Sejarah Revolusi Oktober

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM PERISTIWA REVOLUSI OKTOBER

“TENTANG BAGAIMANA MATERIALISME DIALEKTIKA MENJADI FILSAFAT PENGGERAK SEJARAH SAAT REVOLUSI OKTOBER” “Kaum Bolshevik tidak boleh ...

30 November 2014

OPINI TENTANG FILSAFAT, AGAMA DAN POLITIK

ARAH FILSAFAT, AGAMA, DAN POLITIK SELANJUTNYA
DALAM MARXISME


Filsafat Materialisme mulai diserap dalam kehidupan Eropa dan sekitarnya saat Aufklarung mulai mencerahkan Eropa dan Humanisme menjadi suatu dasar pemikiran dalam kehidupan masyarakat Eropa. Pada masa ini pulalah para pemikir sudah mulai bosan mendengarkan doktrin dan dogma agama yang penuh dengan mitos, konservatif, dan tidak masuk akal. Menurut para pemikir pada masa itu, agama hanya dijadikan alat agar para masyarakat patuh dan tunduk kepada para tuan tanah dan para pendeta. Dengan ini pendeta bisa menjaring pengikut yang banyak serta membuat para masyarakat dijadikan budak para Feodal.
Tetapi di masa itu, masih ada aja para filsuf yang mencampuradukkan antara akal, teologi, dan pemikiran, diantaranya adalah Voltaire, Immanuel Kant, dan sebagian besar para filsuf di Inggris dan Perancis. Walaupun sudah ada beberapa yang tercerahkan dengan pemikirannya yang luas. Hegel dengan idealisme nya, Hume, Feuerbach, dan sebagainya yang telah memakai Materialisme sebagai dasar dari pemikiran filsafat mereka.
Pertanyaanya, kenapa mereka lebih memilih Materialisme sebagai dasar dari pemikiran mereka ?  Sebenarnya tidak sepenuhnya pemikiran mereka itu Materialisme, sebagian besar dari mereka mengagungkan akal dan pemikiran manusia. Itu artinya pengaruh pemikir Humanis sebelumnya mempunyai pengaruh yang sangat besar. Atau pemikiran mereka bisa saya sebut “Materialisme Humanis” yang artinya mencampuradukkan akal dengan material. Betapa agungnya pemikiran manusia pada saat itu.
Tujuan dari pemikiran mereka jelas sangat membebaskan rakyat dari beban dogmatis agama yang pada masa sebelumnya menguasai mereka. Mereka menyatakan bahwa kesempurnaan itu hanya milik dari manusia, bahkan Tuhan merupakan representatatif dari khayalan manusia, atau lebih tepatnya pemikiran dari para pemuka agama agar para rakyat bisa takut akan keagungan Tuhan sehingga segala sesuatu atau perbuatan manusia bisa di control oleh para wakil Tuhan di bumi (dalam hal ini para pemuka agama dan para Feodalis). Sungguh miris kehidupan rakyat pada saat itu (sebelum terjadinya revolusi Perancis) yang harus tunduk dan merasa tertindas dibawah doktrin agama para wakil Tuhan di bumi. Saat itu agama merupakan alat yang efektif untuk melegalkan kekuasaan para penguasa.
Tetapi saya sendiri tidak menafikkan para pemikir dari Islam yang terus menghargai Tuhannya karena Tuhannya tidak mengajari para hambanya untuk memlihara kekuasaan yang absolut untuk menindas rakyatnya. Di agama Islam kita mengenal Sosialisme yang menyatakan tidak ada yang namanya kepala, semua sama rasa dan sama rata. Dengan itu, hanya Tuhanlah yang berkuasa, sedangkan manusia hanya berfungsi sebagai hamba. Tidak ada wakil Tuhan di bumi, tidak ada yang bisa menghapus dosa atau menjualbelikan surat penghapusan dosa.
Saya juga bukan pemikir konservatif yang harus menelan mentah-mentah filsafat orang-orang konservatif seperti kebanyakan orang yang harus tunduk di bawah kuasa filsafat dan agama. Saya lebih memilih memperbaharui pemikir filsafat zaman dahulu yang tidak mengerti akan arti pentingnya filsafat. Materialisme yang saya anut bukanlah seperti materialisme yang tidak mengenal Tuhan sama sekali seperti Nietzche atau Feuerbach sekalipun, tetapi lebih kepada Materialisme yang bersifat Sosialis seperti Marx dan Engels, bukan pula seperti Lenin yang benar-benar benci kepada agama.
