dengan komoditi lainnya dalam bentuk pertukaran, itu yang terjadi ketika mereka memberikan uang kepada kita dan kita memberikan barang dagangan kepada mereka. Mereka yang menjadi konsumen menilai barang dagangan secara tidak manusiawi, karena harga yang mereka beri hanya berdasarkan ego mereka dan kebutuhan mereka yang mungkin tidak mendesak (kecuali dalam membeli makanan, misalnya). Sedangkan si penjual menilai barang dagangan dari sisi historisnya, si penjual adalah sahabat-sahabatku yang juga melakukan produksi serta distribusi juga.

Menilai barang dagangan dari sisi historis berarti menetapkan harga berdasarkan biaya-biaya produksi yang mencakup biaya bahan baku, alat produksi, serta proses produksi barang tersebut. Nilai lebih yang diperoleh si penjual yang mempunyai 2 sifat ekonomi (produktif dan distributive) berdasarkan asumsi kebutuhan yang ada. Misalnya, si penjual, menjual barang dagangannya Rp.3000,- dengan asumsi nilai lebih Rp.500,- per buah. Nilai Rp.500,- tersebut merupakan bentuk nilai lebih yang ditetapkan bukan sebagai laba, melainkan kecukupan untuk memenuhi kebutuhan dengan asumsi untuk membeli makanan sebesar Rp.250,-, sewa kost sebesar Rp. 150,-, ongkos dari kost ke pasar sebesar Rp.50,- dan yang terakhir adalah biaya perawatan alat produksi sebesar Rp.50,-. Sedangkan nilai yang tidak termasuk nilai lebih sebesar Rp.2500,- merupakan biaya produksi barang dagangan tersebut. Begitulah kira-kira menilai barang dagangan dari sisi historis yang dilakukan oleh banyak penjual yang mempunyai 2 sifat ekonomi.

Penjual juga terkadang harus mempertahankan harganya demi mendapatkan nilai lebih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, namun pembeli tidak menghiraukan hal tersebut karena mereka membutuhkan barang dagangan secara tidak medesak. Inilah proses Kapitalisme secara sederhananya yang terjadi dalam hubungan material tersebut. Produksi yang dilakukan si penjual belum tentu merupakan kebutuhan mendesak si pembeli dan juga belum tentu kebutuhan pokok si pembeli. Jika si penjual terus melakukan proses produksi, maka akan terjadi krisis over produksi. Barang dagangan yang tidak terjual akhirnya menumpuk di gudang menciptakan kerugian-kerugian yang tidak terduga.
Jadi, menilai barang dari sisi historisnya belum tentu menghasilkan suatu nilai yang humanis. Namun, bukan berarti jenis penilaian itu salah, karena jika kita menilai barang dari sisi historisnya, kita tidak hanya mendapatkan nilai guna komoditi tersebut, kita akan mendapatkan nilai tukarnya secara akumulatif. Inilah keuntungan bagi si penjual yang berusaha humanis dalam melakukan hubungan material. Namun, sehumanis-humanisnya hubungan material, tidak lebih humanis dari hubungan manusia itu sendiri. Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mengetahui bagaimana bentuk hubungan manusia dalam ekonomi seharusnya, kita perlu mengetahui sifat dan keadaan si pembeli dalam hubungan material terlebih dahulu.

Si penjual jelas mempunyai alasan mengapa barang produksi tersebut di jual. Dalam alam Kapitalisme, si penjual menjual barang dagangan karena harus menutupi biaya produksi dan nilai lebih dengan uang yang ia peroleh. Pemenuhan kebutuhan tersebut berdasarkan asumsi permintaan dan penawaran yang dikuasai penuh oleh alat tukar uang. Lalu bagaimana  dengan keadaan si pembeli ?

Si pembeli melakukan hubungan material dengan si penjual karena 2 alasan, yaitu karena kebutuhan yang mendesak dan karena desakan penawaran si penjual. Kedua alasan tersebut menjadi faktor utama mengapa si pembeli tertarik untuk berinteraksi dengan si penjual, walaupun secara material. Walaupun kita mengetahui ada satu alasan lagi yang khusus di miliki si pembeli sehingga pembeli mau melakukan interaksi, yaitu adanya sifat distributif yang dimiliki si pembeli. Jadi, bisa disimpulkan bahwa si pembeli mempunyai 2 sifat dasar ekonomi yaitu konsumtif dan distributif. Sifat distributif tersebut juga dimiliki oleh si penjual.

