Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

15 Januari 2015

RASIONALITAS AGAMA PART 1



“Pemahaman Agama Sebagai Filsafat Dalam Perspektif Materialime”

Agama merupakan sesuatu yang sangat sakral untuk di perdebatkan dan di kritik, namun tampilnya Descartes dan Kant membuka jalan atas kritik agama yang juga menjadi jalan pengubah keadaan sosial politik di Eropa pada masa itu. Sebelum tampilnya mereka berdua sebagai seorang filsuf, Eropa di liputi kegelapan agama yang sangat pekat sehingga setiap aspek kehidupan merupakan bagian dari agama. Eropa diliputi dengan ajaran bahwa semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Pemikiran ilmiah seperti pemikiran Galilean dan Copernican di berangus habis demi melanggengkan kekuasaan agama di Eropa.

Bagaimana dengan dunia timur ? Di dunia lama, agama dijadikan alat kekuasaan bagi para kaum Feodal untuk melegalkan monarki absolut. Sering kita dengar bahwa para raja di dunia timur merupakan titisan Dewa ataupun Tuhan, maka bagi siapa yang menentang kerajaan, dia akan mendapat hukum Tuhan yang absolute. Yang demikian merupakan pemerintahan bentuk Monarki Teokrasi. Beda lagi, ketika Feodal di berangus sejak adanya Revolusi Perancis, agama di jadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan atas ekonomi masyarakat. Maka tidak heran kita menyatakan bahwa agama adalah alat penindasan kaum bawah.
Agama adalah subjek bagi masyarakat dan masyarakat sebagai objeknya. Dengan ini kita dapat menyatakan bahwa tingkatan Feodal tertinggi adalah agama atau materinya merupakan para pemuka agama. Konsep ini dapat kita lihat dalam ajaran agama Kristen dan Hindu. Bagaimana dengan yang lainnya ? Islam juga mengenal konsep yang demikian dengan tingkatan tertingginya adalah para pemuka agama yang bertugas mendogma agama atau mendoktrin agama kepada masyarakat. Bahkan seperti pada kasusnya di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia atau MUI mempunyai kuasa untuk memfatwakan sesuatu itu halal atau haram. 

Tetapi bukan berarti saya yang menulis ini tidak beragama sama sekali, namun dari sisi Materialisme maka saya mungkin akan menyatakan betapa tidak perlunya agama dalam masyarakat karena agama merupakan kebutuhan individu. Tetapi dari sisi agama, kaum Materialis tidak menyadari bahwa pembentukan moral dan pembatasan sikap individu di perlukan sehingga tampil lah agama sebagai jalan pertama membatasi sikap dan moral kita. 

Saya pernah mendapati tulisan bahwa moral dan etika dalam Materialisme bukan tidak ada sama sekali, karena realitas dari moral dan etika merupakan output dari pemikiran dan kesadaran individu. Kesadaran dan pemikiran itu sendiri merupakan hasil dari sifat biologis otak. Disini kita dapat memahami bahwa pemikiran, perasaan, emosi, dan moral bahkan merupakan hasil dari kerja otak. Namun betapa sempurnanya filsafat Materialisme yang kita anut akan terbentur dengan satu pertanyaan, apa yang harusnya mengatur ini semua ? Apakah kita lagi – lagi akan menjawab bahwa materi atau bahkan benda di dalam dirinya merupakan penentu dari gerak Alam Semesta. Jika iya, inilah yang kita sebut dengan Materialisme Dialektika.

Untuk menyelesaikan persoalan idealisme dalam agama, maka perlunya kita merasionalkan setiap ajaran dari keagamaan. Jika agama tersebut bertahan dalam percobaan ilmiah, bisa kita katakan bahwa agama tersebut bersifat non konservatif. Sejauh pandangan saya, agama nantinya akan tidak bersifat Idealisme lagi seperti kebanyakan para pemuka agama mendoktrinnya.

Kita kaum Materialisme memahami bahwa tiada yang namanya keghaiban karena apa yang tercitra dalam indrawi kita merupakan realita dan material. Materi tersebut selalu bergerak tiap detiknya sehingga menciptakan pertentangan pergerakan yang terkadang mengubah keadaan yang kuantitatif menjadi kualitatif. Kita juga memahami bahwa pertentangan tersebut terus berlangsung menciptakan peristiwa – peristiwa sejarah yang selalu di latar belakangi faktor kebutuhan. Inilah inti dari MDH.

Tetapi kita sebagai umat beragama meyakini bahwa agama di perlukan walaupun bersifat individualis. Marx sendiri tidak pernah menyatakan bahwa kita harus tidak beragama, namun dia menyatakan bahwa agama merupakan tempat keluh kesahnya masyarakat. Pernyataan Marx paling terkenal tentang agama yaitu “Agama adalah candu bagi masyarakat” juga merupakan pernyataan yang bukan merupakan suruhan kepada kita untuk meninggalkan agama. Kita memahami candu atau opium merupakan obat penghilang rasa sakit yang efektif sehingga sering digunakan untuk obat bius. Hal inilah yang di analogikan Marx tentang agama. Berarti tidak ada larangan bagi kaum beragama untuk menjadi seorang Marxisme atau Komunisme.
Tetapi sekarang tugas kita adalah merasionalkan ajaran agama tersebut karena hal itulah yang akan membawa kita ke jalan perkembangan agama yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Kita tidak akan mematikan Tuhan, namun mengembangkan konsep ketuhanan kita sebagai tempat kita untuk berkeluh kesah. Kita bukanlah Nietzche yang mematikan Tuhannya dalam kehidupan masyarakat. Namun kita adalah orang yang akan menghidupkan Tuhan dalam perspektif Materialisme.

Pembahasan aturan dan doktrin keagamaan bukanlah untuk masyarakat, namun lebih bersifat individualis. Kita mengenal puasa sebagai salah satu ajaran agama dan perintah dari Tuhan, tetapi jika kita meneliti lebih dalam lagi, maka puasa berguna untuk menyehatkan tubuh. Juga dalam Sholat, Berwhudu, ataupun bentuk ibadah lainnya yang bersifat rasional.