Tujuan saya menulis ini tidak lain hanya untuk memahami seberapa dekat Materialisme itu dengan Tuhan. Tetapi pilihan ini terlampau sulit bagi saya karena tidak banyak orang yang mengerti betapa pentingnya arti sebuah Materialisme yang sosialis, mereka hanya stop pada suatu kesimpulan yang picis yaitu Materialisme adalah sebuah penentangan terhadap agama yang nyata, mereka hanya mengambil pernyataan kecil dari Marx atau para antek-anteknya yang mengatakan agama hanya dijadikan alat untuk menjatuhkan martabat kaum buruh dan tani.
Tetapi tidak dapat di pungkiri, kesempurnaan manusia dalam berpikir telah sampai kepada tingkat yang melawan Tuhan, dalam artian, apa yang mereka hasilkan selalu menentang kekuasaan Tuhan. Betapa sulitnya menyatukan pemikiran mereka yang menentang Tuhan demi nama rakyat dengan para pemuka agama yang berkuasa atas nama Tuhan demi nama manusia pula. Tetapi saya termasuk orang yang berusaha untuk keluar dari arus mainstream tersebut. Saya hanya mencoba untuk merealisasikan betapa pentingnya rasa Sosialisme antar manusia di wujudkan di bumi Tuhan, bukan untuk saling berperang atas nama Tuhan ataupun atas nama para pemikir yang tidak mengerti akan hadirnya Tuhan, tetapi untuk sebuah rasa kemanusiaan yang telah hilang akibat arus modernisasi.
Tetapi bagi saya, merevolusikan sebuah filsafat konservatif adalah suatu keharusan karena akan berguna dalam arti kemanusiaan. Saya adalah seorang Marxis yang tidak peduli dengan perkataan orang yang mengatakan bahwa suatu hal yang tabu untuk mengungkit kembali kebesaran suatu massa Komunisme pada masa dahulu karena di dukung oleh kaum yang tertindas. Toh, sekarang kaum yang tertindas itu malah memihak kepada para kapitalis demi sebuah jaminan hidup. Faktanya, mereka yang dahulu mendukung sebuah ideologi kaum proletar harus pasrah tunduk kepada suatu aliran modernisasi yang di kuasai oleh kaum Liberal yang tidak mengerti arti filsafat Sosialisme, atau individualistis mereka telah merongrong hak asasi manusia secara keseluruhan.
Saya tekankan, sebuah Materialisme yang bersifat Dialektis ala Marx ataupun Idealis ala Hegel harusnya menjadi batu pondasi sebuah perlawanan kaum bawah untuk melawan para penguasa yang hanya mementingkan agama sebagai jalan untuk menguasai pemikiran mereka yang tidak tahu apa-apa tentang kerumitan soal politik dan ekonomi. Mereka yang hanya mengerti soal perut mereka dan akhirnya nasib mereka terkatung-katung, pasrah akan keadaan dan akhirnya hanya menengadahkan tangan di hadapan Tuhan untuk berdoa yang sia-sia.
Mengapa hal yang jauh dari kemistisan agama harus di buang ? Mereka hanya berpikir suatu filsafat yang bersifat Materialis hanya bisa membuat mereka akhirnya takut akan azab Tuhan yang pedih, sekiranya itu yang saya dengar dari para pemuka agama yang memerintahkan para kadernya untuk selalu tunduk pada kuasa Tuhan.
Saya pernah mendengar seseorang yang Islamnya kuat pernah berkata bahwa kita harus tunduk kepada suatu pemerintahan yang jahat sekalipun. Mengapa begitu ? bahkan mereka siap di injak kepalanya demi sebuah kesetiaan. Bukankah itu sebuah kenistaan agama juga ? sebuah kenistaan manusia yang akhirnya tidak mengenal lagi rasa kesetaraan. Mereka harus memakan mentah-mentah perkataan para pemimpin yang akhirnya hanya memperkaya diri sendiri atau golongan. Rasa Komunis dalam diri para proletar telah mati akibat pasrah terhadap keadaan.