Si pembeli yang bersifat konsumtif pasti menilai barang dagangan si penjual bukan dari sisi historisnya, melainkan dari sisi kegunaannya. Sifat konsumtif tersebutlah yang membuat si pembeli akhirnya menukarkan uang yang ia miliki dengan barang dagangan si penjual. Berdasarkan hal itu, kita bisa menyimpulkan bahwa si pembeli memang membutuhkan barang dagangan tersebut untuk digunakan. Dalam hal ini, nilai guna barang dagangan tersebut muncul berdasarkan kebutuhan. Hal ini berkaitan dengan hukum permintaan. Di alam Kapitalisme, jika permintaan lebih besar dari penawaran, maka yang terjadi adalah nilai tukar yang digunakan akan melonjak naik. Artinya, jika si pembeli membeli barang dagangan berdasarkan kebutuhan yang mendesak, maka yang terjadi ialah si penjual akan berusaha menaikkan harga dengan asumsi nilai lebih yang berubah fungsi menjadi dua, yaitu fungsi kebutuhan dan fungsi laba. Hal ini akan menghasilkan keuntungan bagi si penjual dan kerugian bagi si pembeli. Inilah yang dimaksud dengan bentuk pemerasan secara halus dalam hubungan material.

Jika si pembeli tidak terlalu membutuhkan barang dagangan tersebut, maka si penjual akan mengalami kerugian, mengapa ? Barang dagangan yang di produksi si penjual terkadang tidak memiliki nilai guna yang berarti, nilai guna tersebut tidak dihitung secara cermat oleh si penjual karena tidak melihat kondisi kebutuhan si pembeli. Barang dagangan yang mempunyai nilai guna yang tidak berarti tersebut akhirnya terkena hukum penawaran. Kita kembali meninjau satu lagi hukum dalam Kapitalisme yaitu hukum penawaran yang berbunyi: Jika penawaran lebih tinggi dari permintaan maka yang terjadi adalah si penjual akan menurunkan harganya. Hal tersebut dilakukan agar barang dagangan tersebut mau di beli walau nilai gunanya kecil. Terkadang, si penjual akan menurunkan harga hingga tidak mendapatkan nilai lebih sama sekali, sehingga nilai lebih akan diperoleh dari pemotongan biaya produksi. Jika hal ini dilakukan terus menerus, maka kemungkinan ada dua kondisi yang tercipta yaitu menurunnya produksi secara berkala dan krisis over produksi yang dipaksakan.

Mari kita analisis bagaimana keadaan si pembeli dan barang dagangannya yang terkena hukum penawaran. Si pembeli yang terkena hukum penawaran akan menilai barang tersebut sebagai sesuatu yang hampir sia-sia. Ia mungkin akan memutar otaknya untuk mencari cara agar barang dagangan tersebut mempunyai nilai guna yang besar. Terkadang, si pembeli juga akan merasa rugi jika tidak cermat untuk menempatkan barang dagangannya sesuai nilai guna tersebut. Namun, si pembeli akan untung jika ia memainkan fungsi distributif sehingga si pembeli akan bertransformasi menjadi penjual barang dagangan tersebut  dengan asumsi perhitungan kondisi yang cermat. Inilah yang dapat menguntungkan si pembeli pada akhirnya. Maka kita mendapatkan fungsi distributif yang dimiliki si pembeli ketika si pembeli terkena hukum penawaran.

Si pembeli yang memiliki fungsi distributif maka akan mentransformasikan dirinya menjadi penjual ketika kondisinya memungkinkan. Si penjual yang memiliki biaya produksi yang sangat rendah karena mendapatkan barang dagangan tersebut secara langsung dari si penjual sebelumnya yang rugi karena hukum penawaran tanpa di produksi terlebih dahulu oleh si pembeli yang bertransformasi ini. Keuntungannya akan menjadi besar ketika si penjual yang baru ini menjual barang dagangannya dengan cermat kondisi. Dalam hubungan material, maka nilai lebih yang tercipta dari proses ini akan jauh lebih besar dan memiliki fungsi laba. Fungsi kebutuhan akan hilang seiring melonjaknya penawaran yang dilakukan oleh penjual sebelumnya. Sedangkan dalam pemenuhan kebutuhan si penjual baru atau penjual kedua tersebut, si penjual baru akan semakin memotong biaya produksi dan pemotongan tersebut akan dirubah menjadi nilai lebih dengan fungsi kebutuhan. Keuntungan demi keuntungan akan mengalir ke si penjual kedua, untuk mempertahankan keuntungan tersebut, maka si penjual kedua seyogyanya akan membeli alat produksi baru dengan tenaga kerja baru atau dengan memperlakukan si penjual pertama sebagai tenaga kerja yang diperas sebagai penggerak proses produksi barang dagangannya.