Mengenai hubungan kita dengan Tuhan, sifatnya adalah bentuk dari pemikiran dan kesadaran kita akan pengaturan alam semesta dan juga perkembangan hukum gerak materi yang sangat tertata rapi. Tuhan adalah Maha Pengatur alam semesta, seperti juga bagi ilmuwan yang percaya adanya perancangan cerdas tentang alam semesta ini.

Tuhan bagi kaum Materialisme adalah bersifat subjek material itu sendiri yang berada di luar dari jalur materi. Dan semua ciptaannya yang berbentuk materi merupakan subjek pergerakan dan pertentangan. Tuhan bagi kaum Materialisme adalah sebuah anasir yang menciptakan pergerakan rasional alam semesta yang berada di luar alam semesta itu sendiri. Kita memahami bahwa pikiran dan perasaan kita terbebas dari dimensi alam semesta, maka bisa kita pastikan bahwa Tuhan adalah salah satu anasir yang hidup dalam pikiran dan perasaan kita.

Bentuk Tuhan bukanlah seperti yang pernah kita gambarkan atau yang pernah Xenophanes jelaskan tentang ini. Bentuk Tuhan tidak terdefenisikan karena Dia merupakan suatu subjek material yang berada di luar material itu sendiri. Tuhan merupakan subjek yang kekal abadi dan tidak terikat dengan semua ciptaannya. Hal ini berarti Tuhan tidak terikat dengan ruang ataupun waktu. Waktu adalah paradoks, tetapi Tuhan tidak demikian karena dia menguasai waktu. Ruang merupakan intensitas materi tetapi Tuhan tidak demikian karena dia menguasai ruang.

Bagi kebanyakan kaum Materialis, mungkin hal ini kelihatan tidak masuk akal dan bagi kaum Idealis, karena tidak ada yang namanya rasionalitas Tuhan. Tetapi jelas kita harus pahami bahwa realitas Tuhan perlu di sodorkan demi memantapkan tujuan. Saya juga perlu menyelidiki lebih lanjut tentang realitas surga dan neraka.

Tetapi pendapat saya ini hanya untuk membela kaum Komunis yang beragama. Karena tidak selamanya Komunisme di liputi oleh kaum Atheis ataupun Semi Atheis karena sesungguhnya bahkan menurut perkataan Haji Misbach pun bahwa Komunisme ini sejalan dengan agama. Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat dan pertentangan dengan kaum Kapitalis maka Komunisme adalah sebuah filsafat yang sejalan dengan agama.

Merasionalkan agama merupakan suatu jalan untuk mengeluarkan bangsa ini dari kehidupan mistisnya. Bagi agama yang konservatif, maka akan menuju jalan kematian karena semua harus berdasarkan metode ilmiah analitik. Komunisme dan Marxisme menganalisis masyarakat bersandarkan pada Materialisme Historis. Maka kembangkan Materialisme sebagai suatu filsafat dasar yang membimbing bangsa ini pada suatu kemajuan. (Bersambung ….)
(Opini tentang Rasionalitas Agama)
(Alvie, 15 Januari 2015)

ANTARA MARXISME, UNPAD, DAN AGAMA



Realnya, pas saya masuk UNPAD, hal yang paling bikin saya seneng karena saya bisa lepas dari rezim keluarga bapak saya, ya bisa di bilang gitu. Saat masih SMK, apa yang dibilang kebebasan untuk berpikir dan bertindak itu gak ada, semua orang Batak menurut pada sistem yang lama dan konservatif (menurut saya) dan akhirnya nelen mentah-mentah aturan yang sebenarnya gak mereka ngerti. Kalo kata bahasa politiknya, orang tua Batak itu adalah cerminan dari diktator anak-anaknya. Ya sebenernya tujuannya baek, biar anak mereka sukses dengan didikan keras. Tapi hal negatifnya, hal itu menjadi sebuah sistem balas dendam yang akan terus berlanjut sampe keturunannya. Keras pendidikan di balas dengan keras pendidikan juga, tapi kepada keturunannya. Kurang lebihnya kayak gitu.

Impian saya bisa lepas dari Sumatera ya karena sistem turun temurun itu, saya gak mau nantinya anak saya nerima pendidikan keras yang konservatif kayak gitu, di atur tanpa ada kebebasan berpendapat sama sekali. Semua anak harus menuruti perkataan orang tuanya. Apa yang terjadi dengan Ibrahim, para sahabat nabi yang ortunya jahannam, Marx, Buddha, n lain-lain tidak pernah menuruti apa kata ortunya yang konservatif, tapi mereka bahkan bisa menciptakan pengaruh yang besar bagi dunia.

Seharusnya ortu itu seperti Lukman, Philip II atau Abu Bakar yang bisa membimbing anaknya tanpa pendidikan keras n bisa memberikan kebebasan berpendapat sehingga bisa menjadi orang yang sukses. Setidaknya itu segelintir alasan kenapa saya milih Jawa sebagai tempat saya buat berkembang.

UNPAD itu pilihan saya karena di Universitas karya anak bangsa itu, saya bisa berekspresi sebebas-bebasnya tanpa ada kemunafikan, gengsi dan sebagainya. Bukan kayak ITB, IPB, atau UI karya Hindia Belanda, tetapi UNPAD bener-bener mencerminkan keinginan saya buat berpendapat, setidaknya sejalan dengan pikiran Marx dan Muhammad.

Persetan dengan konservatif atau segala bentuk pemikiran yang gak bisa berkembang kayak pemikiran orang-orang yang berlindung di balik kebesaran jubah keagamaan. Kenapa Hegel, Feuerbach, Hume, Voltaire, n Marx gak pernah puas dengan agama ? itu karena mereka merasa agama membuat masyarakat gak bisa berkembang n konservatif. Tapi yang bener2 di garisbawahi di sini ada satu, agama yang gak mengenal konservatif harusnya itu Islam. Karena Syari’at yang di kembangkan 1400 tahun yang lalu terus berkembang sesuai aturan zamannya.