Para penguasa berpidato secara keras tentang sebuah kebijakan yang tidak di mengerti oleh rakyatnya, rakyat bersorak hore dan berharap kebijakan tersebut pro terhadap rakyat. Para penguasa dengan segala dalilnya seperti wahyu dari Tuhan meluncur dan membenarkan semua kebijakan yang padahal menyengsarakan rakyat mereka. Dan rakyat dipaksa untuk pasrah terhadap keadaan dan menunggu apakah kebijakan tersebut akan mensejahterakan mereka atau akhirnya hanya menjadi alat untuk memperkaya diri bagi kaum Liberalis.
Inikah yang namanya filsafat moderat yang dianut oleh orang sana-sini ? Atau ini sebuah agama pembaharuan yang dibawa untuk sebuah perubahan yang sifatnya menghancurkan orang-orang yang tidak mempunyai harapan hidup yang tinggi seperti para rakyat awam yang harusnya menjadi pemerhati, malah menjadi kuda-kuda dan anjing liar yang saling berebut daging busuk ?
Suatu filsafat yang picis, filsafat yang menyalahartikan sebuah perubahan, modernisasi, ataupun problema yang benar-benar disayangkan menghantui pemikiran semua rakyat di dunia. Hegel mengharapkan sebuah idealistik bisa dibangun dari setiap pikiran dan akal manusia agar manusia mengerti bahwa masing-masing dari mereka adalah merdeka, mempunyai kekuasaan untuk menjalankan kehidupannya masing-masing tanpa menelan mentah-mentah peraturan pemerintah yang mereka tidak mengerti. Tetapi saya sempat berpikir, apakah jika pikiran Marx dan Hegel demikian, maka apa pentingnya diciptakan sebuah Negara yang proletariat ? Pertanyaan yang demikianlah bukanlah sebuah pertanyaan dari seorang Anarkho-Komunis yang menghilangkan batas antar Negara, ras, atau agama, tetapi lebih kepada pertanyaan seorang Marxis yang berusaha memahami apa pentingnya Negara yang demikian di agungkan.
Saya berpendapat sebuah revolusi harus dijalankan untuk meruntuhkan batas setiap Negara yang diciptakan untuk membedakan mereka dengan para barbaris atau dengan para penghuni neraka seperti yang mereka percayai. Tetapi saya juga tidak menafikkan perlunya sebuah Negara yang merdeka dari kaum borjuis yang menguasainya. Dalam artian lain, manusia harus di control dalam satu undang-undang yang sekiranya perlu untuk mensejahterakan mereka.
Tidak ada yang membatasi keadaan mereka untuk bersatu, seperti ras, golongan, ataupun agama. Filsafat para Humanis pada abad ke 18 dan 19 menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sempurna yang harusnya mempunyai kelakuan dan intelegensi seperti Tuhan atau setidaknya mendekati Tuhan, bukan mendekati para binatang yang masih menghadapi seleksi alam untuk mencapai suatu kehidupan yang kuat.
Kita diciptakan dengan akal dan pikiran yang sehat, diciptakan dengan berbagai perbedaan untuk saling mengenal dan saling bersahabat dalam panji agung Sosialisme, bukan saling berebut sumber daya alam untuk kepentingan suatu golongan, bukan pula berkoar-koar demi sebuah keagungan agama masing-masing.
Saya menyatakan agama itu harus dihapuskan karena menurut pengamatan saya pada masa sekarang, orang akan saling berperang mengatasnamakan kebenaran agama masing-masing. Terserah orang menganggap saya kafir atau atheis, karena seperti yang telah saya katakan sebelumnya, sebuah agama adalah persepsi dari pribadi masing-masing individu, bukan dipaksakan agar orang mengikuti jalan kita. Biarkan agama itu menjadi beratus-ratus atau beribu-ribu, asalkan hal tersebut tidak menyentuh ranah Sosialisme. Itu berarti pernyataan saya mengatakan agama itu harus dihapuskan karena banyak para iblis yang berkoar agar rakyat mengikuti agama mereka masing-masing dan saling berperang demi sebuah kebenaran agama bukan dimaksudkan untuk melarang kebebasan beragama. Tetapi jika fungsi agama sudah demikian, apalah arti sebuah agama bagi segolongan manusia ?