Kesimpulannya, hubungan material tersebut akan semakin membuat manusia teralienasi akibat adanya alat tukar yang tidak memiliki alat guna tersebut. Alienasi disini terjadi karena adanya pengejaran keuntungan dengan memperbanyak nilai lebih yang mempunyai fungsi laba. Laba tersebut jelas diperoleh dengan cara pemerasan tenaga kerja antara si pembeli atau bahkan si penjual. Sedangkan kita mempunyai kemungkinan yang sangat kecil untuk mempertahankan fungsi kebutuhan dalam nilai lebih karena dalam alam Kapitalisme, fungsi laba dapat meningkat berdasarkan akumulasi hubungan material dan juga dapat menurun karena krisis over produksi. Sedangkan fungsi kebutuhan akan terus menurun karena adanya pemotongan biaya produksi atau bahkan karena hukum penawaran yang semakin marak. Kesimpulan terbesarnya ialah krisis over produksi menurunkan fungsi kebutuhan dalam nilai lebih dan menghancurkan hubungan material itu sendiri. Lalu apa yang harus kita lakukan ?

Jawabannya ialah kita harus melakukan hubungan non material, interaksi ekonomi yang sangat manusiawi. Hubungan yang tercipta karena adanya sifat saling membutuhkan, bukan karena hukum permintaan atau penawaran ala Kapitalisme. Namun bagaimana kita menciptakan hubungan yang humanis ini ? Kita harus meruntuhkan Kapitalisme secara serentak diseluruh dunia. Menghancurkan Kapitalisme perdagangan berarti menghilangkan uang. Menghilangkan alat tukar manusiawi ini berarti menghilangkan keterasingan dalam pekerjaan secara keseluruhan. Pada akhirnya, manusia akan berinteraksi karena adanya saling ketergantungan dalam hal pemenuhan kebutuhan moral dan material serta manusia akan bekerja sesuai kemampuan dan pemenuhan kebutuhan yang tidak berlebihan sehingga tidak menciptakan kontradiksi nilai lebih.

Sistem barter mungkin merupakan sistem yang digunakan pertama kali oleh manusia sebagai sistem pertukaran barang yang berbeda nilai gunanya namun sama nilai tukarnya. Nilai tukar yang didapat dalam sistem barter merupakan nilai tukar yang tercipta dari sisi historisnya. Sisi historis suatu barang dalam sistem barter seluruhnya merupakan proses produksi. Berbeda dengan alam Kapitalisme yang mempunyai 2 sifat historis dari setiap barang dagangannya yaitu proses produksi dan proses distribusi. Jika keseluruhan barang yang nilai tukarnya tercipta dari keseluruhan proses produksinya, maka nilai tukar tersebut tidak perlu di refleksikan menjadi uang sebagai alat tukarnya, melainkan langsung barang ditukar dengan barang. Hal ini lebih humanis ketimbang harus menggunakan uang untuk memperoleh sebuah barang karena adanya sifat distribusi yang disebut dengan hubungan material.

Sisi humanis dari sistem barter didapat dari adanya interaksi sosial karena pemenuhan kebutuhan yang berbeda dari masing-masing individu. Karena pemenuhan kebutuhan yang berbeda tersebut, manusia akan saling berketergantungan satu dengan yang lainnya. Kalau sudah seperti itu, maka manusia akan kembali menjadi makhluk sosial lagi dalam hubungan ekonominya. Inilah yang harus kita ciptakan agar manusia tidak menuhankan uang sebagai alat tukar yang mengalienasi pekerjaan kita, melainkan harus memanusiakan hubungan material yang menciptakan kesadaran untuk hidup sebagai makhluk sosial. Sungguh humanis sistem yang sedang kita bangun ini.




(Alvie, 24 Mei 2015)