UNPAD di dirikan oleh segelintir orang yang tidak puas akan Universitas ciptaan Hindia Belanda pada saat itu, mereka sadar harusnya ada Universitas karya anak bangsa yang bisa menampung semua aspirasi bangsa pada saat itu. Orang-orang seperti Semaun, Iwa Koesoemantri, Sjahrir, Mochtar Kusumaatmaja, Muradi dan sebagainya tercatat pernah meramaikan UNPAD sebagai Universitas tempatnya Revolusi bangsa.

Perjalanan saya masuk UNPAD di bantu sama sahabat-sahabat saya yang setia, namanya Yan, Lutvi, Nova, dan Alfi. Mereka berusaha biar saya bisa dapet bidikmisi, setidaknya Lutvi dan Yan juga mendapatkan bidikmisi dalam waktu yang bersamaan dengan saya. Saya gak mau nyusahin orang tua saya yang udah susah payah jadi petani n menghidupi saya n 4 adek saya yang bandel-bandel. (yang saya benci itu sistem keluarga saya, bukan orang tua saya –red).

Saya dan orang tua berlatar belakang kaum proletar dari pertanian yang sederhana. Saya rasa keluarga saya udah nerapin sistem Sosialis yang paling sempurna, punya tanah yang cukup untuk di olah oleh individu, bukan tanah 5 hektar ala Kapitalis. Tanah yang cukup di olah itu Cuma di tanem padi, coklat, n kopi yang hasilnya cukup buat menghidupi keluarga saya. Walaupun kadang padi hasil tuai harus dijual semua buat kebutuhan sekolah saya n adek2 saya. Kekurangan makanan itu udah hal biasa di kehidupan kaum proletar kayak saya. Kekurangan prinsip Sosialis yang di alami Lenin terletak pada pengalaman, Lenin gak pernah ngalamin hal yang saya rasain. Setidaknya itu yang saya salahin dari sistem Komunisme Uni Soviet yang di bangun beliau.

Karena berlatarbelakang proletar itulah yang menjadikan alasan buat saya berpikiran untuk menciptakan sistem Sosialisme ala saya yang gak terkait dengan Lenin atau Stalin. Di UNPAD lah pemikiran saya bisa berkembang sedemikian rupa. Tapi ada hal yang patut saya salahin dari keluarga saya, yaitu ketergantungan keluarga saya sama agama yang terlalu berlebihan tanpa memerhatikan realitas kehidupan. Saya ngerti, agama adalah persoalan individu yang gak bisa di paksain dalam sistem Sosialis, jika di paksain, akan menghasilkan suatu candu yang bisa menghancurkan masyarakat, setidaknya itu yang terjadi di Spanyol pada zaman Isabella I atau yang terjadi di Arab Saudi pada permulaan era Saudi. Agama di jadikan alasan political untuk menyebarluaskan paham.

Kembali lagi ke konteks pembahasan, setelah saya masuk UNPAD, saya menjalani proses sampe saya di nobatin jadi mahasiswa Sejarah UNPAD angkatan 2014. Saya nerapin prinsip yang sebenernya bakal bertentangan dengan beberapa hal di UNPAD, saya niru apa kata Tan Malaka, disini tidak ada kepala ataupun bawahan, semua orang setara sama rasa sama rata. Jika satu orang makan, maka seharusnya semua yang ada di situ harus ikut makan, bukan Cuma ngeliatin orang itu makan sendiri. Hal ini juga saya brusaha terapin dalam lingkungan Himpunan, disini gak ada yang namanya senior ataupun junior, semua sama2 masuk dalam proses kemahasiswaan dan mengikuti proses yang sama, hanya waktu yang membedakan. Hal itu harusnya gak bisa jadi patokan untuk menindas junior atau pemikirannya. 

Beberapa hal dalam pemikiran Marx memang bertentangan dengan realitas social di UNPAD, contohnya kesenjangan antara orang yang mempunyai mobil atau orang yang berjalan kaki. Atau dengan kata lain, penerapan yang seperti itu bisa menimbulkan konflik individu yang tidak sesuai dengan kaidah pertentangan antar kelas.

Setelah saya jadi bagian dari UNPAD, saya mutusin untuk mencoba kesibukan ketika saya semester 3 biar gak mengganggu proses perkuliahan yang saya jalanin, apalagi sekarang saya masih semester 1, mencoba buat mengenal Universitas yang penuh dengan sejarah orang kiri di Indonesia. Universitas yang banyak menyumbangkan para revolusioner dari setiap angkatannya.

Tapi itu gak nutup kemungkinan buat saya untuk mencoba bergabung dengan beberapa kegiatan dan organisasi yang ada, ya saya mutusin buat masuk FAM (Front Aksi Mahasiswa) UNPAD, awalnya saya kira ini wadah buat para kaum revolusioner UNPAD yang bisa terorganisir, penuh kajian, dan sesuai dengan kondisi social politik indonesia pada setiap periodenya. Organisasi ini bisa jadi wadah buat saya bercurah pendapat, atau setidaknya bercurah aksi revolusioner yang nantinya akan berubah berkembang sesuai dengan periode rezim yang ada.

FAM UNPAD, organisasi yang sifatnya kiri dan penuh dengan intrik2 Komunisme. Kenapa saya bisa berkata kayak gitu, hal yang saya alamin hingga saat ini adalah adanya penerapan prinsip Komunisme di setiap kegiatannya. Lagu Internasionale juga merupakan lagu wajib yang di nyanyikan dalam setiap aksi demonstrasinya. Dan beberapa anggota FAM UNPAD ada yang fanatik Lenin, Gie, dan Marx.