Filsafat, politik, agama, suatu hal yang picis, naïf. Banyak kaum proletar yang akhirnya dipaksa untuk mengikuti suatu idealisme tertentu dengan khayal yang sederhana. Rakyat yang tidak mengerti akhirnya mengikuti jalan tersebut dan menganggap jalan tersebut sudah benar tanpa adanya sebuah kajian yang mendalam terlebih dahulu. Mengapa kita harus berlaku demikian ? Apa manusia ini hanya menjadi pengikut, atau tidak berhak menjadi sebuah pemikir ?
Saya pernah bertanya kepada beberapa orang, mengapa mereka harus mengikuti Hegel, Marx, Muhammad, atau seorang Lenin sekalipun. Jawabannya sangat sederhana, mereka percaya bahwa dengan mengikuti mereka, kesejahteraan akan tercipta. Lalu saya bertanya lagi, apakah mereka sudah memikirkan terlebih dahulu apa yang membuat kesejahteraan ala mereka bisa tercipta dan konsekuensi dari pemikiran mereka tersebut itu apa ? Dengan serentak, orang awam menjawab, hal yang tabu membicarakan sebuah hal yang tidak jelas asal-usulnya. Suatu jawaban yang konservatif, picis.
Saya ambil contoh lagi dari para pemuda yang saya Tanya, kenapa mereka lebih memilih Hegel daripada Marx ? Singkatnya mereka menjawab bahwa Marx dan segala bentuk pemikiran filsafatnya telah melarang sebuah kebebasan beragama. Mengapa mereka tidak berpikir terlebih dahulu, Marx hanya mengajarkan bahwa manusia itu harus bersatu dibawah satu panji tanpa mengenal batas Negara, agama, dan kelas. Mereka akhirnya menelan mentah-mentah filsafat dengan pemikiran dan pandangan umum. Apa yang dikatakan kaum minoritas yang inginkan perubahan adalah suatu hal yang sangat tabu untuk di bicarakan.
Atau para pemuka NU mengatakan bahwa Komunis itu sesat, Muhammad adalah satu-satunya pemikir yang rahmatan lil alamin yang harusnya dijadikan pegangan bagi setiap manusia yang hidup sesudah zamannya. Tapi apakah mereka pernah berpikir, kalau mereka akhirnya mengikuti suatu mazhab tertentu, atau selalu tunduk pada suatu muktamar ala KH. Wahid Hasjim atau Abdurrahman Wahid yang artinya mereka menduakan Muhammad itu sendiri karena para pemuka agama dikalangan mereka masing-masing mempunyai opini sendiri menyoalkan sosial, politik, dan ekonomi.
Pada akhirnya saya mengakui, saya bukanlah pemikir yang mempunyai wawasan luas seperti Muhammad, Hegel, Nietzche, Hume, Voltaire, ataupun Marx dan Engels. Tetapi saya hanya berusaha menginterpretasikan pemikiran saya soal Filsafat, agama dan politik dalam pandangan saya. Saya mengambil pemikiran ini dari persoalan nyata yang telah terjadi dikalangan manusia saat ini. Bukan pada persoalan teori yang belum terbukti kebenarannya. Inilah ideologi saya yang berusaha memahami setiap sendi kehidupan setiap manusia dan hubungan manusia dengan para penguasanya, termasuk Tuhan itu sendiri. Saya berusaha berpikir serasional mungkin dalam menghadapi sebuah persoalan, empiris, dan menyampaikan suatu kesimpulan yang harusnya menjadi pedoman bagi saya untuk menjalankan pemikiran saya secara nyatanya.
Semua manusia menginginkan perubahan, kebebasan, dan lepas dari dogmatis agama, filsafat dan politik. Tetapi tanpa sadar mereka, mereka terjebak dalam suatu ideologi yang membuat mereka terjebak dengan hal yang mereka benci. Inilah pemikiran Materialisme ala saya.