Sebenernya untuk Komunisme sendiri yang di susupi pemikiran Lenin saya agak kurang sependapat karena ide revolusioner yang di tuangkan Lenin masih berupa ide seorang Borjuis yang tidak terorganisir. Walaupun Revolusi Bolshevik berhasil menumbangkan kekuasaan Tsar pada masa itu, tapi yang gak pernah di perhatikan oleh Lenin adalah Marx tidak pernah mengajarkan seseorang untuk menjadi seorang Diktator Borjuis seperti dia (saya katakan dia adalah seorang Diktator Borjuis karena dia lahir dari kalangan Borjuis, bukan Proletar sejati seperti Marx). Apa yang di ajarkan Marx adalah sebuah revolusi kaum buruh atau tani (dengan tambahan pemikiran Mao Tse Tung tentang tani) sehingga Negara di kontrol oleh suatu dewan rakyat (pemikiran Tan Malaka) yang memihak pada buruh dan tani sehingga menciptakan Negara buruh yang menghapus kelas kapitalis karena semua hak individu yang tidak bisa di kontrol perseorangan akan menjadi milik Negara dan seharusnya di bagi rata terhadap setiap buruh dan tani yang ada. Dengan demikian tercipta sebuah tatanan masyarakat yang sempurna, sama rasa sama rata, gak mengenal kelas proletar atau borjuis lagi, tapi masyarakat tersebut akhirnya tanpa kelas karena masing-masing hak tersebut telah di atur Negara sedemikian rupa.

Akhirnya beberapa bulan saya menjadi anggota FAM UNPAD, timbul ketidakpuasan pribadi dalam diri saya karena ada beberapa demonstrasi yang tidak sesuai dengan kajian pemikiran saya, seperti demonstrasi menolak kenaikan BBM yang telah ditetapkan oleh rezim yang baru. Sebuah kajian diperlukan apakah BBM itu naik atas permintaan para kapitalis atau ada maksud lain untuk proses mensejahterahkan rakyat ? Tapi mungkin menurut saya, kajian lebih mendalam saya terapkan kepada rezimnya, rezim yang baru berdiri beberapa minggu tersebut telah menimbulkan sebuah polemik baru bagi Indonesia.

Saya katakan demikian karena pertarungan antara Jokowi dan Prabowo tidak lebih dari pertarungan ideologi dari masing-masing pihak juga pertarungan masa lalu yang sebenarnya merupakan dendam antar partai dan dendam individu pasca reformasi.

Saya sangat setuju, perlunya sebuah revolusi untuk menumbangkan pemerintahan yang konfliknya seputar kalangan atas saja, tanpa memerhatikan rakyat di bawahnya, terutama konflik DPR tandingan yang sekarang saya tertawakan. Kenapa kita gak revolusi untuk membubarkan DPR atau MPR saja ? Daripada hanya sekedar demonstrasi tolak kenaikan harga BBM yang sebenarnya harga sebuah demonstrasi itu kecil di mata para akademisi, walaupun para masyarakat awam menilai ini sebuah penghargaan yang besar yang di berikan mahasiswa kepada rakyat.

Saya lebih setuju jika kita sama2 melakukan aksi revolusi membubarkan MPR yang sifatnya kekanak-kanakan dan menggantinya dengan Dewan Rakyat yang sebenarnya berasal dari kaum buruh dan tani yang intelek, setidaknya sarjana tani dan buruh. Dewan Rakyat yang demikian lebih mengerti keadaan rakyat karena berasal langsung dari kalangan rakyat, daripada MPR sekarang yang hanya berisi para kapitalis busuk yang mengejar harta dan meninggalkan pekerjaan demi harta. Benarlah kata Marx, bahwa pertarungan manusia yang sebenarnya berdasarkan sistem ekonomi atau Historical Materialism, sejarah manusia itu tidak pernah bisa lepas dari pertentangan antar kelas dengan alasan sistem ekonomi, walaupun beberapa catatan sejarah tidak luput dari alasan politik dan agama, tapi setidaknya dasarnya pasti kembali lagi ke sistem ekonomi. (dalam hal ini saya tidak setuju dengan pernyataan Abdul Qadir Djaelani, seorang anggota DPR Komisi I zaman transisi)

Inilah alasan kenapa saya akhirnya tidak puas dengan organisasi FAM UNPAD yang bergerak untuk hal-hal yang kecil dan bahkan sering bentrok pemikiran dengan organisasi-organisasi revolusioner yang lainnya yang sebenarnya bertujuan yang sama.

Beberapa minggu atau bulan saya berkuliah di UNPAD, saya bertemu dengan Fadel, seorang mahasiswa sejarah angkatan 2012 yang seideologi dengan saya, tetapi ada beberapa perbedaan berpendapat antara saya dengan dia, terlebih lagi karena dia lebih berpemikiran ala Aidit atau Semaun, walaupun ada sedikit pemikirannya yang lebih condong ke Tan Malaka. Sedangkan saya berusaha berpemikiran seperti Marx, Engels, Tan Malaka, ataupun Trotsky dan Lenin (walaupun ada beberapa hal yang membuat saya tidak setuju dengan pemikiran Lenin).

Saya juga berkenalan dengan beberapa Marxis muda seperti Alisha, Samuel, Ucu (walaupun dia gak pernah menyatakan bahwa dia Marxis, tetapi apa yang dilakukannya benar2 mencerminkan seorang yang sosialis), dan Kasman. Terlebih lagi, saya juga berkenalan dengan Akmal, seorang yang menyatakan dirinya freelance humanism, seorang manusia merdeka yang tidak terikat dengan ideologi apapun, seorang yang mengagumi Soe Hok Gie.

Perkenalan saya dengan beberapa orang tersebut menambah khazanah pemikiran saya karena saya sering berdiskusi dengan mereka. Terlepas dari manusia FAM UNPAD yang belum menerapkan pemikirannya secara sempurna (hanya pada saat mereka berkumpul, saya katakan Komunisme bisa di praktekan), orang yang saya kenal di atas merupakan beberapa orang yang berusaha menerapkan pemikiran Marx secara sempurna.

Perkenalan selanjutnya adalah dengan orang-orang yang agamis seperti Syifa, Dinda, Nabhan, Usef, dan beberapa lainnya dari jurusan sejarah dan sastra Arab. Orang-orang tersebut juga membuka pemikiran saya tentang agama, terutama Islam.

Pemikiran saya tentang agama tumbuh ketika saya menjadi dekat dengan orang-orang yang agamis seperti Syifa dan Dinda.

Menurut saya, Agama bukan merupakan bagian dari social principle atau sesuatu yang patut di kekang dalam kehidupan social masyarakat. Marx sendiri menyatakan bahwa urusan agama merupakan urusan pribadi yang tidak bisa di ganggu gugat, tetapi Lenin lebih kejam lagi menafsirkan agama. Menurut Lenin, Marx terlalu lembut menanggapi soal keagamaan, Agama itu harusnya di ibaratkan seperti Vodka yang membuat manusia terperosok ke dalam jurang ketidaksadaran dan akhirnya terperintah akibat dogma-dogma yang diciptakan agama tersebut.

Kembali lagi ke pemikiran saya, saya sependapat dengan Tan Malaka ataupun Iwa Koesoemantri yang berusaha mendekatkan pemikiran Marx dengan ajaran Muhammad. Kedua orang tersebut merupakan sosok Marxis tulen yang agamis. HOS Cokroaminoto juga demikian, dalam bukunya Sosialisme dan Islam, Cokroaminoto membuka pemikiran ketika betapa Islam telah mencatat Sosialisme 1 milenium lebih awal dari pemikiran Cromwell, Hegel, Bacon, Feuerbach, dan Marx tentunya.

Agama bukan merupakan sesuatu yang tabu dalam sistem Sosialisme. Malahan sebuah agama diperlukan untuk membangun pribadi manusia yang kuat akan moral dan etika, walaupun filsafat telah mengatur itu, tetapi agama lebih sempurna berbicara tentang itu. Tetapi agama tidak bisa dijadikan alasan bagi seseorang untuk mendogma seseorang sehingga seseorang tersebut menjadi bodoh mengikuti aturan keagamaan tanpa mengerti maksud dari aturan tersebut. Dengan kata lain, agama adalah sebuah ideologi yang hanya boleh jadi persepsi pribadi masing-masing karena agama mencakup urusan manusia dengan Tuhannya. Sedangkan sistem Sosialisme tidak mengenal aturan tentang hubungan tersebut.

Walaupun pemikiran saya melunak terhadap agama, terutama Islam (tentunya karena saya sendiri beragama Islam), tetapi bukan berarti saya melunak terhadap beberapa ulama konservatif. Beberapa ulama dan pesantren menyatakan bahwa sistem di luar Islam adalah kafir dan ilmu-ilmu yang bukan berdasarkan Al Qur’an adalah ajaran setan. Ulama lain mengatakan bahwa sistem yang dianut oleh sebuah Negara seharusnya Islamisme, bukan Demokrasi, Liberalisme, apalagi Komunisme. Tetapi kalo kita mengkaji Islam itu lebih dalam, Muhammad, seorang pemimpin, pemuka agama, dan seorang yang pertama kali menyebarkan Islam adalah seorang yang menerapkan prinsip Sosialisme dan Demokrasi lebih awal dari semua pemikir Sosialisme yang ada.

Saya menyatakan demikian karena dalam Al Qur’an sendiri termaktub ajaran Sosialisme yang kurang lebih telah di bahas Cokroaminoto dan Haji Misbach lebih mendalam. Tidak ada paksaan dalam Islam, tetapi dalam prakteknya, para ulama berusaha memaksakan doktrin-doktrin agama itu kepada masyarakat sehingga masyarakat mengikuti ajaran agama tanpa tahu maksud dan relevansi dari doktrin tersebut.

Saya percaya bahwa Islam merupakan agama yang paling sempurna dan tidak perlu di pertentangkan, tetapi yang terjadi adalah para ulama menciptakan pertentangan antara sesamanya sehingga membingungkan masyarakat. Karena itulah saya membangun pemikiran bahwa agama adalah sebuah persepsi pribadi yang tak bisa di bantah oleh pihak manapun (persepsi inilah yang bertentangan dengan pemikiran Lenin). Maka itu, harusnya tidak dibenarkan adanya intervensi dari para ulama, pendeta, atau bhiksu untuk menekankan kepada masyarakat untuk memeluk agama mereka, harusnya mereka member kebebasan kepada masyarakat untuk memeluk agama manapun yang mereka mau, tugas para pemuka agama hanyalah memberikan pandangannya tentang agama yang di anut agar mata masyarakat terbuka dan bisa memilih sesuai hati mereka.

Beberapa bulan terakhir, memang yang menjadi perdebatan antar penganut Marxis di UNPAD adalah soal agama dan relativisme budaya. Beberapa di antara mereka adalah Atheis dan beberapa lainnya mengaku sebagai muslim atau freelance monotheism seperti Karen Amstrong atau Voltaire. Tetapi saya pribadi menganggap bahwa diri saya adalah seorang muslim untuk pribadi saya, tapi di hadapan masyarakat, saya adalah seorang sosialis yang lepas dari doktrin agama. (perkataan ini meniru dari perkataan Tan Malaka dalam pidatonya di hadapan para wakil komintern pada 12 November 1922)

Persoalan agama sebenarnya bukan persoalan bagi seorang Marxis atau penganut Komunis, tetapi lebih kepada persoalan pribadi dan Tuhannya, entah itu Tuhan ciptaannya atau Tuhan ciptaan agamanya. Walaupun Marx menyatakan bahwa agama adalah candu masyarakat, tetapi Marx tidak berpikiran untuk mengekang kebebasan beragama seperti yang dilakukan oleh Lenin dan Stalin. Dan bagi saya, tidak ada paksaan dalam setiap individu untuk memeluk agama manapun. Makanya saya tidak pernah setuju adanya agama resmi dalam setiap Negara, sehingga menciptakan persoalan masyarakat yang di paksa memeluk salah satu dari agama yang telah di tetapkan Negara.