(Opini tentang Filsafat, agama, dan Politik)
Alvie, 30 November 2014

27 November 2014

ANALISIS SURAT – SURAT KARTINI TENTANG KESADARAN UNTUK BERBANGSA DAN BERNEGARA








“Revolusi Budaya Dalam Perspektif Kartini”
 


Kartini adalah sesosok wanita berdarah Jawa yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan meninggal pada 17 September 1904. Beliau merupakan anak dari Bupati Jepara dan akhirnya merupakan istri dari Bupati Rembang. Dengan status yang demikian, Kartini berhak mendapat pendidikan di ELS. Dalam ELS tersebut lah Kartini mempelajari bahasa Belanda dengan fasih. Sosok Kartini sering dikaitkan dalam hal Humanisme, Feminisme Liberal, dan Kesadaran untuk berbangsa. Sosok Kartini dianggap sebagai faktor penentu dalam perjalanan sejarah panjang Indonesia.
Teman surat menyurat Kartini yang di anggap sebagai pemberi sumbangsih pemikirannya tentang perihal Feminisme dan Humanisme adalah Mr. JH Abendanon (Direktur Dep. Pendidikan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda) dan Nyonya Abendanon, Annie Glaser, Stella (yang paling berpengaruh memberi sumbangsih pemikiran feminisme), Mr. Van Kol, dan lain-lain.
Beberapa kutipan surat-suratnya bahkan menjadi kata-kata mutiara pembangkit semangat kewanitaan Indonesia serta Kebangsaan Indonesia. Sikap irinya terhadap perempuan Eropa pada masa itu yang bisa mengenyam pendidikan tinggi di ungkapkan melalui surat-suratnya tersebut. Dalam surat tersebut, Kartini juga ingin agar dia bisa menuntut ilmu di Eropa, keinginannya tersebut di dukung oleh para sahabat penanya. Tetapi entah kenapa sikap Kartini sangat berubah ketika dia hanya menerima mengenyam pendidikan di Betawi dan rela menjadi istri keempat bupati Rembang.
Dalam pengulasan analisis saya mengenai surat Kartini yang berkaitan dengan kesadaran kebangsaan, saya mengambil satu surat yang dianggap menarik untuk di bahas karena mengandung tema pokok analisis yang saya bahas. Surat tersebut di tulis oleh Kartini dalam perspektif kebudayaan.
Saya tahu jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang , jalan itu berbatu batu berjendal jendul  licin belum dirintis. Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu , walaupun saya akan patah ditengah jalan , saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka, dan saya turut membantu meretas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan bangsa dan mengangkat martabat perempuan bumi putera.”
Kutipan surat tersebut di tulis pada tanggal 7 Oktober 1900. Penggalan surat tersebut menyiratkan revolusi kebudayaan yang dalam perspektif Kartini adalah kebebasan dari kebudayaan Jawa yang sangat konservatif. Pendapat Kartini tersebut bukan dengan cuma-cuma karena beliau sendiri mengalaminya dalam kungkungan pingitan yang dia rasakan. Sikapnya tersebut di anggap berani pada zamannya karena merupakan landasan kritis yang baru dalam kesadaran pergolakan budaya Jawa.
Secara tidak langsung, Kartini juga menggerakkan sistem Relativisme Budaya yang akhirnya nanti di dengung-dengungkan dalam Universal Declaration of Human Rightsnya PBB.
Penggalan surat lainnya yang berisi tentang ketidakpuasan Kartini terhadap kebudayaan Jawa yaitu :
“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah - ini saya ketahui lama kemudian - telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini. Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar.
Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi.
Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.”
“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.”
Penggalan surat tersebut di tulis pada tanggal 25 Mei 1899 yang di tujukan kepada Stella Zeehandelaar. Dari surat tersebut terpampang jelas tentang ketidakpuasan Kartini tentang adat istiadat Jawa yang benar-benar mengurung kebebasan wanita dalam pingitan.
Jadi, dalam perspektif pemikiran Kartini bisa disimpulkan bahwa Kartini merupakan pemikir modern pertama yang berhasil menyuarakan Relativisme Budaya dalam kehidupan bangsa Indonesia yang selanjutnya di ikuti oleh para tokoh Nasionalis seperti Pramodya Ananta Toer, Semaun, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.
Konsep kebudayaan yang dimaksud Kartini banyak terpengaruh pemikiran barat lewat temannya Stella yang merupakan pejuang Feminisme Liberal garis keras yang berasal dari darah Yahudi. Sumbangsih besar Stella terhadap pemikiran Kartini jelas merupakan hal moderat pertama yang menggebrak keFeodalan pemerintahan di bumi Jawa.
Sebenarnya pemikiran Kartini juga tidak bisa lepas kaitannya dengan Politik Etis yang saat itu sedang di galakkan sehingga memunculkan kaum cendekiawan yang menentang keras adat istiadat setempat yang dianggap terlalu konservatif sehingga menimbulkan perjuangan antar kelas.
Setidaknya kita bisa menyimpulkan pemikiran Kartini demikian sederhana dan bisa menangkap maksudnya yang selalu terpenjara dalam kurungan adat. Yang diinginkan Kartini adalah sebuah perubahan dalam berbudaya yang tidak lagi seperti konsep keningratan, tetapi lebih kepada konsep Sosialisme yang anti Feodalisme.