Tuhan, bagi saya adalah sebuah persoalan dan pemikiran pribadi yang tidak bisa di campur tangani oleh masyarakat. Tuhan bagi saya adalah sebuah zat di luar pemikiran dan pemahaman saya sehingga maha sempurnanya Tuhan tak bisa dibantahkan oleh teori apapun, termasuk teori Marx dan Lenin itu sendiri. Walaupun Nietzche menganggap Tuhan telah mati sehingga perlunya manusia menjadi Tuhan, tetapi Tuhan itu tidak pernah mati, Tuhan memberi kebebasan pada setiap manusia untuk berpikir dan bertindak, walaupun pemikirannya itu mencemooh Dirinya.

Di hadapan Tuhan, saya mengaku Muslim, menjalankan setiap perintahnya merupakan kewajiban bagi saya. Saya tidak pernah menjalankan perintah para ulama yang konservatif, yang saya jalankan adalah perintah dari Muhammad yang sesuai dengan ajaran kitab suci saya pribadi yaitu Al Qur’an. Saya berusaha menginterpretasikan Al Qur’an sesuai dengan perkembangan zaman karena saya percaya, Islam adalah agama non konservatif yang terus berkembang sesuai perkembangan zaman.

Di hadapan masyarakat, saya adalah seorang Marxis yang berusaha menjalankan ajaran Karl Marx dan Friederic Engels selama itu tidak bertentangan dengan agama yang saya anut pribadi. Walaupun saya hanya seorang mahasiswa sejarah UNPAD, tapi itu tidak menghalangi saya untuk menerapkan prinsip Sosialisme yang melibatkan masyarakat banyak untuk menciptakan kesadaran masyarakat yang utopi, masyarakat tanpa kelas, tanpa pertentangan.

Setidaknya, ulama tidak bisa menyatakan bahwa saya sesat dalam hal ini, karena yang berhak menyatakan saya sesat atau tidaknya adalah Tuhan saya sendiri, Allah SWT. Walaupun pemahaman saya tentang agama masih dangkal, tetapi setidaknya saya berusaha menerapkan keagamaan itu dalam konteks pribadi saya sendiri.

Terlepas dari pertentangan antara agama dengan Marxisme, saya berusaha mendekatkan pemahaman saya dalam Marxisme dengan agama. Hal ini juga yang di coba oleh Tan Malaka dalam setiap bukunya dan pidatonya, dia sendiri mendukung agar Komintern tidak mengecam Pan Islamisme. Harusnya Komintern dan Pan Islamisme bisa bekerja sama dalam menumbangkan kekuasaan para Kapitalis di dunia. Tetapi konflik ideologi yang se dasar malah terjadi, hal ini benar-benar di tertawakan oleh kaum Kapitalis hingga sekarang.


(Thesis tentang kepribadian : Antara Marxisme, UNPAD, dan Agama)
(Alvie, 16 November 2014)

PENDANGKALAN MATERIALISME



“Menganalisis Materialisme Dan Kaitannya Dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan”

Materialisme adalah suatu cabang filsafat yang mulai berkembang sejak zaman Yunani Kuno. Materialisme muncul sebagai hasil revolusioner dari pergerakan pola pikir manusia mulai dari khayali dan imajinasi menjadi realita dan ide. Materialisme muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan para ahli filsafat atas kabut kebenaran yang tersembunyi akibat mitos – mitos, dewa – dewa, dan mitologi yang membodohkan masyarakat.

Reaksi atas takhayul dan mitos ini muncul karena takhayul akan dewa – dewa dan mitologi bersifat abstrak, artinya tidak pernah bisa terbayang oleh akal. Hal inilah yang membuat manusia bodoh. Manusia memuja dewa – dewi Olympian namun tidak pernah manusia lihat rupanya, yang mereka tahu, dewa – dewi itu berada di puncak Olympus tanpa penjelasan ilmiah dan empiris. Para filsuf akhirnya tampil sebagai reaksi atas takhayul tersebut. Filsuf Materialisme pertama dunia adalah Thales dengan konsep penciptaan alam semestanya yang berasal dari air. Munculnya Thales dianggap sebagai kebangkitan dari ilmu pengetahuan manusia yang ilmiah. Setelah Thales, ada Anaximenes, Empicurus, Anaxagoras, dan Phytagoras. Pernyataan Phytagoras yang menyebutkan alam semesta adalah semacam kumpulan perhitungan – perhitungan matematika yang empiris juga dianggap sebagai babak baru kemajuan ilmu pengetahuan.

Lalu Materialisme terus berkembang hingga munculnya Aristoteles yang bersifat Idealis. Hancurnya Materialisme Yunani Kuno di tutupi dengan munculnya Idealisme dan Filsafat Etika dari Romawi Kuno. Setelah munculnya agama Kristen, maka manusia akhirnya menjadi budak dari Metafisika. Mereka akhirnya menjadi manusia – manusia yang bersedia menjadi hamba Tuhan tanpa pemikiran yang rasional terhadap agamanya. Materialisme mulai tidak di korek orang karena adanya paranoid yang muncul akibat dogmatis gereja pada masa abad kegelapan.

Di tempat lain, dunia Islam mulai mencerahkan wilayah dari Delhi hingga Granada. Para pemikir Islam juga mulai mengembangkan filsafat Idealisme Yunani Kuno yang menyebabkan peradaban Islam lebih maju selangkah dua langkah di bandingkan dengan peradaban Eropa yang tunduk pada kekuasaan gereja. Kontradiksi seperti ini akhirnya saling bertemu di Andalusia pada masa keemasan Granada.

Materialisme belum berkembang hingga munculnya filsuf – filsuf semi Atheis yang mengembangkan beberapa aliran filsafat yang berkembang dari Materialisme dan Idealisme seperti Rene Descartes dengan Rasionalismenya dan August Comte dengan Positivismenya. Perkembangan filsafat tersebut akhirnya mulai membuka tabir Materialisme yang dilahirkan kembali dalam bentuk modernnya. Tapi percaya atau tidak, Materialisme modern lahir dari Idealisme klasik. Para filsuf Materialisme modern berhasil mengkritik Idealisme dengan keras sehingga Idealisme menjadi usang. Akhirnya Materialisme tampil di permukaan ketika Hegel, seorang filsuf idealis Jerman tampil sebagai filsuf klasik Jerman terakhir.

Murid Hegel sangat banyak, mereka terbagi atas dua kubu yaitu Hegelian Kiri dan Hegelian Kanan. Hegelian Kiri percaya bahwa ide absolut yang dikembangkan pemikirannya oleh Hegel merupakan hasil representasi dari otak manusia. Sedangkan Hegelian Kanan mempertahankan pemikiran Hegel yang menyatakan bahwa adanya “Ide absolut” yang menjadi awal mula dari segalanya. Hegel juga percaya bahwa peristiwa sejarah terjadi akibat dari ide yang saling bertentangan. Dari teori kesejarahan tersebut lahirlah apa yang disebut dengan Dialektika, hukum Dialektika menjadi suatu yang penting dalam filsafat Materialisme modern.

Lalu muncul Feuerbach dan Marx yang mulai melihat masalah dan sejarah dari perspektif realita yang sebenarnya dan rasional. Dari mereka berdualah, Materialisme menjadi suatu pemikiran yang diperhitungkan oleh masyarakat. Perkembangan Materialisme mencapai puncaknya ketika Marxisme mengembangkan suatu perpaduan antara Materialisme dengan Dialektika dan penerapan Materialisme dalam teori kesejarahan yang disebut Materialisme Historis yang menjadi dasar dari pemikiran Marxisme.

Ketika Uni Soviet runtuh, maka seketika Materialisme runtuh dengan segala pemikirannya. Materialisme mengalami pendangkalan pemikiran, para filsuf sofisme Materialis hadir untuk menyerang Materialisme dari dalam. Ketika para ahli mulai menemukan elektron, sejak itulah Materialisme mengalami pendangkalan filsafat. Lenin sebagai seseorang Marxisme yang mempunyai pengaruh besar terhadap Komunisme akhirnya menyerang para pendangkal Materialisme lewat bukunya yang berjudul “Materialisme dan Empiriokritisme”. Lenin menjawab bahwa berkembangnya ilmu pengetahuan malah membuat Materialisme menjadi semakin berkembang. Hal ini justru akan mematikan pemikiran Idealisme yang selama ini menjadi pegangan para pendogma ilmu pengetahuan.

Sekarang setelah mengetahui perkembangan Materialisme secara singkat, mari kita sejenak menganalisis Materialisme dari perspektif Marxisme secara keseluruhan. Menganalisis Materialisme, berarti kita harus berpikir rasional, masuk akal, realita, dan terbebas dari takhayul pemikiran yang ada. Berpikir Materialisme berarti menciptakan keadaan alam pikiran sesuai dengan apa yang dirasakan oleh indra kita. Terlepas dari pemahaman perasaan dan mitos serta ramalan yang belum jelas dasarnya. Puncak kritik manusia haruslah dari Materialisme, bukan sebagai kritik yang seenaknya tentang dunia, tetapi kritik yang bersifat ilmiah. Maka dari itu, Materialisme tidak pernah lepas dari pemahaman ilmiah.

Sekarang kita dihadapi oleh kritik atas Materialisme yang dilakukan oleh dogmatis agama dan Idealisme tanpa ada dasar yang mengikat kritik tersebut. Dengan mudahnya mereka mendangkalkan Materialisme sebagai suatu filsafat yang usang. Padahal disadari atau tidak, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka Materialisme menjadi suatu filsafat yang berkembang mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan tersebut. Analoginya, jika seorang ilmuwan berhasil menciptakan partikel Tuhan, maka dia berhasil membuat pemikiran tentang realitas dari Big Bang itu berkembang. Hal ini membuat pemikiran Materialis tentang sesuatu yang berawal dari materi pun akhirnya berkembang.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat di dasari oleh penemuan – penemuan mutakhir yang berkaitan dengan gerak. Maka terbuktilah dialektika materi ketika awal mula alam semesta adalah Big Bang. Kumpulan dari materi – materi yang saling berkontradiksi dan akhirnya menghasilkan suatu ledakan dahsyat yang menciptakan alam semesta sedemikian rupa. Materi dalam alam semesta terus mengembang akibat kontradiksi – kontradiksi kuat sehingga menghasilkan evolusi antar galaksi, bintang, planet, hingga materi yang ada di dalamnya. 

Makhluk hidup yang ada di dalam planet seperti bumi akhirnya juga berkembang sedemikian rupa. Perkembangan makhluk hidup juga di dasari atas perkembangan akal dan pikiran yang mereka punya. Tingkat akhir dari perkembangan tersebut adalah manusia. Manusia pertama adalah Adam, intelektual manusia berkembang begitu pesat mulai dari adanya Adam hingga munculnya peradaban – peradaban besar dunia seperti Lembah Sungai Indus dan Mesopotamia. Sejarah mencatat bahwa sejak adanya alam semesta, peristiwa – peristiwa yang telah menjadi sejarah merupakan semacam kumpulan pertentangan – pertentangan yang menghasilkan hal baru. Pertentangan – pertentangan tersebut di dasari oleh materi – materi yang tak pernah diam, terus bergerak menghasilkan ide – ide yang menjadi bagian dari inti peristiwa sejarah tersebut.
Kaum Materialisme membagi sejarah manusia menjadi 4 tahap yaitu tahap masyarakat komunal purba, tahap masyarakat feudal, tahap masyarakat kapitalisme, dan tahap masyarakat komunal modern atau yang biasa di sebut tahap masyarakat sosialisme. Pembagian atas tahapan tersebut di dasarkan pada pertentangan – pertentangan akibat faktor ekonomi. Namun Materialisme Historis tidak sedangkal itu dalam memahami sejarah. Saya paham bahwa orang – orang anti Marxis bahkan mengkritik Materialisme Historis karena generalisasi sejarah yang hanya buntu pada ke ekonomian saja. 