SEJARAH PERTENTANGAN ANTAR KELAS




PANDANGAN SEORANG MARXIS TERHADAP SEJARAH MANUSIA”
 

Sejarah adalah sebuah ilmu yang mempelajari masa lampau, setidaknya itu merupakan esensi etimologi yang sederhana tentang sejarah. Dalam artian yang lebih besarnya, sejarah merupakan sistem kronologis waktu yang membahas tentang kemanusiaan sejak ditemukannya tulisan. Sejarah merupakan sebuah sistem teratur yang berjalan sesuai dengan perjalanan waktu yang bersifat lurus ke depan.
Sejarah dimulai ketika manusia telah mengenal sistem penulisan, setidaknya menurut catatan yang ada, sistem penulisan pertama telah ada sejak 5000 tahun yang lalu di Mesir walaupun ada beberapa yang mengatakan sistem penulisan pertama muncul di Mesopotamia ataupun Lembah Sungai Indus berbentuk piktograf. Sistem penulisan yang demikian di anggap sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia yang pada saat itu lebih mengenal visualisasi dengan bentuk yang mudah di terjemahkan dan di ingat daripada suatu semiotik yang mengandung sistem kerumitan dalam setiap penerjemahannya.
Walaupun sistem penulisan baru di temukan 5000 tahun yang lalu, tetapi bahasa dikabarkan lebih tua lagi usianya dari sistem penulisan. Hal ini dipandang sangat masuk akal karena komunikasi merupakan alat istimewa yang dimiliki oleh Hewan dan manusia dalam berinteraksi secara sosial satu sama lain. Manusia telah sempurna dalam memahami bahasa tersebut walaupun sistem penulisan sebagai bahasa interaksi yang lebih bisu ditemukan jauh setelah manusia mengenal sistem bahasa.
Menurut pemahaman saya, seharusnya suatu sejarah sudah di pelajari sejak manusia mengenal sistem bahasa, karena dari interaksi tersebut muncul cerita turun temurun yang walaupun bersifat sangat mitos tetapi setidaknya mengandung beberapa kesejarahan yang bisa di rasionalitaskan. Semua hal yang berkaitan dengan sejarah pasti rasional, walaupun perlu pemahaman yang dalam untuk menelusuri sejarah masa lampau yang masih mengandalkan bentuk komunikasi lewat bahasa karena manusia masih menggambarkan segala sesuatunya dengan mitos.
Pemahaman yang luar biasa itu harus dimiliki oleh seorang sejarawan sehingga para sejarawan bisa menentukan apa yang sedang terjadi di masa lampau tersebut, bahkan para sejarawan harus mampu menelusuri kisah yang terjadi di masa manusia belum mengenal tulisan. Saya berusaha untuk tidak setuju dengan pendapat mainstream yang mengatakan bahwa sejarah hanya bisa dilacak melalui tulisan saja. Peninggalan arkeologis dan kesusastraan juga bisa menentukan suatu kejadian yang ada di masa lampau dengan penyampaian yang tentunya berbeda dari tulisan.
Setelah kita berteori tentang asal usul kesejarahan manusia yang dapat dilacak melalui interaksi bahasa, kita juga dapat berspekulasi tentang pendapat Marx yang menyatakan bahwa sejarah manusia pada dasarnya tidak jauh dari pertentangan antar kelas. Pemikiran yang demikian bukan tidak ada buktinya, justru bukti tersebut muncul sejak manusia mulai mengenal interaksi sosial.
Marx mengatakan bahwa pertentangan kelas yang terjadi sepanjang kesejarahan manusia terjadi karena adanya faktor kebutuhan manusia itu sendiri, dengan kata lain sejarah pertentangan antar kelas disebabkan oleh munculnya faktor ekonomi. Saya memahami bahwa filsafat kesejarahan Marx yang didasarkan pada faktor ekonomi memang merupakan suatu kebenaran karena manusia secara kodratnya merupakan makhluk hidup yang berusaha hidup dengan memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri ataupun berkelompok. Tetapi Marx mengambil perspektif faktor ekonomi ini dari esensi manusianya sebagai makhluk sosial.
Saya berpendapat bahwa sejarah tercipta karena adanya pertentangan kelas dan kelas yang mempunyai kekuatan yang dominan selalu meraih kemenangan, dengan kemenangan tersebut akan timbul kelas baru yang akan selalu bertentangan dengan kelas yang baru meraih kemenangan tersebut. Dengan kata lain, kita kembali ke dialektika ala Hegel yang menyatakan bahwa dimana ada these selalu ada antithese yang merupakan kontra dari these itu sendiri. Pertentangan yang dialami oleh kedua hal tersebut akan memunculkan suatu kemenangan atau hasil yang disebut dengan synthese. Tetapi synthese tersebut akhirnya akan berubah menjadi these pula sebagai bentuk dasar dari suatu pertentangan.