Kritik tersebut tiada berdasar, mereka benar – benar melakukan pendangkalan tersebut secara vulgar. Pendangkalan kritik tersebut terjadi karena orang – orang Idealisme dan anti Marxis lainnya hanya melihat Materialisme Historis dari satu sisi. Mereka benar – benar jadi buta akan pengetahuan sejarah. Bagaimana mereka menilai pertentangan dan pergerakan materi tersebut sebagai dasar dari peristiwa sejarah ?

Materialisme Historis memandang bahwa sejarah tersebut di hasilkan atas pertentangan – pertentangan bukan hanya dari perspektif ekonomi saja, namun dari segala aspek kebutuhan sehingga hasil pertentangan tersebut menjadi sedemikian kompleksnya. Hasil – hasil tersebut akan terus melakukan pertentangan abadi sehingga selalu menghasilkan sesuatu dan peristiwa yang baru, tidak ada yang namanya “kebenaran absolut” ala Hegel. Semua pertentangan tersebut subjeknya adalah materi termasuk manusia, bukan ide ataupun jiwa. Ide merupakan sebuah hasil kerja otak yang menjadi predikat dari peristiwa sejarah tersebut. 

Bagaimana dengan pendangkalan Materialisme dengan dasar perkembangan data dan fakta pengamatan materi sub atomic ? Hal ini pernah di ungkapkan Lenin dalam bukunya Materialisme dan Empiriokritisme, Lenin mengkritik kaum Machian dan empiriokritian. Lenin mengatakan bahwa kedua aliran filsafat tersebut merupakan Positivisme gaya baru yang mendasari teori dari Kant dan Comte. Mereka bersembunyi di balik layar Materialisme. Banyak dari mereka yang melakukan pendangkalan Materialisme atas dasar dari pernyataan Uskup Berkeley dan pernyataan Idealis lainnya. Dengan sadar mereka membuat Materialisme menjadi kotor sedemikian rupa.

Dalam hal ini, Lenin mungkin sangat di pengaruhi oleh tulisan Engels yang berjudul Ludwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman dalam melawan kritik kaum Machian tersebut. Lenin menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan hingga menemukan electron merupakan bagian dari perkembangan Materialisme juga.

Berkembangnya teori Big Bang juga merupakan kemenangan bagi kaum Materialisme. Partikel sub atomic seperti electron yang dianggap oleh kaum agnostisik sebagai partikel yang belum tentu kebenarannya karena sifatnya yang mikroskopik menandakan kebenaran akan Idealisme, namun jika kita lihat dari perspektif Materialisme, Elektron tersebut di dasarkan fakta dan data yang akurat. Mungkin kita juga mengambil perkataan Engels yang menyatakan bahwa teori Copernican yang muncul juga masih berupa hipotesa hingga ratusan tahun kemudian menjadi sebuah kebenaran ilmiah karena di buktikan oleh Kepler dan dedengkot Astronomi lainnya seperti Einstein dan akhirnya Neil Amstrong. Bagaimana dengan partikel ? Jika perkembangan ilmu pengetahuan memadai, bukan tidak mungkin kita bisa membuktikan bahwa electron itu merupakan sifat dasarnya materi. Atau lebih kecil lagi yaitu partikel quark. Awalnya memang merupakan penelitian yang bersifat hipotesa karena di dukung oleh fakta – fakta empiris yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan konspirasi karena realitasnya belum terlihat. 

Disini bisa disimpulkan bahwa ini bukanlah kekalahan Materialisme, melainkan merupakan sebuah perkembangan pesat Materialisme. Perkembangan Materialisme dan ilmu pengetahuan mengikut koordinat Awalnya memang merupakan penelitian yang bersifat hipotesa karena di dukung oleh fakta – fakta empiris yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan konspirasi karena realitasnya belum terlihat. 

Disini bisa disimpulkan bahwa ini bukanlah kekalahan Materialisme, melainkan merupakan sebuah perkembangan pesat Materialisme. Perkembangan Materialisme dan ilmu pengetahuan mengikut koordinat yang sejajar, bukan berbanding terbalik. Namun, Materialisme sudah melaju lebih selangkah dari pada ilmu pengetahuan karena sudah bisa membuktikan hadirnya materi dan pergerakannya daripada ilmu pengetahuan yang membutuhkan penelitian dan pengamatan lebih lanjut lagi karena itu sudah merupakan tahapan dan metode yang empiris. 

Begitulah kaum Materialis selalu di kritik, namun para dedengkotnya berhasil menyingkirkan kritik tersebut dan menyerang mereka dengan kritik yang membuat mereka mati. Kritik mereka tiada berdasar dan salah besar. Jika kita berhasil mengkaji lebih dalam tentang Materialisme maka tidak ada yang lebih sempurna di banding dengan Materialisme. Semua kejadian dan peristiwa di jelaskan secara ilmiah dan rasional. Hal inilah yang membuat Materialisme sejalan dengan sejarah dan ilmu pengetahuan. Maka tidak heran Marxisme menganalisis situasi social ekonomi masyarakat berdasarkan Materialisme yang diramu menjadi Materialisme Historis dan Materialisme Dialektika. Kedua bentuk filsafat tersebut tidak pernah usang di terpa zaman karena memberikan solusi – solusi dengan kajian ilmiah sehingga masuk akal di banding dengan Idealisme yang memberikan solusi di luar pemahaman dan akal manusia. Musnah lah takhayul dan mitos. Khusus keagamaan, maka saya berusaha membuat agama tersebut rasional.

(Kritik atas Pendangkalan Materialisme)
(Alvie, 3 Januari 2015)