Pro kontra dalam kesejarahan manusia akan terus muncul secara berulang dan akan selalu menghasilkan suatu synthese secara berulang pula sehingga mau tidak mau manusia terjebak dalam suatu kehidupan yang penuh dengan pertentangan. Marx berpendapat bahwa dialektika tersebut bisa di akhiri ketika suatu antithese berhasil melenyapkan suatu these sehingga tidak memunculkan synthese yang baru lagi. Atau dalam penerapan ilmu sosialnya bisa di bilang kita harus mencapai ke kesadaran masyarakat tanpa kelas yang utopi.
Saya menyadari kita sebagai manusia tidak mungkin mencapai kesadaran masyarakat tanpa kelas tersebut karena pada dasarnya manusia dilahirkan untuk bertentangan satu sama lainnya. Dalam sejarah, kita dapat melihat pertentangan antara kaum peblisit dan kaum patricia, pertentangan antara kaum feodal dengan borjuis, atau pertentangan antara kaum borjuis dengan proletar. Hampir-hampir saya mengambil kesimpulan kalau manusia ini tidak mungkin mencapai suatu kesadaran masyarakat komunis tanpa kelas.
Tetapi saya berpendapat, bisa saja kita mencapai suatu hal yang utopi sekalipun jika kita bisa mengubah sejarah yang demikian statisnya. Kaum proletar yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosialistik bisa saja menjadi akhir dari pertentangan sejarah tersebut. Suatu revolusi merupakan salah satu jalan untuk melenyapkan suatu these.
Kodrat manusia adalah untuk menjadi makhluk sosial, berarti untuk mencapai suatu kesadaran manusia yang demikian utopinya, kita harus kembali ke konteks yang primitif yaitu menghilangkan suatu kepemilikan pribadi atas produksi dan menggantinya dengan kepemilikan bersama yang diatur dalam suatu dewan rakyat (hal ini dinyatakan sebagai bentuk suatu kesadaran masyarakat yang bersifat modern walaupun harus memakai konteks yang primitif).
Dalam memakai konteks yang primitif tersebut, kita harus mengambil suatu jalan revolusi agar kita bisa melenyapkan suatu kelas yang terdiri dari orang-orang yang berkuasa, serakah, atau pemilik modal (dalam hal ini kaum kapitalist karena kaum feodal hampir semuanya merupakan suatu these dari kaum borjuis, pertentangan mereka dianggap telah hilang dan membentuk synthese yang baru yaitu kaum proletar dan kaum komunis).
Setelah suatu kelas tersebut lenyap, proletar dapat menguasai jalan sejarah manusia dan dalam peraturan yang demikian rumitnya, kelas proletar itu sendiri akan lenyap. Pendapat ini mungkin di selewengkan oleh Lenin dengan menciptakan suatu diktator proletariat sehingga nantinya akan memunculkan kasus baru. Suatu kelas baru yang lahir dari kaum proletar itu sendiri, hal ini menyalahi aturan dari Dialektika Hegel itu sendiri.
Untuk menciptakan sejarah baru dengan menghilangkan pertentangan antar kelas tersebut, kelas proletar yang telah memperoleh kemenangan harus berlaku sama rasa sama rata satu dengan yang lainnya sehingga masyarakat mengalami pemerataan ekonomi yang tidak menimbulkan pertentangan yang besar layaknya pertentangan antar kelas.
Saya menyadari bahwa hal yang bersifat utopi yang demikian tidak akan bisa di wujudkan, tetapi setidaknya kita mendekati hal tersebut. Pertentangan memang akan tetap ada hingga sejarah manusia itu sendiri habis, tetapi pertentangan itu akhirnya harus di minimalisir hingga tidak menimbulkan suatu synthese yang baru.
Kembali ke dasar materi, Marx pada dasarnya menamakan filsafat kesejarahannya dengan Historical Materialism. Suatu sejarah yang terjadi karena adanya pertentangan antar kelas yang di dasari pada faktor ekonomi (atau faktor materi). Tetapi saya patut mengkritisi Marx dalam persoalan filsafat ini.
Saya berpendapat Historical Materialism memang merupakan suatu filsafat yang jelas adanya. Ketika kita dihadapi suatu kenyataan bahwa memang pertentangan antar kelas tersebut tidak akan bisa lepas dari faktor materi, tetapi Marx mengesampingkan masalah mistisme yang merupakan bagian yang tak bisa terpisahkan dari sejarah manusia. Walaupun saya sendiri menyadari bahwa hal mistis tersebut diragukan, tetapi setidaknya pengaruh hal tersebut tidak bisa di anggap remeh.
Suatu kemistisan yang di alami oleh manusia merupakan suatu dasar dari kepercayaan manusia terhadap hal gaib, dalam hal ini saya mengatakan bahwa agama manusia yang bersifat konservatif berdasarkan pada hal yang mistis. Seperti kata Feuerbach, agama diciptakan sebagai suatu reaksi dari ketakutan manusia terhadap sesuatu.
Disini letak perbedaan pendapat antara saya dengan senior saya, Marx. Marx hampir-hampir mengesampingkan masalah keagamaan yang juga jadi sebab terjadinya pertentangan antar kelas walaupun memang diakui bahwa faktor ekonomi memang menjadi sebab utama dari sejarah manusia. Argumen saya cukup pada suatu kesimpulan bahwa agama yang dimaksudkan disini adalah agama yang di ekonomikan. Hal ini yang membuat agama tidak suci lagi bagi manusia karena sudah bercampur dengan faktor ekonomi.
Pertentangan antar kelas dalam sejarah juga tidak lepas dari faktor keagamaan seperti yang terjadi pada perang salib, reformasi gereja, ataupun pada masa aufklarung ketika para filsuf sudah mulai gerah dengan gerakan keagamaan yang sudah di ekonomikan. Beberapa faktor lain juga berpengaruh dalam sejarah manusia, tetapi akhirnya kita harus mengakui, manusia saling bertentangan hanya karena adanya masalah kebutuhan.
Tidak bisa di pungkiri lagi bahwa Historical Materialism yang merupakan dasar dari filsafat Marx tentang sejarah mengandung arti bahwa sejarah manusia memang tidak luput dari faktor materi sehingga terjadi pertentangan antar kelas, walaupun seperti pendapat saya tadi bahwa faktor agama memang tidak bisa di remehkan sebagai suatu kekuatan untuk mengontrol sejarah manusia, tetapi dalam hal ini saya berpendapat bahwa faktor agama juga tidak bisa lepas dari faktor kebutuhan atau sistem tersebut menjadi sebuah sistem “agama yang di ekonomikan”.
Dengan sistem yang demikian, manusia akan menjadi gerah dengan agama-agama kolot yang tidak lagi menjadi pusat untuk melindungi diri dari suatu kemerosotan ekonomi tetapi tidak lebih dari sekedar alat kaum feodal dan borjuis untuk menguasai pikiran kaum proletariat agar tetap menjadi kelas yang tertindas selamanya. Mungkin faktor inilah yang membuat Marx menyatakan secara tegas bahwa “Agama adalah suatu candu bagi masyarakat”.
Tetapi saya percaya, setiap agama adalah persepsi pribadi dari individu, oleh karena itu bahkan faktor agama pun tidak lagi bisa menjadi suatu alasan kuat untuk menghasilkan suatu pertentangan antar kelas walaupun sebenarnya itu terjadi bagi agama yang konservatif. Lain halnya dengan agama yang bisa berkembang sesuai dengan aturan zaman seperti agama Islam.
Akhirnya kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa Historical Materialism yang di gagas oleh Marx dan Engels mengandung pengertian bahwa sejarah manusia selama ini merupakan suatu pertentangan kelas dari sejak manusia ada di muka bumi dengan alasan sederhana yaitu suatu faktor kebutuhan, secara luasnya juga mencakup faktor produksi, ekonomi dan agama.
Dengan adanya faktor produksi dan ekonomi, manusia saling bertentangan untuk memperjuangkan haknya masing-masing. Tetapi kalau kita lihat dari perspektif keagamaan, pertentangan antar kelas tidak lebih dari suatu perebutan pengaruh kekuasaan dan dogma. Bagi siapa yang merupakan pemuka agama, pendeta, rahib, atau kyai punya kuasa untuk mendogmakan agama ke masyarakat dan siapa yang menjadi bagian dari jama’ah, rakyat atau proletariat akhirnya menjadi budak dogma yang dihakimi agama sehingga para proletariat tersebut menjadi orang-orang yang taat pada orang-orang suci tersebut (para pemuka agama), bukan pada sistem keagamaannya yang bahkan sebenarnya telah mengatur adanya sejarah pertentangan kelas tersebut.
Sejarah menurut Marx adalah suatu rangkaian peristiwa yang terjadi akibat dari pertentangan antar kelas sejak manusia ada di bumi disebabkan oleh faktor materi. Beberapa teori di atas yang saya kemukakan juga merupakan bagian dari teori filsafat Marx selanjutnya yang bernama Dialectic of Materialism yang merupakan gabungan dari teori Hegel, Marx, dan Engels.


                                                         Opini tentang Sejarah Pertentangan Antar Kelas
                                                                                            (Alvie, 24 November 2014)